01 December 2021, 14:50 WIB

Mencari Rasa Aman di Kampus


Devita Cahya Wardani, Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Sebelas Maret, Surakarta | Opini

MENEMPUH pendidikan di perguruan tinggi merupakan salah satu jenjang belajar yang menjadi idaman bagi muda–mudi bangsa yang haus akan ilmu pengetahuan. Kuliah merupakan tahap di mana mahasiswi dan mahasiswa bisa belajar, berkembang, dan berproses sebagaimana mestinya dan sebagaimana seharusnya.

Dengan harapan mereka bisa menjadi insan yang berguna bagi Indonesia di masa yang akan datang, berbekal pemahaman intelektual yang melekat di diri mereka.

Masa kuliah adalah masa yang emas untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki. Sebab bangku perkuliahan akan membukakan pintu gerbang bagi mereka yang ingin berkembang melalui kelas perkuliahan maupun melalui organisasi atau berbagai event yang digelar di kampus. Banyak cara yang disajikan untuk bisa mendukung mahasiswa dan mahasiswi untuk bisa berkembang.

Maka wajar saja jika masa perkuliahan merupakan masa yang menjadi idaman. Sebab banyak peluang, rasa aman, segudang pengalaman dan ilmu pengetahuan yang ditawarkan disana.

Dalam kondisi seperti ini, pihak perguruan tinggi seharusnya juga memberikan jaminan rasa aman bagi seluruh mahasiswa yang sedang berjuang untuk belajar. Pasalnya, dewasa ini kerap kali terdengar kasus kekerasan seksual yang menimpa mahasiswi yang dilakukan predator kejam di lingkungan perguruan tinggi.

Ini merupakan tindakan yang jauh dari kata wajar. Sebab lingkungan kampus yang seharusnya menjadi tempat dan sarana untuk belajar malah dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk meluapkan hasrat seksualnya kepada mereka mahasiswi yang tak bersalah.

Seperti kasus yang menimpa pada seorang mahasiswi di Universitas Riau ketika sedang bimbingan skripsi. Dilansir dari BBC News Indonesia (8/11), pihak korban buka suara bahwa ia mengalami kejadian dugaan pelecehan seksual yang dialami ketika bimbingan skripsi dengan terduga pada 27 Oktober 2021.

Kasus serupa tapi tak sama juga dialami oleh mahasiswi dari kampus berbeda, Universitas Udayana, Bali. Bahkan, hingga Oktober 2021 Serikat Perempuan Indonesia (Seruni) Bali sudah menerima 29 aduan dugaan kekerasan seksual. Pelaku datang dari akademisi/staf (4 orang), 14 berstatus mahasiswa, 1 berstatus alumnus, 1 berstatus buruh, dan 9 berstatus masyarakat umum. (kompas.com, 21/11)

Hal ini membuka mata kita bahwa kasus pelecehan seksual di lingkungan perguruan tinggi marak terjadi. Cuma segelintir saja korban berani mengungkapkan apa yang terjadi. Kejadian mengerikan ini pasti akan membekaskan trauma di dalam diri korban. Selain itu akan menghambat keinginan mereka untuk mengembangkan diri demi kemajuan bangsa ini.
 
Kasus pelecehan di lingkungan kampus ini merupakan permasalahan yang sangat krusial dan harus segera dituntaskan. Pasalnya lingkungan kaum intelektual yang seharusnya berisi pribadi yang berilmu, kini malah menjadi lahan untuk memuaskan nafsu para predator kejam yang tak paham benar makna dari kata intelektual yang disandangnya. Moral mereka merosot tajam, rasa belas kasihan para predator inipun juga sudah hilang, mereka hidup bagaikan manusia dengan hati yang telah mati.

Perilaku menyimpang para peredator ini harus benar–benar direhabilitasi agar tidak ada lagi korban baru. Karena apa yang ia lakukan akan menimbulkan dampak jangka panjang bagi para korban. Dampak negatif yang ditimbulkan dari pelecehan seksual benar–benar nyata dan berbahaya bagi para korbannya.

Seperti apa yang dikemukakan Taiwo, Omale, & Omale (dalam Rusyidi, Bintari & Wibowo, 2019) mengenai diskusinya tentang dampak negatif pelecehan seksual terhadap masalah-masalah kesehatan psikis, fisik dan gangguan perilaku yang dialami korban. Pelecehan seksual terhadap mahasiswa di lembaga pendidikan misalnya dapat menghambat atau mengancam pencapaian atau prestasi akademik korban, menyebabkan korban drop-out serta mendeskreditkan posisi lembaga pendidikan.

Efek yang lebih jauh adalah terhambatnya pembangunan sumber daya manusia berkualitas. Itu karena pelecehan seksual di tempat kerja atau di sekolah menyebabkan korban terpaksa melayani permintaan atau pendekatan seksual, misalnya dari guru atau pimpinan kerja untuk kepentingan studi atau pekerjaan mereka.

Maka dari itu, mental para mahasiswi harus dilindungi dan keamanan mereka untuk belajar harus benar–benar dijamin sepenuhnya. Terbitnya Peraturan Mendikbud Ristek atau Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi, harus kita apresiasi dan benar–benar harus direalisasi. Harapannya, tentu saja, tidak ada lagi kasus kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi. Sehingga dengan demikian, tidak da lagi rasa takut yang menghantui para mahasiswi untuk bisa menggali ilmu dan mengembangkan potensi diri karena sudah ada payung hukum nyata yang akan benar–benar melindungi keamanan belajar mereka.

BERITA TERKAIT