26 December 2021, 05:00 WIB

Harapan di Tengah Kesuraman


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

KURANG lebih dua tahun sudah penyakit yang disebabkan virus korona mewabah. Kita lazim menyebutnya covid-19. Selain menggerogoti kesehatan, ia juga melumpuhkan ekonomi dan memorakporandakan tatanan sosial. Di awal pandemi merebak, manusia terpaksa dikurung dan dibatasi dalam beraktivitas. Hingga hari ini kita bahkan tidak bisa bergerak bebas tanpa masker dan hand sanitizer. Hubungan antarsesama pun kini lebih banyak virtual, entah itu melalui layar ponsel maupun komputer.

Inilah krisis yang menampar kemanusiaan kita. Satu pelajaran yang bisa dipetik dari wabah ini ialah bahwa kita harus belajar lebih aware lagi dengan patogen. Bukan lagi sekadar menghafal kapan Louis Pasteur pertama kali melihat penampakan mikroba seperti yang diajarkan guru-guru kita di sekolah menengah. Amatlah bijak jika dua tahun krisis yang melanda dunia belakangan ini, dapat dijadikan bahan evaluasi atas semua perilaku kita di planet ini. Jangan cuma virus yang pandai bermutasi.

Pandemi telah menunjukkan bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari kehadiran invasi makhluk kecil yang bernama bakteri, kuman, ataupun virus. Kita hidup bersama mereka. ‘Tidak ada planet B’, begitu istilah Greta Thunberg, aktivis muda yang kerap lantang berteriak soal perubahan iklim. Kata para ahli, mereka (makhluk-makhluk kecil itu) bereaksi terhadap tindakan kita yang merusak dan mengganggu habitat dan ekosistem mereka.

Pandemi ini ialah peringatan. Ia menjadi awal penanda akan bahaya yang mungkin jauh lebih besar. Kita tidak pernah tahu patogen apalagi yang akan muncul di masa depan. Satu hal yang pasti, para ilmuwan yang selama ini kerap bekerja dalam ruang-ruang senyap, tetap tekun meneliti dan mencari solusi bukan cuma berteori seperti halnya sebagian politisi. Dalam dua tahun terakhir di tengah kesuraman ini, kita pun melihat sisi terang pada solidaritas antarsesama anak bangsa. Kerja sama kolektif ini yang harus dijaga, jangan sampai ikut tergerus cuma gegara virus.

Kolaborasi semacam inilah yang diperlukan di tengah krisis ini, tidak hanya di tingkat lokal, tapi juga global. Tanpa distribusi vaksin yang merata, jangan pernah berharap pandemi ini mereda. Meski di sisi lain, perkara ini juga masih menjadi persoalan di sejumlah negara eropa. Ini memang soal pilihan, mengagungkan prinsip kebebasan atas nama hak asasi atau menderita dan mati di tengah konsekuensi terburuk dari krisis ini. Sialnya, lagi-lagi seperti kata Thunberg, ‘There’s no planet B’ dan manusia kini makin terhubung.

Jadi, apakah salah untuk percaya dan berharap krisis ini akan segera berakhir? Bukan perkara mudah memang. Semua tergantung pada sikap dan perilaku kita selaku khalifah di atas bumi ini. Namun, percayalah segelap dan sesuram apa pun, pasti ada titik terang di ujung sana meski mungkin samar. Lagi pula, bukankah lebih baik menyalakan lilin ketimbang terus-menerus mengutuki gelap? Selamat Natal dan menyongsong Tahun Baru. Selamat berkontemplasi dan beresolusi.

BERITA TERKAIT