21 January 2022, 05:15 WIB

Omikron, Fenomena Blessing in Disguise?


Iqbal Mochtar Dokter dan doktor bidang kedokteran dan kesehatan, Ketua Perhimpunan Dokter Indonesia Timur Tengah | Opini

BADAI omikron menyapu dunia. Dengan penyebarannya yang cepat dan sporadis, varian itu menyerang banyak negara. Per 18 Januari, lebih 90 negara telah terasuki oleh varian itu. Varian itu memang bertransmisi cepat, meningkat dua kali lipat hanya dalam 1,5 hingga tiga hari. Amerika, Inggris, dan Prancis kini berjibaku dengan varian itu.

Pada tingkat global, jumlah kasus covid-19 saat ini mencapai 373 per 1 juta populasi. Padahal, sebelumnya, puncaknya hanya 105 per 1 juta populasi. Omikron dianggap biangnya. Masyarakat cemas. Penyebaran cepat itu dikhawatirkan memicu eskalasi kefatalan, perawatan rumah sakit, dan kematian. Ini logis, peningkatan kasus memang umumnya berbanding lurus dengan kefatalan.

 

Blessing in disguise?

Menariknya, sebagian ahli justru menganggap kemunculan omikron ini sebagai fenomena blessing in disguise. Sesuatu yang tidak diharapkan, tetapi malah membawa keuntungan. Alasannya beragam. Pertama, meski penyebarannya sangat cepat, beberapa studi melaporkan efek klinis omikron tidak berat. Kebanyakan pasien hanya mengeluh nyeri tenggorok, beringus, dan badan lemah. Beda dengan pasien varian delta, yang muncul dengan keluhan batuk hebat, sesak napas, dan penurunan saturasi. Masa keluhannya juga hanya 4-5 hari.

Sebuah studi di Afrika Selatan melaporkan, selama badai omikron, hanya 41% pasien yang memerlukan perawatan rumah sakit, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan masa varian delta merajalela, yaitu 69%. Pasien yang membutuhkan oksigen hanya 17%, sangat rendah jika dibandingkan dengan saat varian delta yang berkisar 74%. Analisis multidata di Inggris melaporkan hal senada, orang yang terinfeksi oleh omikron memiliki 50%-70% lebih rendah kemungkinan dirawat di rumah sakit jika dibanding dengan varian delta.

Kedua, studi juga melaporkan orang yang terinfeksi oleh omikron ternyata memproduksi double-antibody tidak hanya terhadap omikron, tetapi juga terhadap delta. Bahkan, antibodi untuk varian delta jumlahnya berkali-kali lipat. Artinya, setelah terinfeksi oleh omikron, orang tidak hanya kebal terhadap omikron, tetapi juga terhadap delta.

Semakin tinggi prevalensi populasi yang terinfeksi oleh omikron, semakin tinggi kekebalan terhadap varian delta. Dengan kondisi ini, dominasi varian delta yang serius bisa digantikan varian omikron yang kurang letal. Bila itu terjadi, pandemi akan didominasi omikron yang, walaupun penyebarannya luas, tingkat kefatalannya rendah. Widespread, but mild.

Ketiga, muncul hipotesis baru di era omikron ini. Namanya super-immunity atau kekebalan super. Beberapa studi melaporkan orang yang telah divaksin, tetapi terinfeksi lagi dengan varian omikron, mengalami peningkatan kadar antibodi luar biasa. Alasannya, terjadi hybrid immunity akibat gabungan antibodi pascavaksin dan pascainfeksi.

Gabungan itu memicu antibodi kelas super. Orang yang memiliki super-immunity menjadi sangat kebal dan resistan terhadap infeksi covid-19 dari varian apa pun. Konsep itu digaungkan peneliti dari Oregon Health and Science University dan telah dipublikasikan pada Journal of American Medical Association. Peneliti melaporkan kemanjuran super-immunity itu lebih 10 kali lipat dari kemanjuran dua dosis vaksin.

Keempat, secara teoretis, proses meredanya pandemi melewati lima fase, yaitu fase puncak, deselerasi, kontrol, eliminasi, dan eradikasi. Eradikasi ialah fase paling diharapkan, yaitu virus benar-benar hilang dari muka bumi. Namun, mengingat penyebarannya yang sudah masif, kecil kemungkinan pandemi saat ini akan tiba pada fase eradikasi.

Terlepas dari itu, proses transisi dari satu fase ke fase lain biasanya ditandai munculnya varian yang kurang fatal. Dengan alasan teoretis itu, sebagian ahli menganggap badai omikron ialah fase transisi menuju fase terkontrol atau tereliminasi.

 

Harapan prematur

Alasan-alasan di atas ternyata tidak meyakinkan sebagian ahli. Mereka pesimistis omikron penanda berakhirnya pandemi. Pertama, meski omikron berpotensi mendominasi pandemi dan meringankan magnitude pandemi, tidak ada jaminan omikron ialah varian terakhir. Varian-varian lain berpotensi muncul bila penanganan global belum memuaskan, termasuk bila asimetritas cakupan vaksin masih besar.

Pada tingkat global, 10 miliar dosis vaksin telah disuntikkan. Meski demikian, 40% penduduk bumi belum mendapat satu dosis pun. Kondisi asimetritas itu berpotensi melahirkan varian-varian baru yang kefatalannya belum bisa diprediksi. Mungkin tidak fatal, mungkin juga lebih fatal daripada delta. Bila akhirnya muncul varian lain dengan penyebaran dan kefatalan besar, dominasi omikron akan tergantikan oleh varian fatal itu. Dunia makin porak-poranda.

Kedua, studi-studi yang melaporkan omikron bersifat ringan dan merangsang super-immunity masih studi pendahuluan dan terbatas. Hanya dilaporkan beberapa studi di beberapa negara dengan jumlah sampel terbatas. Belum ada studi global. Durasinyapun singkat, kurang dari tiga. Artinya, belum konklusif dan komprehensif.

Ketiga, masih ada keraguan, apakah varian omikron benar-benar ringan. Alasannya, laporan tentang ringannya aspek klinis omikron didasarkan pada subjek yang sebagian besar telah menerima vaksin atau pernah terinfeksi sebelumnya. Artinya, mereka telah memiliki antibodi. Ketika omikron menyerang mereka, antibodi yang telah ada memberikan proteksi dan membuat keluhan serta kefatalan menjadi ringan. Kasarnya, ada pengaruh vaccine-effect.

Bagaimana bila omikron itu menginfeksi orang yang belum pernah terinfeksi atau belum mendapat vaksin? Apakah keluhannya akan tetap ringan dan tidak fatal? Ini menjadi pertanyaan penting sebelum berkesimpulan bahwa varian ini benar-benar ringan dan tidak fatal. Apalagi hingga kini masih ada 40% penduduk bumi yang belum mendapat satu dosis vaksin pun.

Dengan beragam alasan di atas, masih terlalu prematur mengklaim omikron ialah blessing in disguise, yang akan membawa manusia keluar dari pandemi. Kenyataanya, pada tingkat global, figur kasus covid-19 masih terus berfluktuasi. Belum ada tren penurunan.

Terkait dengan mortalitas, terdapat penurunan signifikan angka kematian (death rate) dan angka kefatalan (case fatality rate). Saat ini, death rate global ialah 0,7 per 1 juta penduduk, jauh lebih rendah daripada puncak sebelumnya 1,8 per 1 juta penduduk. Case fatality rate juga menurun dari puncak 7,3% menjadi 0,6%. Artinya, saat ini dari 1.000 orang yang terkonfirmasi positif yang meninggal 6 orang.

Beberapa negara bahkan telah mencapai level di bawah 0,1%. Sebuah penurunan signifikan. Ini mengisyaratkan dari hari kehari tingkat kefatalan covid-19 menjadi makin berkurang. Saat yang sama, program vaksinasi makin gencar dilakukan dan cakupan vaksinasi juga terus meningkat. Ini merupakan faktor kondusif.

Dengan beragam faktor kondusif tersebut, yang berpotensi terjadi pada 2022 ialah metamorfosis status pandemi menjadi endemi. Virus covid-19 masih belum hilang dan masih akan terus bersirkulasi. Sifatnya pun scattered, hilang timbul dari satu daerah ke daerah lain. Namun, tingkat keparahan dan kefatalannya akan terus berkurang, menjadi rendah, bahkan bisa menyerupai tingkat kefatalan virus seasonal flu. Ini belum terlalu meggembirakan, tetapi paling tidak lebih baik daripada kondisi saat ini.

BERITA TERKAIT