08 December 2021, 05:00 WIB

Tekfin dan Masa Depan Perbankan Syariah


Faizi Dosen Tetap Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Doktor Bidang Keuangan dan Perbankan Syariah Universitas Utara Malaysia | Opini

DEWASA ini, sistem keuangan dan perbankan syariah di dunia, tak terkecuali di Indonesia, sedang menghadapi tekanan atau gangguan global revolusi industri 4.0 akibat perkembangan teknologi digital dan internet of things (IoT). Revolusi industri hadir dalam empat domain, yakni pertama ekonomi digital (digital economy). Kedua kecerdasan buatan (artificial intelligence). Ketiga volume data besar (big data). Keempat robotik (robotic).

Tak ayal, industri 4.0 merupakan fenomena yang tak terhindarkan dan harus diterima sebagai realitas objektif. Implikasi langsung dari industri 4.0 ialah munculnya perusahaan rintisan atau startup berbasis teknologi jasa keuangan (financial technology/tekfin) di Eropa sejak 2010 (Saksonova dan Merlino, 2017). Tekfin menawarkan keunggulan komparatif jika dibandingkan dengan produk dan jasa keuangan tradisional, seperti lebih mudah, cepat, dan murah.

Tantangan nyata hadirnya teknologi keuangan mengubah struktur perbankan dan pasar keuangan secara signifikan. Di Indonesia, perubahan struktur pasar keuangan, salah satunya ditandai dengan kehadiran berbagai model pembayaran dan transaksi keuangan nonbank, seperti Gopay, Transpay, e-Wallet, e-Money, dsbnya.

Sementara itu, pasar jasa keuangan dan perbankan konvensional berkembang pesat dan relatif lebih mudah karena beberapa faktor, yakni pertama alami (nature). Kedua ramah pelanggan dan pasar (user and market friendly). Ketiga fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan (customer). Keempat mudah diakses dan dioperasikan. Kelima bisa digunakan di mana dan kapan saja—tidak terikat tempat dan waktu (anywhere and anytime).

Jika dibandingkan dengan layanan pembayaran dan transaksi perbankan yang high regulated dan ajek (fixed), dinamika perkembangan pasar sektor perbankan tertinggal jauh dari pasar keuangan nonbank yang relatif progresif. Situasi ini jelas mengancam pangsa pasar sektor perbankan, termasuk perbankan syariah. Jika ditinjau dari aspek regulasi, perbankan syariah jauh lebih high regulated jika dibandingkan dengan perbankan konvensional karena adanya kewajiban untuk mematuhi peraturan dan perundang-undangan negara, dan pemenuhan prinsip syariah (shariah compliance). Tak dimungkiri, hal ini turut menjadi tekanan tersendiri bagi perbankan syariah dan sangat mungkin berdampak pada menurunnya daya saing atas perbankan konvensional.

 

 

Lebih kecil

Pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan pangsa pasar perbankan konvensional, yakni sekitar 10,11% per Juli 2021, dan akan lebih tertekan lagi dengan hadirnya tekfin dengan pelbagai bentuk dan variannya. Produk dan jasa keuangan yang ditawarkan perbankan syariah yang dianggap ‘rumit’ dan relatif mahal, berpotensi menyebabkan pelanggan beralih ke layanan keuangan berbasis teknologi informasi, yang memiliki keunggulan komparatif jika dibandingkan dengan layanan tradisional yang ditawarkan perbankan syariah.

Rendahnya pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia ialah sebuah ironi. Mengingat, Indonesia merupakan negara dengan populasi penduduk muslim terbesar di dunia, yakni sekitar 231 juta orang pada 2021 (Worldpopulationreview.com, 2021). Hal ini bertentangan dengan arus utama (mainstream) pemikiran ontologis yang mengonfirmasi bahwa pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia seharusnya jauh lebih besar daripada pangsa pasar perbankan konvensional.

Gangguan tekfin di pasar keuangan, dan perbankan berpeluang besar menghancurkan pangsa pasar perbankan syariah yang kecil (10,11%) sehingga pertumbuhan pasar perbankan syariah yang memang sudah lambat akan menjadi kian lambat dan semakin tertinggal.

Namun demikian, di sisi lain, tekfi n juga menumbuhkan potensi pasar yang belum pernah ada sebelumnya, dan itu dapat digarap dengan maksimal melalui strategi bisnis berbasis teknologi. Lebih-lebih, tekfin yang dijalankan dengan prinsip syariah mendapatkan lampu hijau dengan keluarnya Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI) Nomor 117/2018 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah. Karena itu, fenomena tekfin dapat dipandang sebagai ancaman serius dan sekaligus peluang bagi pasar perbankan syariah di Indonesia.

Fenomena ini harus diapropriasi, melalui inovasi produk dan layanan keuangan baru sesuai permintaan pasar yang terus berkembang dengan cepat dan agresif.

Produk syariah, sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem perbankan syariah secara keseluruhan, praktis menjadi roh tunggal yang harus dijaga secara konsisten, baik kualitas maupun kuantitasnya. Seiring dengan meningkatnya tren keuangan syariah, lembaga-lembaga keuangan di seluruh dunia terdorong untuk mengembangkan dan melakukan inovasi produk dan layanannya secara kreatif dan inovatif, selaras dengan ketentuan hukum yang berlaku (baik hukum positif maupun hukum Islam), guna memenuhi kebutuhan potensial pelanggan dan nasabah yang senantiasa berubah.

Dalam konteks ini, misalnya pengenalan produk baru menjadi tantangan, tidak hanya bagi praktisi dan Dewan Syariah Nasional (DSN), tetapi juga bagi masyarakat pengguna layanan perbankan syariah itu sendiri.

 

 

Tantangan utama

Tantangan utama, dari sisi internal perbankan syariah berkenaan dengan kepatuhan syariah, yang sangat rendah karena masih dominannya mindset konvensional di otak manajemen pada semua level keorganisasian yang ada, sedangkan dari sisi pelanggan berkenaan dengan sejauh mana kesadaran keagamaan yang tinggi menjadi faktor utama penerimaan atas produk dan layanan syariah pada perbankan syariah (Muhlis, 2011).

Maka, desain produk syariah yang dikembangkan dituntut untuk mematuhi prinsip syariah, mampu menghasilkan keuntungan yang dapat diandalkan dan dibenarkan secara syariah, di samping juga perlu memiliki keunggulan komparatif jika dibandingkan dengan produk konvensional.

Penulis berpandangan bahwa perbankan syariah harus siap menyeimbangkan dan mendamaikan, antara tekanan untuk mematuhi prinsip dan aturan syariah, dengan tekanan untuk mendapatkan keuntungan. Keseimbangan di antara keduanya akan menjadi faktor kunci yang menentukan atas keberhasilan produk syariah, baik di pasar lokal, nasional, maupun internasional.

Jika pelaku perbankan syariah hanya fokus pada keuntungan dan melakukan pragmatisme dalam membuat produk, dengan cara mereplikasi produk konvensional, dan pada saat yang sama mengabaikan prinsip dan aturan syariah, dapat dipastikan perbankan syariah itu akan gagal karena telah menyimpang dari hakikat keberadaan dan tujuannya. Keseimbangan antara pemenuhan aspek syariah dan pemenuhan keuntungan secara profesional dan proporsional, pada ke semua produk dan jasa yang ditawarkan merupakan faktor esensial bagi eksistensi dan masa depan perbankan syariah di Indonesia.

BERITA TERKAIT