20 November 2021, 19:00 WIB

Meneropong Peluang Cuan Era Endemi


Hasdiana S, Dosen di Universitas Muslim Maros (UMMA), Sulawesi Selatan | Opini

MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pandemi covid-19 akan berubah status menjadi endemi pada 2022. Pernyataan menteri keuangan terbaik dunia itu berdasarkan petunjuk dari sejumlah ilmuwan. Jika peralihan status itu terwujud, apakah menjadi era peruntungan sektor bisnis yang mengalami jatuh bangun pada masa pandemi?

Kendati virus yang konon berasal dari Wuhan, Tiongkok itu belum sepenuhnya hilang, kemungkinan besar, 2022 menjadi fase pemulihan ekonomi dan bisnis untuk kembali berpenetrasi. Dengan catatan, skema pola hidup masih tetap sama seperti sekarang yaitu mengimplementasikan protokol kesehatan serta vaksinasi dapat diakses untuk semua kalangan. Kunci itu pula yang menjadi penekanan Sri Mulyani menuju transisi status.

Kebangkitan sektor bisnis dari keterpurukan menuju post pandemic era yang kuat diramalkan itu, bukan perkara membangun seribu candi dalam semalam. Perlu persiapan dan analisis kuat serta benar-benar matang. Namun jangan pula pesimistis. Karena pada prinsipnya memasuki masa endemi, kita akan berhadapan dengan pola perilaku (behavior) yang berbeda. Jika jeli tentu ada cuan yang bisa ditambang, bila berangkat dari kebiasaan baru itu.

Sejak kemunculan covid-19 awal 2020, karakteristik perilaku sontak berubah akibat pembatasan sosial. Agar saling terkoneksi satu dengan lainnya, manusia terpaksa shifting dengan pemanfaatan teknologi. Semua serba virtual, dan manusia semakin user friendly dengan teknologi.

Seperti halnya Jack Ma, bos Alibaba pernah meramalkan pada 2030 diperkirakan 85% sistem perniagaan global akan beralih menjadi e-commerce. Namun, pandemi yang sudah berlangsung hampir dua tahun ini mempercepat peralihan sistem itu. Besar kemungkinan, perdagangan dunia melalui e-commerce semakin cepat, jauh sebelum 2030. Karena manusia semakin nyaman berbelanja daring dan terbentuklah new habit.

Tak hanya teknologi, pandemi semakin menguatkan fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Makhluk yang tidak bisa hidup tanpa bersosialisasi. Kepedulian kian bertumbuh, khususnya perhatian akan kesehatan individu termasuk lingkungannya. Singkatnya, manusia sadar bahwa aspek kesehatan dimulai yang dimulai dari sendiri akan memberikan efek kepada ruang lingkupnya.

Mindset kuat

Bagi sebagian kalangan, pandemi covid-19 menyisakan kisah pilu. Kemungkinan dirasakan oleh mereka pernah menyandang gelar positif dan butuh waktu lama dalam proses penyembuhan. Atau bahkan ada salah satu keluarga dan kerabat berpulang. Mereka yang fobia atau karena traumatik akibat covid-19, akan memiliki kecenderungan dengan gaya hidup lebih healthy dalam menjalani kehidupan normal era post pandemic.
 
Mereka akan memiliki mindset yang sangat kuat, bagaimana bisa hidup sehat serta meningkatkan imunitas. Belum lagi prediksi akan adanya virus baru yang kemungkinan berpotensi menjadi pandemi baru di masa akan datang.

Ini adalah demand baru yang perlu disasar, dengan menciptakan suplai-suplai produk makanan kesehatan. Asupan makanan yang bisa ditawarkan bisa berupa makanan organik yang jauh lebih sehat. Namun perlu menjadi perhatian, bahwa proses pemasaran komoditi ini butuh treatment khusus, mengingat harganya yang cukup tinggi.

Caranya dengan memangkas mata rantai perdagangan dengan memanfaatkan media sosial, loka pasar daring atau membuat platform khusus. Tujuannya, agar supply makanan organik yang biasa dikelola industri rumah tangga, bisa dijual langsung kepada demandnya. Dengan begitu akan diperoleh formulasi harga yang kompetitif.

Pusat-pusat kebugaran juga akan perlahan mulai bertubuh. Akibat pembatasan sosial sekian lama, terpaksa harus menjalani olahraga secara personal karena penutupan sejumlah pusat kebugaran. Seiring berjalannya waktu akan timbul keinginan kuat untuk kembali ke gym. Bertemu dengan para trainer dan sesama member gym

Peluang ini perlu ditangkap sekaligus menjadi momen bagi pelaku usaha gym kembali bangkit. Tinggal bagaimana cara menciptakan nuansa baru dengan menghadirkan desain interior yang nyaman dan mesin-mesin terkini. 
   
Lihatlah pula bagaimana perubahan behavior itu. Secara komprehensif perubahan perilaku itu tidak melulu berkorelasi dengan bisnis kesehatan. Tentu ada bisnis-bisnis lain perlu untuk dilirik. Bisnis pendidikan misalnya, karena teknologi semakin erat dengan manusia. Teknologi menjadi tools yang menghubungkan dengan external resource.

Pendidikan masa depan tidak lagi berhadapan dengan penyediaan aset yang menyebabkan terkereknya beban operasional. Termasuk beban SDM pengajar yang mumpuni. Dengan metode open source, tenaga pengajar dengan segudang kompetensi bisa terlibat langsung dalam proses belajar mengajar secara daring bagi mereka yang membutuhkan.

Sistem pendidikan open source mungkin serupa dengan ramalan Jack Ma terkait peralihan perdagangan global ke e-commerce. Lagi-lagi karena pandemi, sistem pendidikan masa depan itu terbypass sehingga lajunya semakin cepat. Yang pasti itu akan menjadi jualan dengan nilai bisnis tinggi. 

Bayangkan jika menimba ilmu dari seorang tenaga pengajar terkenal, berprestasi dan berasal dari universitas terkemuka melalui perantaraan platform digital. Ini sangat menarik, karena pengajar tidak perlu meninggalkan tempatnya, namun bisa berkomunikasi langsung secara dua arah dengan mahasiswa dari seantero negeri.

Bagi pelaku bisnis pendidikan open source, ada baiknya menguatkan kurikulum pendidikan yang ditawarkan, sebagaimana kebutuhan masa depan. Misalnya peningkatan kompetensi di bidang IT atau coding guna menciptakan sumber daya manusia yang memiliki daya saing di era revolusi industri 4.0 

Weekend tak seperti dulu

Sebelum pandemi, orang-orang perkotaan menghabiskan akhir pekannya dengan mengunjungi mal atau pusat-pusat perbelanjaan. Di Sabtu dan Minggu sejumlah mal penuh, mulai dari yang makan di resto bersama keluarga hingga berbelanja produk fesyen. Namun, sejak pembatasan diberlakukan melalui work from home (WFH), orang-orang memiliki banyak waktu bersama keluarga. 

Pelesiran ke mal tidak lagi di lakukan di akhir pekan. Terkadang di Senin hingga Jumat pengunjung mal ramai. Sebaliknya di akhir pekan volume kunjungan menurun karena sebagian orang menghindari kerumunan. Inilah budaya-budaya baru yang harus dimanfaatkan pelaku bisnis yang masih berkutat di sektor offline (konvensional). 

Jika dulu promosi banyak dilakukan di weekend, kini perlu direvisi. Promosi sebaiknya menyesuaikan siklus baru, di mana orang-orang banyak memilih pelesiran di hari kerja. Mekanisme promosi ini juga hampir serupa dengan sektor pariwisata.
 
Solusi big data

Merancang strategi bisnis di masa endemi di 2022 membutuhkan analisis kuat. Perlu untuk diketahui, teknologi saat ini menawarkan kita sebuah tools yang bernama big data. Melalui big data akan memberikan pemetaan karakteristik berdasarkan demografi termasuk perubahan perilaku akibat pandemi covid-19.
    
Big data kian menarik karena menawarkan keuntungan yang sangat impresif. Data-data itu digali dari interaksi manusia dengan internet di mana salah satunya adalah media sosial. Sajian tidak hanya berupa informasi baru dan terkini terkait dengan perubahan perilaku. Big data sekaligus memberikan referensi baru yang bisa dijadikan acuan dalam menciptakan strategi bisnis kekinian.
    
Penelitian menyebutkan sejak pandemi tahun lalu, sumber informasi paling banyak diakses masyarakat Indonesia berasal dari media sosial. Jumlahnya meroket signifikan, mencapai 76% dibandingkan dengan media daring yang memiliki kredibilitas dalam menyampaikan informasi.
    
Artinya, kecenderungan masyarakat menggunakan media sosial, algoritma internet semakin banyak memetakan data-data baru yang jauh lebih jujur dan detail. Serta memiliki banyak manfaat dalam merumuskan strategi jitu dan rancangan bisnis baru, juga menjanjikan cuan.

BERITA TERKAIT