19 November 2021, 05:00 WIB

Transformasi ICMI Era Disrupsi


Arif Satria Ketua ICMI Orwilsus Bogor, Ketua Dewan Pertimbangan Forum Rektor Indonesia | Opini

PADA 4-6 Desember 2021, akan dilangsungkan muktamar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Ini merupakan momentum penting bagi ICMI untuk menentukan arah ke depan, mengingat dunia sudah sangat berubah dan berbeda dari situasi saat ICMI didirikan. Tidak ada pilihan lain, selain ICMI harus mampu merespons perubahan, dan bahkan menjadi penentu kecenderungan perubahan. Perubahan-perubahan apa yang saat ini terjadi dan bagaimana menentukan agenda besar transformasinya?

 

Tiga disrupsi

Ada tiga perubahan disruptif yang telah terjadi dan mengubah tatanan dunia. Pertama, perubahan iklim. Dari tingkat akar rumput hingga kebijakan nasional dan global, semuanya berpikir tentang adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Hal ini karena perubahan iklim tidak saja berdampak secara ekologis, tetapi juga mengancam kehidupan sosial ekonomi dan kesehatan. Kesadaran manusia tentang dampak tersebut melahirkan pola hidup hijau, konsep ekonomi hijau, ekonomi biru, dan ekonomi sirkular yang mendasarkan diri pada prinsip keberlanjutan.

Kedua ialah revolusi industri 4.0 yang dipicu berkembangnya teknologi Internet of Things (IOT), kecerdasan buatan, blockchain, robotik, dan drone. Perubahan teknologi secara eksponensial ini telah membuat dunia makin terkoneksi dengan cepat dan presisi melalui digitalisasi sehingga kehidupan sosial pun berubah nyata.

Dalam konteks ekonomi dan bisnis, munculnya ekonomi digital dan perubahan arah bisnis berbasis platform, ternyata berdampak pada perubahan peta kompetisi, pola perilaku konsumen, kebutuhan keahlian, dan jenis pekerjaan baru. Sebagaimana kajian McKinsey, pada 2030 di Indonesia diprediksi ada 23 juta pekerjaan hilang, tapi ada 27-46 juta lapangan pekerjaan baru muncul.

Dunia pendidikan juga dipaksa mengubah pola pembelajaran dan orientasinya. Revolusi Industri 4.0 ini merupakan pemicu perubahan dengan kecepatan tinggi sehingga memerlukan kecepatan langkah adaptasi, perubahan pola pikir (mindset), skill kolaborasi, dan fleksibilitas.

Ketiga, pandemi covid-19, yang membuat dunia makin berada dalam ketidakpastian. Karena itu, kini orang mulai makin sadar pentingnya pola hidup sehat, alam dan lingkungan yang segar, kemandirian pangan, ekonomi moral (gift economy), gotong royong, dan kolaborasi.

Menghadapi ketidakpastian tidak bisa sendiri-sendiri, tetapi butuh kolaborasi dan kedermawanan. Faktor suksesnya kita mengatasi pandemi covid-19 di Indonesia, salah satunya karena kekuatan modal sosial tersebut. Pada saat pandemi ini pulalah, aspek spiritualitas menjadi penting dan orang makin dekat dengan Tuhan.

Ketiga perubahan ini belum pernah terjadi sebelumnya. Belum ada bangsa mana pun yang punya pengalaman dan resep untuk menghadapinya. Dalam dunia yang sedang ditata ulang ini, semua negara dalam posisi yang relatif sama. Kita seolah berada dalam satu garis start dengan negara-negara lainnya. Kita yang selama ini tertinggal dari negara maju lainnya, mestinya diuntungkan dalam situasi ini. Artinya, kita punya kesempatan besar sejajar dengan negara-negara maju: sama-sama menjadi korban 3 disrupsi dan sama-sama belum punya pengalaman menghadapi.

Dalam posisi start yang sama ini, kuncinya terletak pada siapa yang lebih cepat berlari. Kecepatan berlari, sangat ditentukan kecepatan belajar (learning agility), mindset baru, dan kekuatan future practice. Kita menghadapi hal yang sama sekali baru. Perlu cara pandang baru, cara kerja baru dan cara belajar baru, serta punya kemampuan dan keberanian untuk memulai langkah baru dengan future practice, bukan best practice semata.

Dalam kompetisi era disrupsi ini sulit menemukan best practice. Itu karena semua orang dan semua negara sama-sama gamang dan sebagian sedang belajar. Orientasi pada best practice semata akan membuat kita selalu menunggu langkah orang lain dulu sehingga memosisikan kita sebagai pengikut saja. Namun, dengan orientasi future practice, kita akan memulai langkah sendiri dan lalu kita menjadi acuan. Pilihannya ialah apakah kita ingin hanya menjadi follower atau menjadi leader dalam disrupsi yang serbacepat ini?

 

Empat agenda transformasi

Dalam situasi baru seperti di atas, bagaimana posisi dan peran ICMI ke depan? Prinsipnya, ICMI harus menjadi bagian dari arus besar perubahan ini, dan posisinya sangat tergantung pada kemampuannya untuk memahami dan merespons perubahan disruptif ini. Oleh karena itu, diperlukan sejumlah agenda transformasi untuk ICMI mendatang.

Pertama, ICMI harus menjadi sumber inspirasi bangsa. Mengingat ICMI berisi para cendekiawan, yang mestinya punya nilai lebih dalam memahami arus perubahan dan menawarkan agenda-agenda solusinya. Inspirasi ialah proses menggerakkan pikiran dan tindakan orang lain. Oleh karena itu, ICMI harus menginspirasi dengan platform besar bagaimana mengonstruksi peradaban baru yang dipicu tiga disrupsi di atas.

Platform besar ICMI di era disrupsi ini, harus memuat kerangka ideologis dan teknokratis tentang solusi masa depan. Hal ini bisa menjadi inspirasi bagi pemerintah, dunia usaha, ormas Islam, dan masyarakat luas agar makin optimistis dalam merespons perubahan. Di sinilah peran universalitas ICMI menguat. Kehadiran ICMI sangat dinanti publik karena membawa manfaat universal, yakni manfaat yang muncul dari peran ICMI sebagai salah satu poros utama perubahan.

Kedua, ICMI harus menjadi rumah bersama umat Islam. Peran universal ICMI tidak meninggalkan perannya dalam membangun kebersamaan umat Islam untuk proses transformasi ini. ICMI beranggotakan para cendekiawan yang berafiliasi pada sejumlah ormas besar Islam. Dengan demikian, ICMI bisa menjadi hub yang berfungsi memperkuat konektivitas antarormas Islam agar lebih sinergis dan kolaboratif.

Bagaimana pun umat Islam ialah terbesar di Indonesia dan harus berperan dalam konstruksi peradaban baru berbasis kekuatan iptek dan imtak. ICMI harus bergandengan dengan ormas-ormas Islam untuk merespons tantangan perubahan ini sehingga umat Islam di Indonesia benar-benar menjadi bagian penting dari masa depan bangsa ini. Dengan demikian, keseimbangan semangat keislaman dan keindonesiaan ICMI benar-benar terlihat nyata.

Ketiga, ICMI harus terus mengawal proses transisi demokrasi. Demokrasi di Indonesia saat ini masih berciri demokrasi prosedural, bukan substansial. Namun, proses ke arah demokratis substansial harus terus berlanjut hingga mencapai titik kematangan kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, ICMI harus menjalankan peran politik moral, bukan politik praktis. ICMI harus menjadi bagian dari solusi serta bukan bagian dari masalah dan konflik. Dengan demikian, sebagai salah satu komponen masyarakat sipil, ICMI dapat berperan secara etik mengawal terwujudnya kehidupan berbangsa dan bernegara yang sehat secara politik, adil secara sosial, dan makmur secara ekonomi.

Keempat, ICMI harus memiliki kepeloporan dalam agenda aksi. Lahirnya Bank Muamalat tidak terlepas dari peran ICMI di masa lalu. Ini bukti agenda aksi yang sukses. Dengan berkembangnya situasi seiring tiga disrupsi besar, maka bangsa ini perlu terobosan-terobosan baru dalam bentuk agenda aksi baik dalam inovasi teknologi, ekonomi, pangan 4.0, lingkungan, pendidikan, maupun inovasi sosial. Kecendekiawanan ialah soal kepedulian dan kepedulian tidak cukup dengan pemikiran semata. Namun, memerlukan kemampuan menurunkan ke dalam agenda aksi yang membawa manfaat konkret, sistemis, dan berkelanjutan.

Keempat agenda transformasi tersebut, penting untuk memosisikan ICMI secara sentral dalam arus besar disrupsi ini. Kemampuan ICMI memosisikan diri seperti itu tergantung kesamaan visi dan pola pikir baru pengurus dan anggotanya. Saatnya kita duduk bersama untuk memformulasikan agenda-agenda besar tersebut. Muktamar ialah momen yang tepat untuk hal itu dan tepat menunjukkan bahwa ICMI bisa menjadi motor perubahan, bukan penonton perubahan.

 

 

 

BERITA TERKAIT