18 October 2021, 05:05 WIB

Pendidikan Karakter ala Sukma Bangsa


Priltus Andronikus Lamonta Guru Matematika Sekolah Sukma Bangsa Sigi, Sulawesi Tengah | Opini

PENDIDIKAN merupakan ujung tombak kehidupan yang menentukan masa depan. Ia merupakan wujud praktik nilai-nilai baik yang ada dalam sebuah bangsa. Nilai-nilai itu kemudian mewujud menjadi budaya yang diyakini dan dijalankan dalam keseharian.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI); budaya ialah pikiran, akal budi, bahkan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Menurut Koentrajaningrat, budaya ialah keseluruhan sistem, gagasan tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar. Budaya dimaknai sebagai keseluruhan sistem, gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia salam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar.

Dalam konteks pendidikan, budaya berperan penting dalam membentuk karakter siswa dan seluruh warga sekolah karena dalam budaya terdapat sekumpulan nilai-nilai, kebiasaan bahkan tradisi yang dilakukan oleh semua warga sekolah. Namun, sayang seribu sayang, tidak setiap sekolah memiliki budaya yang menjadi ciri khasnya.

Umumnya sekolah, setidaknya di sekolah saya dulu pernah mengajar, menjadikan budaya sekolah sebagai sarana pendukung administratif saja yang ditulis dalam konteks pemenuhan syarat akreditasi dan sebagainya. Kemudian ditulis besar-besar dan dipajang di satu lokasi yang semua orang bisa lihat dan membacanya, tapi tidak melakukannya, hanya sebatas slogan tanpa menerapkannya.

 

 

Budaya sekolah

Saat ini saya tercatat sebagai salah satu guru Sekolah Sukma Bangsa (SSB) Sigi, Sulawesi Tengah. Sekolah yang didirikan Yayasan Sukma Jakarta dari dana masyarakat yang dikumpulkan melalui program Dompet Kemanusiaan Media Group (DKMG). Yayasan Sukma sudah berpengalaman selama 15 tahun mengelola sekolah pascabencana gempa dan tsunami di Aceh akhir Desember 2004. Saya berkesempatan mengunjungi sekolah Sukma Bangsa di Aceh dan belajar bagaimana menumbuhkan dan mengembangkan budaya sekolah.

Budaya sekolah yang ditumbuhkembangkan di sekolah Sukma Bangsa semuanya berawal dari visi 'menciptakan lingkungan pendidikan yang positif…' Kalimat dalam visi ini kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk tindak perilaku sederhana yang biasa disebut 5S: senyum, sapa, salam, sopan, dan santun.

Semua warga sekolah wajib tersenyum pada setiap orang yang dijumpainya, kemudian menyapanya dan memberinya salam secara sopan dan santun. Selain itu, ada 4 NO yang ditumbuhkembangkan oleh sekolah Sukma Bangsa, yaitu no cheating, no bullying, no smoking, dan no littering yang berlaku dan diterapkan buat seluruh siswa serta sivitas akademika.

Konsep no cheating (jujur, tidak curang) diterapkan dalam proses belajar mengajar, utamanya saat ulangan harian atau ujian, siswa tidak boleh mencontek. Sementara no bullying (antiperundungan/kekerasan) secara verbal dan fisik juga diterapkan secara serius. Siswa dan seluruh sivitas SSB dibekali keterampilan mediasi teman sejawat dan negosiasi yang dilembagakan ke dalam manajemen konflik berbasis sekolah (MKBS).

Saya sempat bertemu dan ngobrol ringan dengan salah satu siswa SMA, sebut saja Dian yang jadi korban perundungan saat di SMP. Ia mengenal SSB saat mengikuti lomba tingkat kabupaten, dan terkesan dengan penampilan sikap siswa sekolah tersebut.

Ia pun mencari informasi dan akhirnya bertekad mendaftar di SSB setelah tamat SMP. Setelah menjadi siswa barulah ia mengerti kenapa siswa-siswa sekolah tersebut menunjukkan sikap yang mengesankan. Itu karena semua warga sekolah mulai direktur sampai guru melaksanakan budaya sekolah yang berlandaskan visi menciptakan lingkungan pendidikan yang positif, tanpa terkecuali.

Konsep no smoking (tidak merokok) bukan cuma berlaku bagi warga sekolah, tapi juga tamu yang datang. Siapa pun dalam jabatan apa pun bila kedapatan merokok di lingkungan sekolah pasti akan ditegur siswa. Kemudian no littering (tidak membuang sampah sembarangan) juga diterapkan bukan hanya dibersihkan oleh petugas kebersihan, melainkan oleh seluruh warga sekolah. Petugas kebersihan hanya penanggung jawab umum kebersihan, tetapi menjaganya tetap bersih ialah tugas dan tanggung jawab semua warga sekolah.

Ada satu momen saya dan teman-teman guru SSB Sigi saat berjalan menuju kantin, kami menyaksikan direktur sekolah memungut sampah plastik kecil (bungkus permen) lalu membuangnnya ke tempat sampah. Jika dilihat secara kasatmata, sampah tersebut biasa-biasa saja dan mungkin tak mengganggu keindahan. Namun, ketika seorang direktur yang memungut sampah kecil dan membuang ke tempat sampah, tanpa memanggil dan memerintahkan petugas kebersihan, ini contoh tanggung jawab menjaga kebersihan.

 

 

Menumbuhkan budaya sekolah

Pascakunjungan dari SSB di Aceh, kami sudah melihat SSB secara utuh dan optimistis dapat melakukan hal serupa di SSB Sigi, Sulawesi Tengah. Optimisme muncul karena juga ada guru-guru bantuan dari Aceh yang didatangkan ke SSB Sigi untuk mengawal penumbuhan dan pengembangan budaya sekolah. Tahun ajaran baru dimulai dengan daring.

Pada saat belajar mengajar daring ini belum terlihat kesulitan menumbuhkan budaya sekolah. Baru terlihat kesulitannya ketika satu bulan terakhir mulai tatap muka siswa dengan guru, siswa dengan staf pendukung, guru dengan guru, guru dengan staf pendukung dan sebagainya. Di sana terjadi interaksi, dan dalam interaksi itu terjadi berbagai ketidaksepahaman karena kami berasal dari latar belakang pengalaman, pendidikan, budaya yang berbeda, dan sebagainya.

Kenapa kami merasa kesulitan dalam menerapkan apa yang kami saksikan di SSB Aceh? Rupanya masih ada satu rahasia lagi yang belum kami ketahui, yaitu proses menyepakati semua hal yang ingin kita lakukan secara bersama dengan semua unsur sivitas SSB, termasuk siswa. Dalam wadah sekolah baru inilah kami bersama membangun tradisi, budaya, agar menjadi ciri khas kami, ciri khas SSB, a school that learns (sekolah yang selalu belajar).

BERITA TERKAIT