31 January 2022, 05:10 WIB

Komunikasi Pembelajaran Bermakna


Khoiruddin Bashori Dewan Pengawas Yayasan Sukma Jakarta |

SEIRING dengan membaiknya situasi pandemi, pembelajaran tatap muka kembali berjalan ‘normal’ meski tetap dengan protokol kesehatan ketat. Kita berharap semoga pola hidup sehat yang telah terbangun baik selama pandemi tetap dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan di masa-masa yang akan datang. Pembelajaran daring, yang selama ini telah berjalan dengan baik, juga dapat dilanjutkan. Jangan sampai begitu pembelajaran tatap muka kembali dilakukan, pembelajaran daring malah dimatikan.

Pembelajaran tatap muka memang dapat memberikan interaksi yang lebih komprehensif. Akan tetapi, membuang pembelajaran daring sama saja dengan menyingkirkan tambahan lauk enak dalam sebuah perjamuan. Pembelajaran daring bukan saja menambah selera, tetapi juga dapat memperkaya sumber belajar. Siswa tidak lagi sepenuhnya menjadikan guru sebagai sumber belajar utama, tetapi memiliki sumber belajar alternatif yang dalam banyak hal terkadang lebih menjanjikan.

Kedua model ini, pembelajaran tatap muka (PTM) dan pembelajaran jarak jauh (PJJ), semestinya dapat saling melengkapi. Kelemahan PJJ dapat disempurnakan dengan PTM. Demikian pula sebaliknya, karena satu dan lain hal, kendala lapangan yang tidak memungkinkan PTM berlangsung dengan optimal dapat diatasi dengan PJJ. Kedua model menuntut kemampuan komunikasi, baik dari pendidik maupun warga belajar.

 

 

Komunikasi bermakna

Komunikasi adalah semacam jembatan yang akan menghubungkan hati para pihak. Kualitas koneksi-- apakah kontak kita dengan orang lain khususnya warga belajar, dangkal atau mendalam--bergantung pada seberapa besar makna yang dihasilkan dari dinamika komunikasi dimaksud. Bangunan hubungan difasilitasi oleh komunikasi yang bermakna. Berita baiknya, komunikasi merupakan seperangkat keterampilan. Kita dapat mempelajari dan menerapkan strategi yang tepat untuk membangun hubungan yang lebih baik, serta mendapatkan kedalaman makna yang lebih besar.

Kemampuan berkomunikasi sangat penting untuk menjadi pendidik yang efektif. Komunikasi tak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga upaya memotivasi, memodifikasi sikap, dan merangsang pemikiran. Tanpa kemampuan tersebut, yang berkembang ialah stereotip, pesan terdistorsi, dan aktivitas belajar menjadi sangat tidak menyenangkan. Komunikasi adalah proses pemahaman dan berbagi informasi. Di sini kemampuan mendengarkan memainkan peran penting, di samping kepiawaian menyampaikan pesan.

Komunikasi intrapersonal menyangkut perencanaan, pemecahan masalah, pembicaraan dengan diri sendiri, dan evaluasi diri. Komunikasi internal ini merupakan proses berkelanjutan untuk mempersiapkan diri agar dapat berbicara dengan orang lain secara lebih ringkas dan jelas. Adapun komunikasi interpersonal merupakan upaya berbagi makna antara diri sendiri dan setidaknya satu orang lainnya. Tujuan komunikasi interpersonal adalah untuk mengirim pesan yang relevan dan objektif.

Individu berkomunikasi dengan orang lain tidak hanya secara lisan, tetapi juga dengan tindakan. Oleh karena itu, dalam mengirim pesan, kita perlu menyadari penampilan, gerakan, postur, kontak mata, penggunaan ruang, gerakan tubuh, apa yang kita bawa, seberapa dekat kita berdiri atau duduk bersama orang lain, dan ekspresi wajah. Apabila apa yang kita katakan bertentangan dengan perilaku nonverbal yang ditunjukkan, bisa jadi muncul ketidakpercayaan dan kebingungan karena pendengar lebih percaya dengan apa yang mereka lihat.

Pembelajaran yang dialogis antara pendidik dan siswa dapat menjadi bagian pembelajaran yang menantang dan inspiratif. Komunikasi efektif dapat membantu membangun dan menumbuhkan lingkungan belajar yang aman. Dalam situasi pembelajaran yang kondusif, siswa dapat berkembang, belajar, dan membangun mimpi untuk menjadi pribadi yang cakap, percaya kepada diri sendiri, dan berguna bagi masyarakat dan negara.

 

 

Empat pilar

Finkelstein (2013) menyarankan empat hal yang dapat membuat komunikasi lebih bermakna. Pertama, add value (tambahkan nilai). Orang selalu ingin mendengar sesuatu yang tidak mereka ketahui. Dalam komunikasi persuasif, sebaiknya kita menawarkan informasi atau konsep baru kepada audiens, apa yang mereka belum ketahui. Pendidik perlu memiliki pengetahuan tentang apa yang sudah diketahui warga belajar sebelum mengajarkan sesuatu yang baru. Ini dapat dilakukan dengan riset pendahuluan, atau hanya dengan sekadar bertanya.

Kedua, be relevant (berusaha relevan). Pastikan konten yang kita ajarkan membantu dan bermanfaat bagi warga belajar. Karena itu, pembelajaran juga perlu memperhatikan tingkat kesesuaian dengan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman peserta didik. Coba cari tahu apa yang dibutuhkan dan diinginkan warga belajar. Dalam banyak kasus, berikan kepada mereka informasi yang memang benar-benar bermanfaat. Sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Pembelajaran yang lepas konteks akan terasa membosankan.

Ketiga, be accurate (belajar akurat). Kenali warga belajar dengan baik. Idealnya, pendidik menyampaikan topik yang dikuasai dengan baik. Jika perlu, lakukan penelitian dengan menggunakan sumber yang dapat diandalkan. Menjadi akurat tidak berarti harus memasukkan semua bagian data dan konten yang ditemukan tentang suatu topik. Saring apa yang akan disampaikan, batasi pada substansi. Tidak jarang pendidik justru terjebak pada hal-hal yang sebenarnya kurang relevan.

Keempat, be clear and organized (usahakan jelas dan terstruktur). Setelah kita memutuskan apa yang akan diajarkan, atur dan jelaskan sebening kristal. Gunakan grafik yang bermakna, beri tahu cerita, buat analogi, dan jangan lupa berikan contoh. Penyampaian yang jelas, dengan cara yang terstruktur dan bervariasi, akan menghidupkan suasana pembelajaran. Informasi yang dikomunikasikan akan lebih mudah diterima dengan penuh gairah.

 

 

Sabar dan empati

Komunikasi pembelajaran bermakna memerlukan kesabaran. Biarkan siswa mengatur kecepatan bicara. Beri waktu lebih kepada mereka untuk memikirkan apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengatakannya. Pendidik perlu menjadi lebih berempati. Berempati berarti memahami kondisi orang lain dari sudut pandang mereka. Tidak mengapa kita tidak setuju dengan pendapat warga belajar. Namun, beri kesempatan mereka untuk sesaat melepaskan ide-ide yang sudah dipikirkan. Pendidik dapat memperbaiki posisi dengan lebih baik setelah memahami perspektif siswa.

Komunikasi dalam proses pembelajaran bukan sekadar upaya penyampaian informasi dari pendidik kepada warga belajar. Ia juga menyangkut proses transformasi nilai-nilai yang hanya mungkin jika pendidik memiliki kedekatan emosional dengan peserta didik. Manakala komunikasi pedagogis dilakukan secara mekanis dan semata bersifat kognitif, yang terjadi ialah pengajaran dan bukan pendidikan. Pengajaran yang lebih berupa transmisi informasi pengetahuan, tanpa memiliki kedalaman, tanpa penyemaian nilai-nilai dasar yang menjadi basis bagi pengembangan diri siswa di kemudian hari.

BERITA TERKAIT