26 October 2021, 05:00 WIB

71 Tahun IDI, Peran Lama, Versi Baru


Iqbal Mochtar Dokter dan doktor bidang kedokteran dan kesehatan, Ketua Perhimpunan Dokter Indonesia Timur Tengah | Opini

TEPAT pada Minggu, 24 Oktober 2021 kemarin, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) genap berusia 71 tahun. Dokter sering digambarkan sebagai sosok berjas putih yang kerjanya bersliweran di rumah sakit. Teritorinya terbatas, tidak lebih dari rumah sakit dan klinik. Tapi sejarah bertutur lain. Dokter Indonesia ternyata kampiun. Mereka menggebrak banyak hal, ruang geraknya melintasi demarkasi rumah sakit. Perjuangan mereka bukan hanya melawan penyakit fisik, tetapi juga menegakkan nilai kemanusiaan dan keadilan.

 

Peran konvensional

Sejak dulu, dokter Indonesia telah memainkan peranan krusial dalam berbagai lini kehidupan. Bukan hanya menjadi pelayan kesehatan, tetapi juga pionir kebangkitan nasionalisme dan penegakan martabat dokter.

Tahun 1908, pelajar-pelajar sekolah dokter STOVIA yang diketuai Dr Soetomo mendirikan organisasi Budi Utomo. Ini adalah organisasi kebangsaan pertama yang ujungnya memiliki misi menjadi bangsa merdeka. Pendiriannya dianggap awal bangkitnya nasionalisme dan menjadi inspirasi pendirian organisasi lain. Organisasi Sarekat Islam, Indische Partij, dan Muhammadiyah muncul setelah Budi Utomo. Hebatnya, misi Budi Utomo bukan hanya menjadi bangsa merdeka, tetapi juga memajukan bangsa lewat pembangunan pengajaran, pertanian, dan kebudayaan. Sebuah misi kebangsaan yang sangat komprehensif.

Para dokter juga berjuang mengangkat harkat dokter Indonesia. Pada awalnya di Indonesia hanya ada perkumpulan dokter Belanda, Vereniging van Indische Artsen (VIA). Dokter Indonesia tidak mendapat tempat. Dianggap dokter kelas dua yang kualitasnya di bawah dokter Belanda. Dokter Indonesia menggeliat. Setelah berjuang, organisasi ini diubah menjadi Vereniging van Indonesische Genesjkundigen (VGI). Dokter Indonesia sudah bisa terlibat. Misinya bukan hanya menyamakan kedudukan, tetapi juga kualitas. Gaji dokter Indonesia diminta disamakan dengan gaji dokter Belanda. Dokter Indonesia harus mendapat kesempatan utama menjadi asisten dalam pendidikan. Dalam perjalanan selanjutnya, CGI menjadi IDI.

Setelah IDI terbentuk tahun 1950, peran dokter lebih terkoordinasi. Fokusnya mengarah pada peningkatan kualitas dokter. Untuk meningkatkan kualitas dokter Indonesia, IDI bergabung dengan organisasi dokter dunia World Medical Association, dan memprakarsai Medical Association of ASEAN. Tujuannya agar wawasan dan kiprah dokter lebih open-minded  dan internationalism. Di saat bersamaan, IDI menjadi penggerak dan pendukung pembangunan kesehatan Indonesia, termasuk dalam program Keluarga Berencana yang mendapat tantangan kala itu. Kasarnya, peran dokter sangat majemuk. Tidak hanya berkutat dengan pasien. Dokter menjadi play maker dalam berbagai lini.

 

Peran era 4.0

Di era 4.0 ini, peran dokter Indonesia masih relatif sama dengan era-era sebelumnya. Terus berkutat dengan issu nasionalisme, peningkatan martabat dan kualitas dokter, di samping pelayanan masyarakat. Cuma versi dan magnitude -nya beda.

Saat ini, dokter diharapkan terus berperan sebagai agent of nationalism. Pelopor sikap kebangsaan, yang mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Pada masa lalu, gelora nasionalisme dipraktikkan dengan sikap perlawanan terhadap penjajah. Saat ini versi nasionalisme beragam. Salah satunya ialah kebersamaan dokter ‘berperang’ melawan penyakit, tanpa pandang suku, agama, dan ras. Isu kebangsaan sangat penting karena dalam riuh perbedaan politik saat ini, dokter berpotensi untuk dipolarisasi. Diurai dalam sekat-sekat primordial. Bila ini terjadi, dokter akan mengalami divided profession.

Pada pandemi covid-19, dokter Indonesia berhasil mendemonstrasikan sikap nasionalismenya. Mereka berjuang bersama-sama melawan covid-19. Ini refleksi nasionalisme yang harus dipelihara. Ke depannya akan banyak ancaman yang membutuhkan spirit nasionalisme. Kalau dokter Indonesia tidak mengedepankan nasionalisme, ancaman ini akan menggulung negeri ini. Ini menjadi tugas penting IDI, menjaga nasionalisme dokter.

Isu degradasi martabat dokter juga belum tuntas. Di era ini masih banyak dokter yang gajinya setara atau lebih rendah dari UMR. Dengan bayaran itu, mereka tidak bisa hidup layak. Sejumlah survei melaporkan bahwa hanya 5,5% dokter umum yang mendapat penghasilan sesuai rekomendasi IDI, yakni Rp12,5 juta per bulan. Sebanyak 11% dokter umum mendapat gaji kurang dari Rp3 juta per bulan.

Setelah lulus, sebagian dokter terkatung-katung. Mereka lulus fakultas kedokteran, tetapi tidak bisa praktik karena belum lulus ujian kompetensi. Jumlahnya banyak. Setiap tahun, 35% dokter tidak lulus ujian kompetensi. Bahkan, ada yang sampai mengulang 17 kali. Ironisnnya, dalam kondisi demikian pemerintah merencanakan mendatangkan dokter asing. Izinnya dipermudah. Ini menjadi tugas penting IDI, menaikkan martabat dokter secara menyeluruh.

Dokter juga harus terus meningkatkan kualitasnya. Apalagi di era 4.0, di saat loncatan teknologi mengubah segalanya. Dokter Indonesia tidak boleh tersandera oleh traditional minded , tetapi harus memiliki digital minded. Mereka perlu memiliki soft skill , semisal melek komputer, menguasai bahasa asing, dan berkolaborasi. Tanpa soft skill  ini mereka mudah tergilas. Apalagi pasien makin pintar. Masyarakat pun makin kritis terhadap dokter.

Bila dulu berbagai stakeholders  menyokong eksistensi dokter, saat ini sebagian stakeholders  justru menyudutkan profesi dokter. Nilai profesionalitas mereka bisa diatur dan diutak-atik oleh orang nondokter. Maka, dokter harus melek teknologi. Harus bisa berselancar di semua lini, dan bisa menjadi penentu kebijakan penting. Menjadi decision maker , bukan hanya decision object. IDI harus merambah area ini.

Di era 4.0 ini, masyarakat harus dilayani, tetapi dengan pendekatan berbeda. Untuk itu, dokter mesti melakukan mental adjustment, mengubah pendekatannya ke masyarakat dari pola paternalistik menjadi pola kolaboratif. Dokter harus sadar bahwa posisi mereka bukan lagi sebagai penentu semua keputusan klinik, tetapi sebagai seorang penasihat (advisor ). Mereka memberikan nasihat tentang baik-buruknya sebuah tindakan, dan menyerahkan pasien menentukan pilihannya. Tidak ada lagi sikap otoritatif.

Dalam standar pelayanan kesehatan internasional, bukan hanya pasien yang harus dilibatkan, tetapi juga keluarganya. Istilahnya client and family engagement concept . Isu ini juga harus diakomodasi IDI. Melakukan cultural awareness pada semua dokter terkait perubahan pola pendekatan masyarakat.

 

Peran lama, versi baru

Tujuh dekade ternyata tidak mengubah persoalan-persoalan substansial yang dihadapi oleh dokter-dokter Indonesia dan IDI. Cuma karena zamannya beda, versi peran pun beda. Pada era ini, permasalahan dan paradigmanya lebih kompleks. Karena itu, pendekatannya pun harus lebih strategis, bermartabat, dan profesional.

Seluruh dokter dan IDI perlu bersinergi mengentaskan isu ini. Salah satunya dengan terus menjadikan IDI sebagai rumah besar semua dokter Indonesia. Rumah tempat kembali dan bernaung bagi semua dokter Indonesia. Rumah besar tanpa sekat-sekat. Dirgahayu IDI.

 

 

BERITA TERKAIT