12 October 2021, 05:00 WIB

Hubungan Soekarno, Nyai Bei, Woro Pardjinem


Guntur Soekarno Pemerhati Sosial | Opini

MEMBACA judul di atas pasti Anda bertanya, siapa wanita-wanita itu, dan apa hubungannya dengan Soekarno? Untuk mengetahui hal itu, ada baiknya pembaca mengikuti pengalamanku ini.

Seperti diketahui, Soekarno ialah seorang pencinta seni seperti lukisan, patung, seni keramik (porselen), bahkan wayang kulit dalam hal ini wayang Purwa. Sejak kecil sampai dewasa ‘hobi’ menonton wayang kulit merupakan hal yang selalu dilakoninya. Baik ketika masih tinggal di Surabaya, Sidoarjo, maupun Blitar, kebiasaan ini terbawa terus sampai Bung Karno menjadi presiden RI, terutama setelah ibu kota pindah kembali ke Jakarta dari Yogyakarta pada Desember 1949.

Di Istana Negara, setiap triwulan sekali selalu digelar pertunjukan wayang kulit. Bahkan, sekali-kali dipertunjukkan juga wayang golek dari Jawa Barat sebagai selingan. Pergelaran wayang kulit selalu diadakan di aula Istana Negara Jakarta mulai pukul 21.00 sampai Subuh, dengan jeda +20 menit untuk Bung Karno dan para VIP salat Subuh.

Penulis selalu menyaksikan pergelaran itu karena juga gemar dunia pewayangan, baik wayang orang maupun wayang kulit. Biasanya penulis selalu duduk di deretan kursi paling depan tempat Bung Karno beserta para petinggi pemerintahan, seperti Mr Wongsonegoro, Prof Prijono, Mr Brotodiningrat, dan dr Djuned Pusponegoro.

Bung Karno duduk bersebelahan dengan Mr Wongsonegoro karena figur itu sangat menguasai perwayangan episode Mahabharata ataupun Ramayana. Sekitar seribu orang tamu yang hadir duduk di kursi rotan buatan Istana, termasuk Presiden. Tamu-tamu yang hadir berasal dari berbagai kalangan. Pejabat tinggi, tokoh parpol, pegawai negeri, masyarakat awam, bahkan rakyat biasa. Yang penting mereka telah mendapatkan surat undangan yang dikoordinasi Sekretariat Negara dan Sekretaris Pribadi Presiden Muallif Nasution.

Dalang-dalang yang pernah menunjukkan kebolehannya di hadapan Bung Karno antara lain Narto Sabdo, Panut, dan Srimulyono Herdalang, sedangkan dalang Istana kesayangan Bung Karno ialah Ki Gito Sewoko karena sabetannya hebat, tetapi halus.

Sementara itu, wayang kulit yang digunakan ialah wayang-wayang yang dipinjam Bung Karno dari Kasunanan Solo sebanyak dua peti. Setelah Bung Karno didongkel, dan tidak menjadi presiden (era Orba) kedua peti tadi, sepengetahuan penulis, dikembalikan ke Kasunanan Solo.

Sebagai pergelaran alternatif, Bung Karno juga mengadakan pertunjukan wayang golek dari Jawa Barat. Untuk wayang golek, pergelaran dilaksanakan di atas panggung Istana Negara di bawah peta lukisan NKRI. Sang Dalang yang sering tampil ialah Parta Suwanda. Yang menarik wayang golek yang ditampilkan saat itu disebut dengan wayang golek modern karena menggunakan teknik-teknik yang modern untuk adegan perang, antara lain Gatotkaca melawan raksasa. Dengan teknik tertentu, misalnya sang raksasa dari mulutnya dapat mengeluarkan api sungguhan.

Untuk melengkapi pergelaran wayang kulit, wayang golek bahkan untuk pergelaran seni peringatan HUT Proklamasi malam hari tanggal 17 Agustus, Istana Negara dan Istana Merdeka dilengkapi seperangkat gamelan, yang diletakkan di sayap kiri ruang aula Istana Negara dan sudut kanan aula Istana Merdeka. Perangkat gamelan di Istana Merdeka digunakan untuk kami adik beradik berlatih tari-tarian Jawa dan Sunda.

Pada pergelaran wayang kulit para Nayaga (penabuh gamelan) dipilih figur-figur yang ahli dan piawai dalam profesinya dan oleh Bung Karno dipilih Nyai Bei dari Solo untuk Waranggana (pesinden), yang bertubuh montok dengan wajah ayu. Bila datang ke Jakarta menginap di Paviliun Istana Negara bersama suaminya. Mengapa Nyai Bei menjadi pilihan, menurut Bung Karno, karena suaranya lantang dan bening laksana suara buluh perindu. Di samping Nyai Bei, ada Woro Pardjinem, yang tinggi semampai dengan wajah cantik.

Berbeda dengan suara Nyai Bei, suara Woro Pardjinem lebih berat, tetapi lembut, yang bersangkutan ialah istri dari pengendang kesayangan Bung Karno bernama Bisono. Syarat terpenting dapat menjadi pesinden kesayangan Bung Karno ialah mereka harus dapat membawakan tembang Pangkur Palaran favorit Bung Karno. Bisono bersama istrinya Woro Pardjinem, seminggu sekali tampil di Istana mengiringi penulis dan adik-adik berlatih tari, khususnya tari Gatotkaca untuk penulis dan tari Menak Jinggo & Dayun untuk adik-adik.

Pada saat jeda, biasanya Bung Karno minta agar Woro Pardjinem melantunkan tembang Pangkur Palaran. Bila kebetulan Nyai Bei ada di Jakarta, Bung Karno minta mereka ‘duet’ melantunkan Pangkur Palaran. Suaranya menggema kuat ke seluruh pojok aula Istana Merdeka. Bukan main! Kesukaan Bung Karno juga ‘instrumental’ gamelan dengan tembang Sampak Songo yang dinamis. Di sini peran pengendang Bisono sangat dominan dengan pukulannya yang mantap memberi irama.

 

Inisiatif Bung Karno untuk wayang kulit

Sebagai seorang seniman, banyak ide Bung Karno untuk dunia pewayangan, khususnya wayang kulit. Di Istana, Bung Karno mempunyai seorang penatah wayang kulit bernama Tjermo Suwedo. Bung Karno memerintahkan Tjermo Suwedo membuat wayang gadis penari Serimpi, yang bagian leher dan pinggangnya dapat digerakkan oleh sang dalang mengikuti gerakan dan irama tari Serimpi di wayang orang.

Untuk melatih Ki Dalang Gito Sewoko menggerak-gerakan wayang Serimpinya, butuh waktu berminggu-minggu di bawah pengawasan langsung Bung Karno, hingga wayang Serimpi tadi benar-benar luwes dan gemulai.

Saat wayang serimpi muncul pertama kali di pergelaran wayang kulit di Istana Negara, ternyata mengagetkan para penggemar dan pakar wayang kulit. Timbul pro dan kontra. Mereka mempertanyakan apakah di era Pandawa Lima sudah ada tari Serimpi. Hal ini jelas keluar dari pakem. Prof Muh Yamin merasa perlu ‘menyelidikinya’ di relief Candi Borobudur, Prambanan, bahkan Penataran di Blitar.

Bung Karno berpegang pada reaksi penonton yang mayoritas gembira serta kagum. Selain itu, Bung Karno juga menginstruksikan agar Tjermo Suwedo membuat tokoh Gatotkaca baru untuk menggantikan Gatotkaca lama yang menurut Bung Karno kurang mbregas (gagah).

Atas karyanya itu, Bung Karno memberi nama Gatotkaca yang baru dengan nama Guntur Geni. Atas pesanan seorang pengusaha Mardanus pada 6 Juni 1966, Tjermo Suwedo berhasil menyelesaikan Gatotkaca berikutnya, yang oleh Bung Karno diberi nama Guntur Prahoro. Berikutnya lahir lagi Gatotkaca pesanan Marsekal Madya (Purn) Budiardjo yang diberi nama Guntur Gelap pada 1966.

 

Bedug masjid masuk peralatan gamelan

Ide lain Bung Karno, yang membuat heboh, melengkapi peralatan kendang dengan sebuah bedug masjid, yang digunakan untuk mengiringi adegan Werkudara melompati sebuah gunung atau menarikan tari kemenangan Tayungan. Pada tarian ini, yang tadinya gamelan ditabuh berlaras Diatonis berganti dengan laras Pentatonis atau Pelog.

Demikian pula, pada adegan Gatotkaca ngambah gegono (terbang ke angkasa) bedug tadi di tabuh oleh seorang penabuh khusus yang selalu berkoordinasi dengan pengendang Bisono.

Ada hal lain yang selalu ditunggu para tamu, yaitu suguhan nasi rawon Bu Tjitro plus segelas kopi hitam racikan pada pukul 00.00. Saat mendekati pukul 06.00, pergelaran ditutup oleh Ki Dalang Gito Sewoko dengan melakukan Tantjep Kayon, pertanda pertunjukan usai. Mengiringi Bung Karno kembali ke Istana Merdeka beralunlah suara duet Nyai Bei dan Woro Pardjinem dengan melantunkan tembang Pangkur Palaran!

BERITA TERKAIT