21 November 2021, 05:00 WIB

Jakarta dalam Belantara Kata


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

DALAM novelnya, Senja di Jakarta, almarhum Mochtar Lubis memaparkan situasi sosial, ekonomi, dan politik kota ini di era 1950-an, tak lama setelah negeri ini dilanda euforia revolusi kemerdekaan. Mochtar, wartawan dan juga pengarang, dengan apik menggambarkan kedegilan sebagian perilaku penghuni kota ini dalam tokoh-tokoh novelnya.

Ada Raden Kaslan dan putranya, Suryono, yang menjalankan bisnis kotor dan korup. Sugeng, seorang pegawai negeri yang tidak tahan oleh tuntutan istrinya, Hasnah, untuk hidup enak sehingga terbawa ikut-ikutan korup, dan sebagainya. Dalam novel ini, Mochtar yang pernah dibui pemerintah Orde Lama dan Orde Baru juga menggambarkan ketimpangan sosial ekonomi di Jakarta.

Claire Holt, sejarawan, antropolog, dan juga jurnalis Amerika kelahiran Latvia, lantas menerjemahkan novel ini ke bahasa Inggris dengan judul Twilight in Jakarta pada 1963. Setelah itu, novel ini dialihbahasakan ke berbagai bahasa lainnya seperti Malaysia, Italia, Spanyol, Korea, dan Jepang. Dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1976), Ajip Rosidi menyebut novel itu mendapat sambutan dari jurnalis internasional. Melalui novel itu, mereka yang bermukim jauh dari kota ini mengenal kondisi kehidupan politik di Indonesia, khususnya Jakarta, yang kotor, penuh intrik, dan sarat kemiskinan.

Dalam kumpulan esainya, Kentut Kosmopolitan (penerbit Koekoesan, 2008), sastrawan Seno Gumira Adjidarma juga banyak mengulas persoalan di Ibu Kota, dari perkara sepele tentang kartu nama, sepotong senja di Stasiun Gambir, hingga penggusuran. Entah berapa ratus puisi yang telah dinarasikan para penyair tentang kota ini.

Begitulah, melalui serangkaian aksara, Jakarta menjelma ke dalam segala rupa. Kepiawaian pujangga, entah itu pengarang entah penulis baik lagu maupun puisi, dalam mengolah kata telah membuat kota-kota terkenang dan teralami di benak pembaca dan pendengar, termasuk Jakarta.

Bahkan, jauh sebelum itu, di era pra dan masa kolonial, kota yang sebelumnya bernama Jayakarta ini pun telah dicatat dan diwartakan para pelaut Portugis, Tiongkok, dan Belanda dengan perspektif masing-masing sesuai dengan apa yang mereka lihat dan rasakan tentang kota ini. Jakarta, dengan segala wujudnya, mengendap dalam benak mereka, baik yang pernah, sedang, maupun belum sama sekali menginjakkan kakinya di kota ini, lewat kata.

Berdasar riwayat inilah, UNESCO, badan PBB yang mengurusi ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan, baru-baru ini menetapkan Jakarta sebagai Kota Sastra Dunia (City of Literature). Dalam situs UNESCO, mereka menyebut pemilihan ini didasari fakta bahwa Jakarta sebagai kota punya riwayat panjang dan memiliki potensi besar untuk peningkatan dan pengembangan sastra dan literasi.

Kota yang kini dipimpin Anies Baswedan ini masuk sebagai salah satu dari 49 kota lainnya di dunia yang tergabung dalam jaringan kota kreatif dunia (UNESCO's Creative City Network) dan menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang terpilih.

Anies pun mengaku bangga. Kata dia, Jakarta memiliki sejarah literasi yang panjang. Sejak periode kerajaan, kolonial, awal-awal kemerdekaan, dan sekarang. “Bahkan, koran pertama dan naskah proklamasi pun lahir di kota ini, “ tuturnya. Pria asal Yogyakarta itu pun berharap terpilihnya Jakarta sebagai Kota Sastra Dunia dapat berlanjut. “Kami memastikan akar sejarah yang kuat ini akan terus kita jaga dan kembangkan di masa depan,” ujarnya dalam rilis yang disebarkan ke berbagai media, pertengahan pekan lalu.

Lantas, seperti apa wajah Jakarta nanti? Semua tentu bergantung pada tafsir masing-masing, baik yang mengalami langsung maupun teralami tentang kota ini, entah lewat buku, lagu, puisi, mural, entah instastory. Perspektif itu bisa berbanding terbalik dari yang digambarkan di sinetron, iklan pariwisata, maupun parade janji yang dilontarkan para kontestan pilkada.  Itu pun sah-sah saja dan lagi, 'sapa suru datang Jakarta', begitu mendiang Melky Goeslaw mengingatkan. Salam literasi!

BERITA TERKAIT