27 November 2021, 05:00 WIB

Siapkah Indonesia Bermain dalam Wacana Islam Global?


Maria Fauzi Penulis, traveler, Sekjen Fatayat PCINU Jerman, Litbang Fatayat DIY dan Founder Neswa.id. | Opini

MASJID besar di Berlin yang saya kunjungi siang itu tidak begitu ramai. Bangunannya sangat tua. Konon, masjid itu dibangun saat Perang Dunia II dan secara resmi dipakai 1924. Cat dindingnya mengelupas. Suasana sekitar juga sunyi dan hanya beberapa orang yang lalu lalang di jalan.

'Erbaut 1924-1927 Die Ahmadijja Andjuman Jschaat el-Islam Lahore, Pakistan'. Sebuah tulisan singkat tertera persis di samping pintu masuk masjid yang dikenal dengan Wilmersdorfer Moschee. Saya membacanya pelan, sambil memasuki masjid disambut imam masjid, Mudatsir.

Mata saya tertuju pada deretan mushaf Quran versi dilengkapi terjemahan yang tertata rapi tepat di belakang tempat salat. Selain mushaf Quran, buku-buku agama, majalah, dan publikasi lainnya memenuhi rak buku di salah satu sudut masjid. Publikasi buku dan mushaf Quran ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Jerman, Turki, Arab, dan Rusia.

Ahmadiyah termasuk organisasi keagamaan yang sudah well established di ranah global. Keberadaannya di beberapa negara dunia tak lepas dari penyebaran diaspora muslim India, Pakistan, dan sekitarnya. Di Jerman sendiri, Ahmadiyah menjadi salah satu komunitas muslim awal yang mampu berintegrasi baik dengan masyarakat Jerman. Bahkan, konon masjid itu dirancang KA Hermann, arsitek ternama Berlin saat itu.

Mudatsir, imam masjid ini, sekarang menjadi salah satu duta ‘wajah‘ Ahmadiyah di Berlin. Ia cakap berbahasa Jerman dan masih aktif sampai sekarang menerjemahkan beberapa artikel, publikasi, serta selebaran-selebaran dakwah masjid ke berbagai bahasa, khususnya bahasa Jerman.

Selain Ahmadiyah, komunitas muslim dengan berbagai latar belakang tumbuh subur di beberapa negara Eropa dan Amerika. Misalnya, muslim dari Turki, Maroko, Bosnia, dan beberapa negara Afrika Utara lainnya. Di Jerman sendiri, Islam Turki menjadi ciri khas yang paling kentara ketika berbicara tentang Islam dengan segala wacananya. Begitu juga di Belanda, Islam Maroko paling banyak mendominasi wajah Islam yang terpotret di masyarakat sekuler Belanda.

Lantas di mana posisi Islam Indonesia di kancah global? Padahal, Indonesia merupakan negara demokrasi muslim terbesar di dunia?

Saya membayangkan, jika suatu hari nanti Islam Indonesia sekaligus wacana yang diangkatnya mampu hadir dalam peta dunia. Ajaran-ajaran moderat ini nantinya akan tumbuh dari masjid-masjid Indonesia di seluruh penjuru dunia dengan membawa pesan Islam Indonesia yang terbuka, khas, dan autentik.

 

 

Indonesia dan moderasi beragama

Gagasan moderasi beragama menjadi salah satu isu sentral sekaligus penegasan identitas keberagamaan bangsa Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun dianggap tema baru, pesan dan nilai yang diangkatnya merupakan praktik sehari-hari masyarakat Indonesia yang sudah tertanam sejak lama. Gagasan itu kembali mencuat di tengah ancaman radikalisme yang tidak hanya menggerus tatanan sosial keagamaan, tapi juga merusak nilai-nilai kebangsaan.

Dalam wacana Islam global, moderasi beragama di Indonesia merupakan turunan dari gagasan besar Islam wasatiah. Bentuk-bentuk pemahaman itu diterjemahkan beberapa kelompok keagamaan di Indonesia dengan term-term yang beragam. Misalnya, NU mengusung gagasan Islam Nusantara, sedangkan Muhammadiyah mengenalkannya sebagai Islam berkemajuan.

Pada dasarnya, ragam gagasan itu menegaskan sikap beragama yang antikekerasan, menghormati pluralitas agama, dan aturan kebangsaan. Posisi tengah-tengah antara wataniyah dan tasyadud inilah yang sebenarnya ingin diangkat dalam gagasan moderasi beragama yang disesuaikan dengan konteks lokal di Indonesia.

Moderasi beragama merupakan sebuah konsep besar tentang bagaimana ajaran agama Islam dijalankan masyarakat muslim Indonesia di tengah keragaman ideologi, budaya, dan bahkan keragaman dari umat beragama. Dengan artikulasi dan bentuknya yang bermacam-macam, kriteria demi kriteria terkait dengan wasatiah Islam ini mulai diturunkan di tingkat lokal dan nasional yang turut berperan membentuk karakter Islam Indonesia yang beradab dan kaya.

Gagasan moderasi beragama inilah yang sebenarnya bisa menjadi pesan utama sekaligus mempunyai nilai-nilai diplomasi bangsa Indonesia untuk dunia. Diplomasi melalui pendekatan keagamaan cukup relevan di tengah situasi global yang tidak menentu, khususnya terkait dengan ketidakpastian demokrasi dan stabilitas sosial politik di beberapa negara muslim lain, seperti Afghanistan dan Timur Tengah.

Relevansi gagasan itu mendapat momentum terbaik untuk mengenalkan dan mendorong peran signifikan Indonesia dalam wacana Islam global. Tentu tanpa jemawa dan melupakan tantangan-tantangan besar lain baik dari kelompok ekstremis, kapitalisme global, agama, serta masuknya era industri 4,0 yang memengaruhi bagaimana agama diterjemahkan, dimaknai, dan diekspresikan masyarakat muslim dunia.

 

 

Alternatif Islam di ranah global

Saya teringat sebuah konferensi yang digelar PCINU Belanda pada 2017 di Amsterdam, dengan mengangkat tema Rethinking Indonesia Islam Nusantara: from local relevance to global significance. Beberapa sarjana Barat turut hadir membahas tema besar itu, sekaligus memberikan catatan-catatan kritis tentang peran muslim Indonesia di kancah global. Salah satunya Prof Martin van Bruinessen yang menegaskan apresiasi dari pihak luar terhadap Islam Indonesia sangat tinggi. Namun, disayangkan, peran dan posisi Indonesia dalam memberikan alternatif wacana keislaman di kancah global belum signifikan.

Jika dibandingkan dengan corak Islam dari beberapa negara Arab, Islam Indonesia dianggap memiliki karakteristik yang terbuka dan toleran. Harapan para sarjana Barat ini tentulah tidak main-main, bahwa Indonesia bisa tampil ke kancah global membawa wajah Islam yang berbeda dan baru.

Perkembangan wacana Islam di negara Barat banyak didominasi suara muslim dari beberapa negara asal yang dianggap konservatif. Meskipun mereka hidup di negara Barat, masih terkungkung dalam lokalitas mereka dan belum mampu menerjemahkan Islam dalam konteks negara tujuan (host country).

Dari sinilah harapan terhadap Islam Indonesia tumbuh semakin besar. Akankah praktik dan wacana keagamaan yang moderat di Indonesia juga mampu bernegosiasi dengan kultur-kultur baru di negara tujuan? Apakah tawaran moderasi beragama juga mampu menciptakan warna baru Islam di ranah global?

 

 

Duta wajah Islam Indonesia

Optimisme dan geliat diaspora Indonesia untuk membangun pusat-pusat keagamaan di beberapa negara Eropa dan lainnya sudah mulai tampak. Di Belgia, pembelian masjid Indonesia dinyatakan lunas. Tentu tidak hanya di Belgia, sebab di Mesir, Jerman, Belanda, dan beberapa negara lain, diaspora Indonesia juga mempunyai masjid dan pusat-pusat kebudayaan serta keagamaan, yang dapat dijadikan corong utama dalam menebarkan wajah Islam yang ramah. Namun, optimisme itu juga harus diimbangi dengan political will dari negara supaya memperhatikan kehidupan diaspora Indonesia di belahan dunia mana pun.

Secara umum ada dua hal yang membentuk kultur diaspora Indonesia di luar negeri, yaitu kultur yang dibentuk secara tradisional dan nasional. Secara tradisional, masyarakat Indonesia cenderung hidup secara komunal dan dalam keluarga besar. Untuk berkarier di luar negeri dan jauh dari keluarga besar, ini menjadi sebuah tantangan tersendiri. Jadi, wajar saja jika jumlah diaspora Indonesia tidak sebesar negara-negara lain penyumbang diaspora terbanyak seperti Tiongkok, India, dan Filipina.

Secara nasional, dapat dilihat dari orientasi terbesar mahasiswa luar negeri untuk pulang kembali ke Indonesia dengan jargon utama membangun negeri. Pesan ini pun berulang kali disampaikan pemerintah untuk mendukung sepenuhnya mahasiswa luar negeri agar kembali ke Bumi Pertiwi. Padahal, untuk menuju ke proyek global dalam bidang apa pun, Indonesia juga harus bisa memproduksi diaspora berkualitas yang tersebar di seluruh penjuru dunia sebab mereka duta bangsa yang merepresentasikan Indonesia hingga skala yang tidak terjamah oleh pemerintah.

Mahasiswa sebenarnya cukup signifikan berperan dalam menyebarkan sekaligus menjadi duta Islam Indonesia di negara tujuan. Akan tetapi, waktu mahasiswa yang terbatas dalam rentang masa studi menjadi tantangan tersendiri sehingga tak mampu secara berkelanjutan menciptakan pusat transformasi tradisi dan praktik-praktik keislaman untuk masyarakat setempat.

Karena itu, salah satu harapannya ialah para mukimin, atau diaspora Indonesia yang memilih untuk berkarier dan tinggal di negara tujuan. Durasi waktu yang cukup panjang dan relasi luas dengan masyarakat lokal memungkinkan mereka mewacanakan praktik-praktik keagamaan mereka sehari-hari dengan lebih leluasa. Di sinilah nantinya pesan, tradisi, dan potret Islam Indonesia perlahan mulai dikenalkan ke publik lokal. Menghidupkan peran diaspora menjadi semakin penting untuk diperhatikan jika gagasan besar ini ingin mendapat tempat di ranah global.

 

 

Dari lokal ke global

Sekitar tiga pekan lalu, saya menghadiri sebuah dialog kebangsaan tentang moderasi agama yang diadakan Kemenag RI di Lombok. Dialog kali itu dikhususkan untuk membahas tantangan dan harapan masyarakat timur Indonesia terkait dengan tema besar ini. Dalam sebuah sesi dialog, salah satu peserta berkisah tentang rumitnya menjalin relasi baik, bahkan dengan sesama muslim sendiri.

Kehadiran kelompok-kelompok baru Islam di beberapa wilayah di timur Indonesia dianggap mengganggu otoritas keislaman sebelumnya. Sebagai respons, beberapa kelompok lama itu yang juga mayoritas merasa terusik dan menanggapinya dengan keras, serta turut melawan. Konflik semakin tajam dan belum menemukan titik kesepakatan. Problem inilah yang menjadi catatan besar terkait dengan wacana apa pun yang membawa pesan moderasi beragama.

Ketika gagasan Islam Nusantara, Islam berkemajuan, atau moderasi beragama berkelindan dengan politik dan menjadi kekuatan dominan, akankah mampu menoleransi interpretasi Islam yang berbeda dengan gagasan mereka? Apakah mereka nantinya juga akan mampu menjunjung hak asasi manusia dengan menjauhkan pendekatan yang represif?

Tampaknya, tantangan terbesar moderasi beragama bukan dari pihak luar, melainkan justru dari dalam sendiri. Seberapa besar kita mampu menerima pandangan liyan. Jika masalah lokal ini saja belum mampu dijawab, lantas bagaimana gagasan ini akan dapat melaju pesat ke kancah global?

BERITA TERKAIT