06 January 2022, 05:00 WIB

Selamat Datang 2022, Apa Kabar Iklim Indonesia?


Dwikorita Karnawati Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofi sika (BMKG), anggota Badan Eksekutif Organisasi Meteorologi Dunia, Komite Pengarah dalam Global Ocean Observing System | Opini

JANGAN pernah menyepelekan cuaca. Sejarah mencatat, Nazi harus mengubur mimpi mereka menguasai Uni Soviet karena tidak mengantisipasi musim dingin ekstrem yang melanda saat itu. Operasi Barbarossa gagal total dan Nazi harus pulang dengan kekalahan. Pun, dengan ambisi imperialisme Napoleon Bonaparte yang ambyar lantaran cuaca yang tak bersahabat. Bonaparte harus bertekuk lutut dalam pertempuran Waterloo pada Juni 1816, yang selanjutnya mengubah jalannya sejarah Eropa.

Realitas kekinian Planet Bumi semakin kompleks dan tidak pasti akibat perubahan iklim global. Frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem dan anomali iklim pun semakin meningkat berkali lipat jika dibandingkan degnan tahun-tahun sebelumnya, ditambah ulah dan perilaku manusia yang merusak lingkungan. Lantas seperti apa gambaran iklim pada 2022 ini?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhir Desember 2021 lalu baru saja meluncurkan Climate Outlook 2002 yang memprediksi bahwa curah hujan tahunan pada 2022 sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan normalnya. Kondisi normal adalah rata-rata kondisi iklim dalam periode referensi pada 1981-2010.

Wilayah Indonesia secara rata-rata mendapatkan normal curah hujan tahunan sebesar 2.000 mm. Namun, itu bervariasi secara keruangan antara 500 mm dan 4.000 mm per tahun. Pada 2022, jumlah curah hujan tahunan lebih dari 2.500 mm berpotensi terjadi di Sumatra, utamanya sekitar Pegunungan Bukit Barisan, sebagian Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Curah hujan tahunan kurang dari 1.500 mm berpotensi terjadi di NTB, NTT, dan Sulawesi Tengah.

Terkait dengan sebaran hujan bulanan pada 2022, BMKG memprediksi curah hujan sepanjang Januari hingga Oktober secara umum akan sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan normalnya. Pada November dan Desember curah hujan diprediksi sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan normalnya. Sementara itu, jika dibandingkan dengan curah hujan pada 2021, secara umum curah hujan 2022 diprediksi akan lebih rendah. Khususnya, untuk Januari, Maret, Mei, September, Oktober, dan November 2022.

 

 

Tren suhu lebih tinggi

Tren suhu 2022 diprediksi lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata normalnya sebesar 26,6 derajat celsius. Tren kenaikan suhu juga terjadi secara terus-menerus di Indonesia. Beberapa catatan tahun terpanas antara lain 2016, yang merupakan tahun terpanas dengan nilai anomali sebesar 0,8° C sepanjang periode pengamatan 1981 hingga 2020. Suhu udara rata-rata tahunan 2021 ialah 27,0° C dan menempati urutan ke-8 tahun terpanas dengan nilai anomali sebesar 0,4°C. Tahun 2020 dan 2019 menempati urutan kedua dan ketiga tahun terpanas dengan nilai anomali masing-masing sebesar 0,7° dan 0,6° C.

Meskipun curah hujan 2022 diprediksi sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan curah hujan 2021, potensi bencana hidrometeorologi tetap perlu diwaspadai. Terutama pada wilayah yang diprediksi mendapatkan curah hujan bulanan di atas normal seperti Sumatra bagian tengah hingga utara, Kalimantan bagian timur dan utara, Jawa bagian barat, sebagian Sulawesi, Nusa Tenggara bagian timur, Maluku, dan Papua pada Januari.

Kemudian, sebagian Sumatra, sebagian Jawa, Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku bagian utara, dan Papua pada Februari. Terakhir, Sumatra bagian utara, Jawa, Kalimantan bagian utara, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan sebagian Papua pada Maret.

Pemerintah daerah dan masyarakat harus mewaspadai, mengantisipasi, dan melakukan aksi mitigasi guna menghindari dan mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. Jangka panjangnya, pemerintah perlu melakukan evaluasi dan penyempurnaan tata ruang dan tata kelola air dengan mempertimbangkan pengaruh dan dampak perubahan iklim, baik pada tingkat global, regional, maupun lokal, sebagai langkah antisipasi terhadap semakin meningkatnya frekuensi dan intensitas multibencana hidrometeorologi.

 

 

Fenomena La Nina

Terkait dengan ancaman fenomena La Nina, prediksi indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) oleh BMKG menunjukkan La Nina berpotensi terus berlangsung setidaknya hingga April 2022, dengan intensitas mencapai level moderat, yang diikuti dengan peralihan ke fase netral. Pusat layanan iklim dunia lainnya juga memperkirakan La Nina akan terus terjadi pada awal 2022, dengan intensitas lemah hingga moderat. Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) diperkirakan terus berada pada fase netral sepanjang 2022.

Dengan ENSO fase netral, tetap perlu diwaspadai sejumlah risiko di bidang pertanian pada saat musim kemarau, seperti menurunnya produk dan kualitas hasil pertanian, berkembangnya hama penyakit tanaman, penyerbukan yang tidak sempurna, dan pergeseran awal musim tanam. Kewaspadaan harus terus ditingkatkan mengingat cuaca dan iklim di Indonesia begitu dinamis dengan memantau perkembangan iklim melalui informasi BMKG.

Untuk sektor kesehatan, mengacu pada Outlook Iklim 2022, wilayah-wilayah dengan sifat hujan pada kondisi normal hingga atas normal untuk musim-musim penghujan perlu mewaspadai kenaikan kasus DBD pascamusim hujan dan penyakit lainnya yang memiliki kebergantungan tidak langsung terhadap iklim.

Untuk sektor sumber daya air, dengan memperhatikan curah hujan tinggi pada musim hujan, curah hujan tinggi perlu dimanfaatkan untuk pengelolaan sumber daya air jangka panjang. Terutama pada bendungan-bendungan besar multiguna untuk membangun ketahanan sumber daya air pada saat musim kemarau.

 

 

Pijakan kebijakan

Di sektor perikanan dan kelautan, perlu diperhatikan dampak langsung berupa berkurangnya wilayah pesisir akibat abrasi gelombang laut dan rusaknya kawasan ekosistem pesisir akibat gelombang pasang, yang juga menimbulkan dampak tidak langsung berupa hilangnya atau berubahnya mata pencaharian masyarakat di sekitar pesisir. Area persawahan dataran rendah yang berada di wilayah pesisir juga dapat terdampak, yang secara keseluruhan dapat memengaruhi ketahanan pangan.

Terkait dengan suhu muka laut (SML) Indonesia, awal 2022 kondisi SML di wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah diprediksikan normal. Namun, kondisi SML di wilayah Indonesia bagian timur diprediksi hangat, yang bertahan sampai Juli 2022.

Akhirnya, gambaran iklim 2022 ini diharapkan bisa menjadi pijakan dalam pengambilan kebijakan pemerintah, baik pusat hingga daerah di berbagai sektor, dalam menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan dan berketahanan terhadap bencana. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi Republik ini, dari bencana dan marabahaya. Selamat datang 2022.

BERITA TERKAIT