22 October 2021, 05:00 WIB

Generasi Klik di Era Merdeka Belajar


Anno Susabun Alumnus STFK Ledalero, Pengajar di SMA Katolik St Fransiskus Saverius Ruteng, NT | Opini

DI tengah gempuran virus mematikan bernama covid-19, kita menyaksikan kemunculan inovasi teknologi pembelajaran digital di sekolah. Cerita inovasi ini tentu berwarna optimistis sebab krisis ternyata dapat dikelola menjadi batu loncatan untuk berkembang maju. Dalam semangat ‘merdeka belajar’, pembelajaran digital menjadi ajang pembuktian bagi guru dan pelajar dalam mengekspresikan kebebasan dan kemandirian berpikir dan berkarya. Meski demikian, disadari atau tidak, inovasi teknologi yang menopang pembelajaran daring berpotensi untuk hanya menghasilkan generasi manusia ‘klik’.


Napas kebebasan berpikir

Cogito ergo sum: aku berpikir maka aku ada, diembuskan sebagai napas baru masyarakat Eropa pada masa Renaissance. Rene Descartes (1596-1650), filsuf Eropa modern, mengajak semua orang untuk mengekspresikan kebebasannya dalam berpikir dan menemukan inovasi ilmu dan teknologi. Pada masa selanjutnya, Immanuel Kant (1724-1804) mengampanyekan keberanian berpikir tiap-tiap individu melalui kata-kata Sapere aude: beranilah berpikir sendiri!

Jika cogito ialah napas kemajuan menuju dunia modern, hari ini penampakan wajah masyarakat berubah drastis. Premo ergo sum: aku klik maka aku ada, demikian ditulis F Budi Hardiman dalam buku terbarunya berjudul Aku Klik maka Aku ada; Manusia dalam Revolusi Digital (Kanisius, 2021). Sabda Descartes bahwa ‘Aku’ pasti ada (hidup) hanya kalau ‘Aku’ berpikir kemudian beralih. Hari ini, ‘Aku’ pasti ada (hidup) hanya kalau ‘Aku’ eksis di dunia maya. Kita semua pasti sepakat bahwa manusia yang benar-benar eksis ialah diri kita yang secara fisik berciri biologis dengan dimensi-dimensi spiritual, afektif, kognitif, dan lain-lain. Dengan demikian, diri kita yang tampak dalam layar smartphone ialah rekaan atau citra gadungan atau diri yang maya (tak nyata).

Citra rekaan dalam dunia maya yang bukan merupakan ‘Aku’ yang sebenarnyakadang-kadang dianggap sebagai ‘Aku’ yang riil. Diri manusia 4.0 ditentukan oleh seberapa kaburnya dia dalam dunia nyata, dan seberapa jelas dirinya dalam dunia maya. Kepalsuan dan keaslian akhirnya mengalami pertukaran; ‘Aku’ nyata (asli) dalam internet dan maya (palsu) dalam kenyataan.

Kemajuan teknologi komunikasi pada gilirannya mengubah generasi manusia dari Homo sapiens menjadi homo digitalis (bahasa Latin digitalis: jari). Dengan jari sebagai penggerak utama hampir seluruh realitas hidupnya, manusia bergeser dari generasi sapiens menjadi generasi klik. Mutu seseorang, baik sebagai individu maupun bagian masyarakat ditentukan oleh sekadar gerak jari.


Merdeka belajar?

Kemerdekaan dalam belajar secara mendasar berhubungan dengan kebebasan untuk mengakses ilmu pengetahuan. Di samping itu, belajar secara merdeka berarti pula mengekspresikan kehendak untuk membuat eksplorasi ilmu pengetahuan secara lebih mendalam sebab ukuran kedalaman eksplorasi ilmu pengetahuan seringkali dibatasi prosedur-prosedur teknis yang rumit dan panjang lebar; pertama, Mendikbud Nadiem Makarim menjelaskan perlunya merdeka belajar dalam mengantisipasi proses yang lebih banyak berorientasi pada soal administratif.

Proses belajar arus utama yang terjadi selama ini menunjukkan bahwa administrasi pendidikan lebih penting ketimbang konten dan inovasi yang berguna bagi kehidupan di tengah masyarakat. Administrasi, demikian Nadiem, adalah suatu proses guru ‘kejar tayang’ menyelesaikan materi tanpa melakukan refleksi kognitif yang mendalam tentang kedalaman isi materi (Tempo.co, 13 Desember 2019).

Kedua, di samping konten kognitif, merdeka belajar juga mengandaikan kearifan karakter. Jika proses pembelajaran mainstream hanya mengandalkan kemapanan kognitif, merdeka belajar ditandai afeksi, emosi, spiritualitas, dan moral.

Karakter yang dimaksud dalam merdeka belajar berkelindan dengan citacita masyarakat yang ajek, hidup bersama yang rukun, dan komitmen memelihara keberagaman. Dengan menegaskan nilai-nilai tersebut, merdeka belajar tentu saja mengandung nilai kerja sama yang kolaboratif dan tidak individualis. “…di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghapal.” (Pidato Mendikbud pada Peringatan Hari Guru Nasional 2019).


Generasi klik dan literasi digital

Pertanyaan penting yang mencuat ialah kemerdekaan seperti apa yang terjadi dalam era pembelajaran digital? Apakah pembelajaran digital menjadi jalan peningkatan aspek kognitif dan karakter atau hanya sekadar menghasilkan generasi klik?

Pertama, generasi klik ditandai oleh kedangkalan berpikir. Di dalam dunia nyata, manusia menjadi dangkal dan penuh klise.

Kedangkalan tersebut ditandai adanya kepalsuankepalsuan yang diproduksi untuk menyumbat daya pikir. Ketika teknologi digital memfasilitasi berbagai macam kemudahan, manusia menjadi malas berpikir. Meski diandaikan dapat mengurangi ongkos administratif yang rumit, kedangkalan berpikir dapat lahir dari banjir informasi melalui jagat maya yang maha luas. Padahal, jagat maya tidak hanya  mengandung kebenaran, tetapi juga hoaks dalam berbagai bentuknya.

Kedua, kedangkalan lain dari generasi klik ialah memudarnya moralitas dan spirit kolaborasi. Generasi manusia klik yang mengandalkan gerakan jari sulit berpikir panjang dan matang sebelum hanyut dalam dunia digital. Alhasil, pandemi moralitas kemudian berkembang biak menjadi permusuhan dan kerusuhan. Dunia digital membuat banyak hal menjadi transparan; hoaks, ujaran kebencian, dan prasangka SARA (Hardiman, 2021). Selain itu, kerja sama yang kolaboratif menjadi mahal oleh ambisi individu untuk mengalahkan dan menghancurkan pihak lain.

Kelahiran generasi klik dari pembelajaran digital perlu menjadi isu yang diawasi bersama. Dalam rangka mengimbangi pertumbuhan generasi tersebut, seluruh proses pendidikan yang terdigitalisasi mesti dibarengi upaya peningkatan literasi digital. Spirit literasi digital mengandung upaya masif untuk menjaga proses pembelajaran yang bermutu.

Ukuran mutu pembelajaran digital ada pada kedalaman konten yang berhubungan dengan aspek kognitif dan karakter. Dalam rangka itu, literasi digital adalah upaya yang terukur untuk menjadikan medium digital sebagai sumber sekaligus sarana penyebaran ilmu pengetahuan yang benar dan kritis. Di samping itu, moralitas dan sikap terbuka untuk bekerja sama secara kolaboratif perlu menjadi perhatian bersama. Tugas yang berat ini ada di pundak guru sebagai pengajar dan murid sebagai sahabat dalam petualangan ilmiah.

BERITA TERKAIT