25 November 2021, 05:10 WIB

Metro TV, Maju Terus


Rizal Mallarangeng Pendiri Freedom Institute | Opini

METRO TV lahir dari rahim demokrasi Indonesia. Dalam usianya yang ke-21, kita bersyukur bahwa institusi berita ini telah menjadi pelaku penting yang memperkuat tradisi baru jurnalisme kita.

Kalau di Amerika Serikat ada CNN dan Foxnews, di Indonesia Metro TV (dan TVOne) memainkan peran yang hampir sama: the forces of opinion and newsmaking whithout which modern democracy is impossible. 

Saya kebetulan sempat cukup lama berada di lingkungan internal Metro TV, khususnya dalam tahun-tahun awal kemunculannya. Saya kagum pada dinamisme organisasi di baliknya, terutama pada orang-orang yang berkiprah di dalamnya.

Dalam hal ini, peran Bang Surya Paloh sangat vital. Dia sosok terbuka yang hangat dan passionate. Dia memiliki visi yang jelas, mengerti secara intuitif tahap dan arah perjalanan Indonesia saat itu, serta sanggup mengumpulkan tim yang memang bisa disebut the dream team, seperti Jeannette Sujuyudi, Andi F Noya, Saur Hutabarat, dan Rerie Moerdijat.

Mereka menjadi kekuatan di belakang layar, memungkinkan tumbuh dan populernya bintang-bintang muda yang menarik, kosmopolitan, cerdas, dan fasih berbahasa Inggris. Sebut saja Sandrina Malakiano, Najwa Shihab, Fify Aleyda Yahya, Meutya Hafiz, dan banyak lagi.

Dalam perkembangannya, salah satu momen terpenting Metro TV terjadi di seputar Pemilu 2004. Momen ini bersejarah, sebuah era baru dalam perkembangan demokrasi kita, sebab itulah pertama kalinya rakyat dari Sabang sampai Merauke memilih presiden secara langsung. Indonesia menjadi sorotan dunia dan publik kita menyambut penuh gelora peristiwa ini.

Peran Metro TV dalam momen itu sangat membanggakan, serta mematok eksistensinya sebagai suatu medium yang melekat dalam perjalanan kebangsaan Indonesia. Atas perintah langsung Bang Surya, Metro TV memunculkan berbagai program rintisan yang belum pernah ada saat itu, termasuk penyelenggaraan quick count, sebuah upaya untuk memberi kepastian hasil pemilu kepada publik berdasarkan metode keilmuan modern (setelah Metro TV, semua media lain juga membuat program yang sama pada setiap pemilu, termasuk pilkada di berbagai daerah).

Setelah Pemilu 2004, Metro TV menjadi the indispensable media, sebuah institusi pemberitaan yang menjadi bagian dari kehidupan keseharian kita.

Di masa mendatang, tantangan bagi Metro TV sama dengan persoalan yang dihadapi berbagai media konvensional lainnya, baik di Indonesia maupun di berbagai negeri lain. Dunia digital dan media sosial kini mengubah banyak hal. Dengan disrupsi ini, hanya sedikit yang berhasil bertahan dan tetap tumbuh–di AS dan Inggris, beberapa media, seperti Foxnews, The New York Times, dan The Economist termasuk dalam kelompok thriving survivors ini.

Saya yakin bahwa Metro TV sanggup mengatasi tantangan yang tidak mudah ini. Bahkan saya berharap, teman-teman di Kedoya tetap kreatif mencari cara-cara baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, sambil terus menjaga muruah demokrasi Indonesia. Selamat ulang tahun. Maju terus.

BERITA TERKAIT