31 January 2022, 05:05 WIB

Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran


Azwar Anas Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe |

PEMBELAJARAN sebagai proses interaksi siswa dengan guru yang bertukar informasi dan pikiran tentunya melibatkan berbagai aspek. Komunikasi sebagai salah satu bagian dari interaksi dalam belajar merupakan hal yang sangat penting dan menjadi penentu keberhasilan sebuah pembelajaran. Raymond S Ross mendefinisikan komunikasi sebagai proses transaksional yang meliputi pemisahan dan pemilihan bersama lambang secara kognitif. Bahkan, dalam tinjauan psikologi, komunikasi diartikan sebagai penyampaian perubahan energi dari suatu tempat ke tempat yang lain seperti dalam sistem saraf atau penyampaian gelombang-gelombang suara dan penyampaian atau penerimaan sinyal oleh organisme.

Komunikasi sangat erat kaitannya dengan otak manusia sebagai sel saraf pusat penerima rangsangan. Bisa dibayangkan setidaknya ada 14 juta sel saraf dalam otak yang menyambungkan akson dan soma sebagai pengantar informasi dari otak ke indra-indra manusia. Otak manusia sendiri tak ubahnya seperti komputer yang mampu menampung 280 quintilion bit informasi atau setara dengan 1 disket (1,4 MB) atau sekitar 200 halaman ketikan dengan MS Word. Artinya ada jutaan, miliaran, bahkan triliunan informasi yang dapat dimasukkan ke dalam otak manusia. Manusia paling super sekalipun dikatakan hanya menggunakan tidak lebih dari 1% kemampuan otaknya (Alwi, 2011). Maka, informasi yang diterima otak manusia harus benar-benar tersampaikan dengan baik demi berlangsungnya fungsi otak dengan maksimal, dan hal itu akan dicapai dengan membangun komunikasi yang efektif.

 

 

Komunikasi tidak Efektif

Guru sebagai pendidik acap kali abai dalam membangun komunikasi yang baik dalam pembelajaran. Padahal komunikasi sangat penting demi terwujudnya tujuan pembelajaran. Komunikasi dalam pembelajaran secara sederhana dapat diartikan sebagai proses pertukaran ide dan gagasan antara guru dan siswa. Maka dari itu, komunikasi dalam pembelajaran harus berjalan efektif sehingga dapat meningkatkan prestasi dan hasil belajar mengajar.

Kecakapan guru dalam membangun komunikasi dalam pembelajaran menjadi titik pangkal terjadi atau tidaknya komunikasi yang efektif. Guru yang tidak cakap dalam berkomunikasi akan berdampak pada komunikasi yang tidak efektif dan akan berakibat pada hasil pembelajaran yang tidak maksimal. Setidaknya ada beberapa kesalahan guru dalam mengajar yang terkait dengan komunikasi yang tidak efektif dan berdampak pada prestasi belajar mengajar di dalam kelas, seperti mengucapkan atau menjelaskan dengan menggunakan kata-kata yang membingungkan dan tidak dapat dimengerti oleh siswa, misalnya dengan menggunakan istilah-istilah yang terdengar asing dan baru bagi mereka.

Guru menganggap siswa mampu memahami dan mencernanya, padahal ada siswa yang mungkin belum pernah mendengarnya, apalagi mengetahui maksudnya. Selain itu, dalam berkomunikasi, guru terkadang juga menggunakan bahasa atau kata-kata yang berbelit-belit dan tidak efektif. Pemborosan kata yang digunakan guru menjadikan siswa bingung dan tidak dapat menangkap apa yang disampaikan guru.

Ada juga tipe guru yang dalam berkomunikasi menggunakan volume suara yang rendah dan tidak jelas sehingga tidak terdengar oleh siswa yang duduk di barisan belakang di dalam kelas dan akan berdampak pada pengalihan perhatian siswa kepada sesuatu yang lain di luar pembelajaran. Dalam hal lain, terkadang guru dalam berkomunikasi masih terjadi ketidaksesuaian antara komunikasi verbal dan nonverbal. Padahal seharusnya keduanya saling berkait untuk menunjang komunikasi yang efektif.

Komunikasi nonverbal dapat dijadikan salah satu alternatif untuk mencapai pembelajaran berkualitas. Ada banyak cara komunikasi nonverbal yang dapat dimanfaatkan guru untuk mengomunikasikan maksudnya, seperti mengangkat alis sebagai tanda marah, tersenyum sebagai tanda suka, dan mengangkat bahu sebagai tanda tidak peduli.

Komunikasi satu arah antara guru dan siswa juga masih terjadi, di mana guru sangat aktif dalam pembelajaran, sedangkan siswa dibiarkan berperilaku pasif. Siswa hanya menerima apa yang guru sampaikan sehingga dalam pembelajaran tidak ada umpan balik dan siswa hanya menjadi pendengar yang pasif tanpa mengeluarkan ide atau gagasan apa pun.

Komunikasi yang paling tidak efektif dalam pembelajaran terjadi juga ketika guru memberikan label negatif kepada siswa, yang berpengaruh terhadap kejiwaan mereka. Dengan begitu, siswa akan melakukan perlawanan dan bisa jadi akan membenci sang guru atau menjadi siswa yang pasrah dan penakut (Masykur, 2013).

 

 

Komunikasi efektif

Stewart L Tubbs dan Sylvia Moss (Alwi, 2011) menjelaskan bahwa untuk membangun komunikasi efektif setidaknya harus menimbulkan lima hal, yaitu pengertian, pengaruh pada sikap, kesenangan, hubungan yang semakin baik, dan tindakan. Dalam komunikasi efektif, pengertian menjadi kunci utama sebagai penentu keberhasilan suatu komunikasi. Pengertian secara sederhana diartikan bahwa penerima komunikasi dapat menerima pesan sebagaimana yang dimaksudkan oleh komunikator dan tidak disalahartikan. Komunikasi berhasil dengan sukses ketika penerima pesan dapat menangkap dengan baik apa yang dikomunikasikan.

Selain itu, komunikasi berarti efektif jika dapat memengaruhi sikap seseorang. Paling sering kita temui bagaimana komunikasi yang berpengaruh terhadap sikap seseorang, seperti khatib dalam membangkitkan sikap beragama seseorang, politisi dalam membangun citra bagi pemilihnya, dan berbagai contoh lain yang bisa kita jumpai dalam keseharian. Hal ini juga dapat dilakukan oleh guru terhadap siswanya dengan cara sederhana, seperti menceritakan kisah-kisah motivasi dengan mengomunikasikannya secara serius dan menyenangkan. Atau mengomunikasikan sesuatu disertai dengan bahasa dan gerak tubuh yang sesuai dan beragam cara lain yang dapat ditempuh guru.

Kesenangan sebagai salah satu hal dalam membangun komunikasi efektif diidentikkan dengan sapaan atau percakapan yang mampu memberikan kesan nyaman dan menyenangkan pagi penerima atau lawan komunikasi seseorang. Dalam konteks pembelajaran, hal ini dapat dilakukan guru dengan menyapa dan berbicara kepada peserta didik dengan merangsang rasa kegembiraan mereka. Jika itu dilakukan dengan baik, penerima komunikasi akan merasa senang dan mampu menciptakan komunikasi efektif sehingga hubungan di antara keduanya terus membaik.

Puncak dari efektifnya suatu komunikasi ialah adanya tindakan dari lawan bicara. Dalam konteks guru dan siswa, komunikasi berarti efektif jika siswa menunjukkan tindakan dari apa yang dikomunikasikan. Tindakan dapat berupa penyampaian melalui kata-kata atau perilaku. Jika hal itu telah ditunjukkan, berarti komunikasi telah dijalankan dengan sukses. Mari wujudkan komunikasi efektif dalam pembelajaran.

BERITA TERKAIT