13 October 2021, 16:40 WIB

Diplomasi Budaya: Murah, Meriah, Berkah


Mohamad Wahid Supriyadi   | Opini

USAI menyampaikan orasi ilmiah berkenaan penerimaan gelar Visiting Professor of International Relations dari National Research Tomsk State University, Rusia, pada 9 September 2018, seorang profesor menyodorkan pertanyaan spontan. 

“Mengapa Indonesia yang terdiri lebih dari 700 suku masih berdiri tegak? Sementara itu, Anda pun tahu Uni Soviet telah pecah menjadi 15 negara.” Jujur, saya tidak menyangka pertanyaan itu muncul. 

Beberapa detik sempat bungkam dan tanpa kata-kata. Namun, akhirnya saya dapat menjawab secara jernih. “Sebenarnya, itu dikarenakan the wisdom of our founding fathers (kebijaksanaan para pendiri bangsa kami),” tutur saya. 

Saya pun menjelaskan jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada 28 Oktober 1928, para pendiri bangsa kala itu masih muda-muda, telah bersumpah. “Bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia.” 

Walaupun republik ini punya suku bangsa dan bahasa yang berbeda. Namun orang Jawa yang jumlahnya 41% dari total penduduk Indonesia, tidak memaksakan agar bahasa Jawa menjadi bahasa nasional. 

Orang Jawa paham sekali, bahasa Jawa itu sangat rumit. Tata bahasa dan cara penyampaiannya pun kadang merumitkan mereka sendiri. Apalagi, bagi orang lainnya. 

Sementara bahasa Melayu, akar Bahasa Indonesia, telah dipakai sebagai alat komunikasi perdagangan di antara kerajaan-kerajaan. Penggunaannya merata di Nusantara sejak abad ke-7. 

Di banyak negara, sebut saja India dan Filipina. Bahasa nasional mereka diambil dari bahasa mayoritas seperti Hindi dan Tagalog. Hal tersebut menjadikan suku-suku lain tidak puas. Bila muncul konflik, maka bahasa Inggris dipakai sebagai jalan tengah. 

Di Sri Lanka, masalah bahasa memicu perang saudara. Khususnya, di kalangan penutur bahasa Singhala dan Tamil. Di Belgia, sampai sekarang masalah bahasa belum terpecahkan. Dua bahasa, yakni Prancis dan Belanda, dipakai sesuai daerah-daerahnya. 

Dalam berbagai kesempatan, saya selalu mengatakan ke generasi muda, kekuatan kita justru di budaya. Nilai-nilai lokal sangat wajib untuk diangkat ke ranah internasional. Kita harus bangga dan percaya diri. Sayangnya, kita terkadang masih tidak menyadari betul hal ini. 

Profesor Mochtar Kusumaatmaja, Menteri Luar Negeri (Menlu) era 1978-1988 telah menyampaikan pentingnya diplomasi budaya bagi Indonesia di awal 1980-an. Pada 1984, ia mendirikan Yayasan Nusantara Jaya. Tujuannya, mempromosikan budaya Indonesia di luar negeri. 

Sayangnya lagi, konsep Diplomasi Budaya tidak terstruktur. Menlu Hassan Wirajuda (2001-2009) juga telah membentuk Direktorat Diplomasi Publik di Kementerian Luar Negeri. Namun, ruang lingkup kerjanya masih terbatas, sebab hanya setingkat direktorat. 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pernah mendirikan Rumah Budaya di luar negeri. Akibat perencanaan yang kurang baik dan tidak diimbangi anggaran yang memadai, Rumah Budaya hanya perpanjangan dari upaya-upaya yang dilakukan Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya di Perwakilan RI. 

Saya sendiri pernah mengikuti Kursus Penerangan dan Humas (Penhumas) pada 1988 selama lima bulan. Peserta kursus disaring dari angkatan II sampai XII Sekolah Dinas Luar Negeri (ketika itu angkatan termuda) dan terpilih 20 orang. 

Lulusan Penhumas akan mendukung kegiatan Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS). Kita memang menginginkan ekspansi budaya dimulai melalui jantung negara adi kuasa itu. Harapannya, seluruh dunia akan melihat. Ternyata hal itu sekadar konsep, tidak pernah terealisasikan. 

Diplomasi Budaya 

Diplomasi Kebudayaan sebagaimana diketahui merupakan bentuk diplomasi publik dan soft power. Meliputi pertukaran ide, informasi, seni, bahasa, dan aspek lain dari budaya antarbangsa. Tujuannya, menghadirkan rasa saling pengertian. 

Institute for Cultural Diplomacy mengartikannya sebagai rangkaian kegiatan. Didasarkan pada pemanfaatan pertukaran ide, nilai, tradisi, dan aspek lain. Diplomasi Kebudayaan juga sebagai identitas mempererat hubungan, meningkatkan kerja sama sosial-budaya, serta mempromosikan kepentingan nasional. 

Oxford Dictionary mengartikan budaya sebagai tradisi/seni/lembaga/ sosial dalam pencapaian suatu bangsa/masyarakat atau kelompok sosial. Terkait Indonesia, Profesor Koentjaraningrat juga memiliki pengertian tentang kebudayaan nasional. 

Bagi Koentjaraningrat, budaya bangsa sudah ada sejak zaman dahulu hingga kini. Itu sebagai suatu karya khas yang dibanggakan. Senantiasa mencerminkan jati diri dan identitas bangsa. 

Karena menyangkut kebiasaan manusia (human behavior) maka budaya bukanlah benda mati. Ia selalu bergerak menyesuaikan zaman. Bahkan, budaya bisa menjadi alat komersil suatu bangsa. 

Hollywood, misalnya, sebuah industri film tertua di dunia. Pada perjalanannya, dijadikan sebagai diplomasi pubik, alat propaganda, dan promosi budaya Amerika. Tidak dimungkiri, Hollywood merupakan produk ‘Negeri Paman Sam’ untuk kembali lagi menguasai dunia melalui budayanya. 

Penulis The World is Flat, Thomas Friedman, mengatakan era sekarang adalah zaman yang didominasi oleh kekuatan Amerika, budaya Amerika, dolar Amerika, dan Angkatan Laut Amerika. 

Pendapat tiga kali peraih Pulitzer itu mungkin kurang relevan saat ini. Munculnya Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi kedua terbesar dunia lambat atau cepat akan mengungguli Amerika. 

Kita mengetahui produk-produk Hollywood. Mulai dari makanan cepat saji, minuman soda, mobil sampai film animasi. Keberhasilan Amerika pun diikuti Jepang dan Korea Selatan lewat J-Pop dan K-Pop

Apa Istimewanya Budaya Indonesia? 

Hampir semua suku di Indonesia memiliki seni budaya yang unik, sophisticated dan cenderung berbeda satu sama lain. Itu menjadi kekuatan dalam berhadapan di panggung internasional. 

UNESCO, sebuah Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Dunia telah mencatat ada 10 warisan dunia tak benda (intangible). Seperti, wayang, keris, batik, angklung, tari Saman, noken Papua, pencak silat, pantun, dan tiga jenis tarian Bali. 

UNESCO juga mencatat 14 warisan budaya dunia seperti Taman Nasional Komodo, Sebak Bali, pertunjukan boneka wayang, Candi Borobudur, Candi Prambanan, Taman Nasional Ujung Kulon, Sangiran, batik, Taman Nasional Lorents, Sembilang, Gunung Lauser, dan lain-lain. 

Saya percaya budaya Indonesia yang beraneka ragam merupakan kekuatan diplomasi kita. Perwakilan RI sebagai garda terdepan dapat memanfaatkan keunggulan ini. Yaitu, kian meningkatkan lagi sektor promosi budaya, perdagangan, dan investasi pascapandemi Covid-19. 

Program Festival Indonesia, misalnya, saya gelar di Melbourne, Abu Dhabi, dan Moskow semasa bertugas. Ini menjadi bukti nyata dalam memperkenalkan lebih lagi keunikan dan kekhasan budaya kita ke masyarakat di luar negeri. 

Khusus di Abu Dhabi, acaranya tidak sebesar di Melbourne dan Moskow. Pasalnya, sebagian besar masyarakat kita adalah Buruh Migran Indonesia. Di Abu Dhabi acara saya beri nama Indonesian Charity Bazaar, diselenggarakan di halaman KBRI. 

Sementara di Moskow, saya sempat mengantarkan empat kali festival secara berturut-turut. Saya melihat dampak yang dihasilkan lewat Festival Indonesia memiliki efek yang besar. Terutama, di bidang perdagangan dan investasi, tanpa harus memberikan label diplomasi ekonomi. 

Pada dasarnya, diplomasi ekonomi menjadi bagian penting diplomasi budaya. Mungkin kita harus memikirkan dan mendirikan Lembaga Indonesian Council atau I-Pop meniru J-Pop dan K-Pop. Melalui diplomasi budaya, sejatinya dapat dilakukan secara murah, meriah, dan berkah. 

 

 

 

Profesor (Hon) Mohamad Wahid Supriyadi, Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarusia (2016-2020), Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab (2008-2011), dan Konsul Jenderal RI di Melbourne (2004-2007). Buku terbarunya Diplomasi Ringan dan Lucu (Buku Litera, Yogyakarta, 2020). 


 

BERITA TERKAIT