28 November 2021, 05:00 WIB

Bijak Kelola Geopark


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

LETAK geografis Indonesia yang dikelilingi gunung api (ring of fire) merupakan musibah sekaligus berkah. Selain mendatangkan bencana, berbagai letusan dan gempa yang terjadi sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam membuat tanah di wilayah ini subur. Saking suburnya 'Tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman', begitu dendang Koes Plus. Riwayat kondisi geologis ini juga menciptakan lukisan alam yang indah berupa lembah, sungai, ngarai, bukit, serta hutan, yang menjadi rumah bagi puluhan ribu spesies flora dan fauna. Tidak mengherankan negeri ini menjadi salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbanyak di dunia setelah Brasil dan Zaire.

Keelokan alam ini semestinya menjadi modal negara ini untuk mengembangkan diri menjadi salah satu destinasi ecotourism yang berpotensi menarik wisatawan. Ecotourism atau ekowisata merupakan salah satu kegiatan pariwisata berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal, serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Keberadaan sejumlah geopark (taman bumi) yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara merupakan surga bagi pegiat wisata semacam ini. Di kawasan Pelabuhan Ratu yang masuk bagian dari Geopark Ciletuh, misalnya, selain menikmati keindahan alam, menurut penelitian yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, kita bisa menemukan jejak tsunami purba yang melanda kawasan itu ratusan tahun silam.

Seperti dikutip situs Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf.go.id), secara konsep geopark adalah kawasan yang memiliki unsur geologi terkemuka, dengan masyarakat setempat juga berperan serta melindungi warisan alam tersebut. UNESCO memberikan penghargaan khusus bagi beberapa geopark terbaik di seluruh dunia dengan sebutan UNESCO Global Geoparks. Kawasan Ciletuh, Jawa Barat, bersama beberapa geopark lainnya di Tanah Air, seperti kawasan Batur di Bali, Geopark Batur; Gunung Sewu, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur; Geopark Rinjani, NTB; serta kawasan Danau Toba, Sumatra Utara; telah menyandang predikat itu.

Oleh karena itu, tepat kiranya jika pemerintah mau lebih serius untuk mengembangkan keberadaan taman bumi semacam ini untuk mendatangkan wisatawan. Apalagi, jumlah taman semacam itu mungkin ratusan yang tersebar di berbagai penjuru Tanah Air, baik yang berskala lokal maupun nasional. Asalkan, seperti kata Presiden Jokowi, pengelolaannya harus baik. Ia juga meminta dalam pengembangannya dapat melibatkan para pegiat lingkungan, akademisi, serta warga. “Semua keragaman dan kekayaan yang kita miliki harus kita jaga dan lindungi, tidak dirusak dan dieksploitasi secara berlebihan, bertanggung jawab terhadap keberlangsungan lingkungan dan ekosistem,” kata Presiden dalam Konferensi Nasional Geopark Indonesia II yang digelar secara virtual, Senin (22/11).

Apa yang disampaikan Presiden kiranya harus didengar para pemangku kepentingan di bidang pariwisata. Jangan atas nama pariwisata, semuanya diterabas tanpa memperhatikan aspek lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar. Roda ekonomi memang mesti berputar, tetapi ia juga harus bisa menjaga keberlanjutan, entah itu sumber daya alam maupun manusianya. Sudah banyak contoh bagaimana alam murka lantaran eksploitasi yang dilakukan manusia secara berlebihan, mulai banjir hingga tanah longsor. Banjir bandang yang menerjang kawasan Batu, Malang, Jawa Timur, belum lama ini, salah satunya diduga disebabkan telah terjadi alih fungsi lahan sehingga ekosistem di hulu wilayah itu terganggu.

Agar cerita pilu semacam ini tidak lagi terulang, memang perlu langkah bijak dalam mengelola alam, terlebih di kawasan konservasi dan geopark.

BERITA TERKAIT