11 November 2021, 21:10 WIB

200 Tahun Fyodor Dostoyevsky 


Iwan Jaconiah  | Opini

SASTRAWAN, pemikir, dan filsuf Fyodor Dostoyevsky (1821-1881). Ia adalah salah satu penulis Rusia paling terkenal. Legasinya telah memengaruhi sastra dunia lewat novel, cerita pendek, dan memoar. 

Dostoyevsky masih menjadi magnet. Hari ini, dia genap berusia 200 tahun. Sosok agung yang tercatat dalam sejarah kesusastraan Rusia. Ia berjasa mengangkat nama Alexander Pushkin sebagai Bapak Sastra Rusia. 

Itu terjadi lewat pidato bersejarah Dostoyevsky tentang Pushkin yang sangat fenomenal. Ia sampaikan pada pertemuan Masyarakat Pecinta Sastra Rusia di Moskwa, 20 Juni 1880. Naskah pidatonya lalu diterbitkan pada 1 Agustus di tahun yang sama dengan judul Buku Harian Penulis

Menengok peninggalan Dostoyevsky di Moskwa dan St Petersburg, misalnya, bisa dilihat dari keberadaan museum dan bekas rumahnya. Semuanya disulap menjadi tempat pembelajaran, penafsiran, dan diskusi tentang ide-idenya dalam sastra. 

Salah satu tempat di mana para pesastra masa kini, termasuk saya, sering berkumpul ialah Museum Apartment Dostoyevsky di Ulitsa Dostoyevskogo, 2, Moskwa. Di saat musim dingin seperti sekarang, museum menjadi tempat nyaman bagi pembaca. Maklum, di luar udara dingin dan mulai bersalju. 

Karya novel dan cerita pendek Dostoyevsky telah diterjemahkan ke lebih dari 170 bahasa. Kerap menjadi bacaan dan kajian favorit. Tak hanya untuk penalaran filosofis, penelitian, pentas teater, dan produksi film, tapi juga bagi orang asing yang tertarik belajar bahasa dan sastra Rusia. 

Karya-karya terjemahan, antara lain novel Prestupleniye i Nakazaniye (Kejahatan dan Hukuman, 1866), Idiot (Idiot, 1868), Besy (Iblis, 1871-1872), Podrostok (Remaja, 1875), Brat'ya Karamazovy (Karamazov Bersaudara, 1879-1880), dan teks-teks terkenal lainnya. Itu menunjukkan bahwa Dostoyevsky sudah menjadi bagian kesusastraan dunia. 

Khususnya penerjemahan karya Dostoyevsky ke dalam bahasa Indonesia sendiri, telah dilakukan dalam satu dasawarsa terakhir ini. Para penerjemah mengedepankan pesan moral, alur cerita yang kuat, dan orisinalitas kisah. 

Sejumlah karya terkenal telah menjadi rujukan studi di beberapa universitas dan komunitas sastra. Pengaruh karya Dostoyevsky sangat kuat terasa dalam budaya masyarakat akademik di Indonesia. Ada tema universal, kemanusiaan, ketuhanan, dan kehidupan yang fana. 

Untuk pembelajaran seperti di Universitas Padjadjaran, misalnya, filolog Susi Machdalena, mewajibkan mahasiswa-mahasiswanya untuk merujuk pada karya teks asli. Itu berguna agar anak-anak didikannya mendapatkan pesan moral, estetika bahasa, dan makna secara utuh. 

Di toko-toko buku konvensional dan daring di Republik ini, karya-karya Dostoyevsky sudah diterjemahkan dan diterbitkan bagi pembaca. Antara lain, Catatan dari Bawah Tanah, penerjemah Asrul Sani dan Maling yang Jujur (monograf) dari judul berbahasa Inggris Great short stories from around the world, penerjemah Anton Kurnia. 

Sedangkan, novel Kejahatan dan Hukuman diterjemahkan oleh Ahmad Tarigan dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Novel ini disadur dari bahasa Inggris yang pernah diterjemahkan oleh Constance Garnett (1861-1946). Sebagian sumber lain dari referensi novel bahasa Inggris yang diterjemahkan Sydney Monas (1924-2019). 

Novel Karamazov Bersaudara juga diterjemahkan oleh Isao Arief (Elex Media Komputindo). Namun, dengan isi yang lebih sederhana karena dibuat menjadi novel grafis. Hal ini tentu saja secara tak langsung telah kehilangan rentetan ceritanya dari novel asli. 

Kritikus sastra Indonesia Hans Bague Jassin (1917-2000) pernah menganjurkan penerjemahan novel Kejahatan dan Hukuman pada 1949. Namun, Balai Pustaka menolak menerbitkan novel yang dalam bahasa Inggrisnya setebal 542 halaman ke dalam Bahasa Indonesia. Alasan utama adalah daya beli masyarakat masih rendah saat itu. 

Dalam kajian sastra, dunia Dostoyevsky berdiri berlawanan tajam dengan teori modern kosmologi ilmiah. Sebagai seorang seniman, ia mendekati dan melukis dunia dengan kepentingan agama. Dostoyevsky bersikeras bahwa manusia memiliki dua perintah. Pertama, perintah manusia lewat politik dan sejarah. Dan kedua, perintah Ilahi yang bersifat kekal. 

 

Inkarnasi dunia teater 

Sebagai penulis kontroversial dan sangat populer, Dostoyevsky tidak menulis apa pun untuk teater. Ia hanya menulis prosa, tapi menerima sejumlah besar inkarnasi teater dari novel dan cerita. 

Pertunjukan teater berdasarkan karya Dostoyevsky adalah tragedi, tragis, melodrama, dan komedi satir. Sering kali aktor-aktor memainkan peran terbaik mereka. Sutradara hebat juga ikut membuat penemuan artistik yang unik. 

Karya Dostoyevsky juga menjadi rujukan di bidang teater di berbagai negara. Filosofi hidup Dostoyevsky menerima inkarnasi genre kutub di teater. Kisah dramatis dan melodramatis adalah karakteristik produksi dengan menghadirkan pesan filosofis. Itu menjadi pertunjukan paling luar biasa dari paruh kedua abad ke-20 dan awal abad ke-21. 

Tidak ada seorang pun yang tahu cara untuk meniru Dostoyevsky. Bahkan, Anton Chekhov, seorang penulis ternama Rusia, misalnya adalah salah satu misteri utama abad terakhir. Wacana Chekhov adalah pengaruh menyeluruh dari seorang inovator dan paradoksal terhadap budaya. 

Dasar pengaruhnya terletak pada 'diagnosis' yang dibuat oleh Chekhov. Yaitu, keanehan manusia, era transisi, dan kehidupan Rusia. Ada dua sumber keunikan dan daya tarik Chekhov. Pertama, silogisme, keterasingan, dan kesalahpahaman sebagai tanda keberadaan. Dan Kedua, ironi, absurditas, welas asih, dan tatapan kasar sebagai tanda citra artistik dalam teks. 

Tentu saja, Dostoyevsky dan Chekhov berbeda dalam menghadirkan persepsi dalam karya. Namun, mereka sama-sama mewariskan pesan moral dan jiwa patriot dari bangsa mereka. Itu tersaji dalam karya-karya klasik nan indah. 

Tidak seperti banyak penulis pada awal pertama abad ke-19, Dostoyevsky bukan berasal dari keluarga bangsawan. Dia sering menekankan perbedaan antara latar belakangnya dengan Leo Tolstoy atau Ivan Turgenev. Itu nampak jelas perbedaan pada karyanya. 

Dostoyevsky selalu membutuhkan uang. Ia selalu terburu-buru menyelesaikan naskah prosa untuk diserahkan ke penerbit. Meskipun, ia mengeluh, bahwa menulis dalam tenggat waktu mepet menuntutnya untuk kian menghasilkan karya sastra yang kuat. 

Berikutnya, Dostoyevsky tidak seperti penulis dari kelas bangsawan yang menggambarkan kehidupan kelas keluarga mereka sendiri. Ia tidak dibentuk oleh 'keindahan bentuk dan tradisi' kaum ningrat. 

Di era kekinian, tema umum fiksi Dostoyevsky pada dasarnya tentang perselisihan dalam mencemari dunia manusia. Yakni, rasa agama tidak lagi diterima sebagai bagian intrinsik kehidupan dan tindakan manusia telah kehilangan validitas agamanya. 

Fiksi menghadirkan pesan moral dan iman di era modern. Oleh karena itu, karya-karya Dostoyevsky sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tak mengherankan, novel-novelnya banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa. 

Pesan filosofis, kemanusiaan, dan religius sangat kuat dalam setiap karya. Ia seakan menunjukkan bahwa budaya Rusia menyatukan kebenaran tradisi rakyat dan pengalaman pemikiran yang tercerahkan. 

Malam ini, pada awal musim dingin, 200 tahun yang lalu Dostoyevsky pertama kalinya menghirup udara yang sama seperti kita di dunia. Namanya harum, selalu diingat, dan kian dikenang. Tidak oleh bangsanya sendiri, tetapi oleh segala bangsa di dunia. 

 

Iwan Jaconiah
Pengasuh ‘Sajak Kofe’ 

BERITA TERKAIT