11 October 2021, 05:00 WIB

Penguatan Karakter Melalui Pendidikan Bela Negara


Apridar Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Syiah Kuala (USK), Komite Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe | Opini

PENGELOLAAN sumber daya manusia (SDM) untuk pertahanan negara merupakan suatu keharusan bagi setiap bangsa yang berdaulat. Untuk menjamin keberlangsungan perjalanan hidup bangsa, proteksi terhadap berbagai ancaman, baik militer maupun nonmiliter, sangat diperlukan terhadap keselamatan bangsa dalam wilayah NKRI. Bahkan, setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara (UUD 45 Pasal 27 ayat 3; Pasal 30 ayat 1).

Selama ini, bela negara identik atau dipahami hanya sebatas militer saja. Padahal, menurut UU No 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional (PSDN) untuk Pertahanan Negara, bela negara merupakan tekad, sikap, dan perilaku serta tindakan warga negara, baik secara perseorangan maupun kolektif, dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa serta negara. Setidaknya, masih menurut UU ini, ada empat bentuk partisipasi masyarakat dalam bela negara, yakni pendidikan kewarganegaraan, pelatihan dasar kemiliteran, pengabdian sebagai prajurit TNI secara sukarela atau wajib, dan pengabdian sesuai dengan profesi.

 

 

Kampus Merdeka

Program Kampus Merdeka dicanangkan sejak awal Mas menteri Nadiem Makarim menjabat sebagai Mendikbud (sekarang Mendikbud-Ristek). Program Kampus Merdeka mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan dengan pembelajaran sistem kredit semester (SKS) dan keleluasaan selama dua semester melakukan kegiatan di luar kelas. Selama ini, hampir seluruh mahasiswa belajar di dalam kelas saja. Kebijakan tersebut bertujuan mengenalkan dunia kerja kepada mahasiswa sejak dini. Harapannya agar mahasiswa jauh lebih siap kerja nantinya setelah lulus dari perguruan tinggi (PT).

Kebebasan yang ditawarkan Kampus Merdeka utamanya kepada kesiapan kampus mencetak lulusan yang siap digunakan di dunia kerja. Berbagai keran kemudahan dibuka agar lulusan nantinya tidak canggung dalam menghadapi dunia kerja yang begitu luas di depan mata. Kemampuan membaca peluang sangat ditonjolkan pada Kampus Merdeka yang sedang digarap Mendikbud-Ristek.

Ikatan kerja sama dengan berbagai dunia kerja yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh kesempatan melatih diri untuk bekerja merupakan peluang yang sangat diharapkan. Pemanfaatan potensi milenial agar cepat melek kerja diakui sebagai bagian yang akan mampu mempercepat lulusan dalam memperoleh kesempatan untuk berkarya dan menghasilkan pendapatan lebih semakin dekat kepada kenyataan.

 

 

Pendidikan karakter

Namun, di sisi lain, program Kampus Merdeka terasa hanya berfokus pada penyiapan mahasiswa secara intelektual dan keterampilan kerja. Program tersebut seakan lupa pada penyiapan karakter mahasiswa yang mampu menghadapi tantangan global secara cerdas.

Untuk melindungi dan memberikan proteksi terhadap berbagai aliran pemikiran yang dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, sangat diperlukan pendidikan dengan wawasan bela negara. Karena itu, rongrongan yang ingin memecah belah bangsa dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab akan mudah ditangkal.

Kesiapan seluruh warga terhadap program mulia bela negara dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan produktivitas dengan cara berlatih dan mendisiplinkan diri sehingga menjadikan bangsa terhindar dari perpecahan dan kerentanan terhadap masuknya budaya luar yang merusak tatanan kehidupan bangsa dan negara. Keterpaduan dan kekuatan SDM bangsa merupakan modal utama penyokong terhadap majunya peradaban suatu bangsa. Dengan SDM yang andal, tentu akan mampu mengelola sumber daya alam (SDA) dengan baik dan benar untuk kesejahteraan warganya.

Tantangan yang saat ini sedang hadir di depan mata dan tidak boleh dinafikan ialah tingkat kecintaan generasi muda terhadap bangsa dan negara. Dengan semakin berkurang rasa nasionalisme mahasiswa, ditakutkan bangsa akan mudah disetir kepentingan luar yang dapat merugikan bangsa dan negara. Kecintaan Tanah Air perlu dilatih secara berjenjang dan sistematis agar rasa memiliki terhadap bangsa dan negara tertanam dalam jiwa dan raga sanubari yang dalam. Karena itu, bentuk kecintaan yang dilahirkan tidak merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendidikan bela negara merupakan materi yang mesti dienyam setiap generasi penerus bangsa. Pendidikan bela negara merupakan amanat undang-undang yang harus dijalankan sesuai dengan profesi. Sebagai mahasiswa, pendidikan bela negara dapat melalui pogram atau mata kuliah civic education. Bela negara tidak melulu latihan angkat senjata karena memang tidak diwajibkan UU PSDN untuk Pertahanan Negara. Mata kuliah civic education bisa diarahkan pada pembentukan karakter yang dapat memahami dan mendukung keutuhan NKRI, memahami dan menyadari perbedaan, toleran terhadap keragaman ras, budaya dan agama, hingga sebagainya.

Sayangnya, mata kuliah civic education atau yang sejenisnya tidak masuk program Kampus Merdeka. Memang ia merupakan mata kuliah wajib, tapi lihat apa hasilnya bagi pembentukan karakter mahasiswa? Saya khawatir program Kampus Merdeka hanya akan menciptakan insan yang memiliki keterampilan dan ilmu pengetahuan saja. Tentu saja manusia yang memiliki pengetahuan akan lebih tinggi derajatnya ketimbang orang yang tidak menguasai ilmu pengetahuan.

Dengan ilmu pengetahuan yang mumpuni, tentu akan mudah dalam mengorganisasi potensi yang ada untuk kemaslahatan umat manusia. Karena itu, tidaklah berlebihan bila disebutkan bahwa ilmu pengetahuan sebagai 'lokomotif' yang akan menggerakkan pembangunan suatu bangsa. Namun, menguasai ilmu pengetahuan yang tinggi dan terampil akan berbahaya jika tidak dilandasi karakter yang baik.

Berbagai kemudahan yang ditawarkan Kampus Merdeka merupakan peluang untuk mengambil berbagai kombinasi ilmu yang sesuai keinginan dan kemampuan dari peserta didik. Di sinilah letak kekhawatiran saya, yaitu jangan sampai kemudahan tersebut membuat hilangnya jati diri mahasiswa, akhlak mahasiswa yang merupakan cerminan bangsa yang berperadaban. Penguatan pendidikan bela negara hendaknya mampu membentengi budaya yang telah tertanam sejalan dengan keyakinan agama yang terbingkai dalam NKRI.

Budaya santun dengan etika, moral, dan sikap yang baik harus mampu menjadi benteng para mahasiswa yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mumpuni seperti yang diharapkan dalam program Kampus Merdeka. Penguatan karakter ini hendaknya ditingkatkan dan dijadikan sebagai pembatas agar generasi ke depan tidak terjerumus ke dalam lembah kenistaan. Semoga bangsa dan negara Indonesia terlindungi dari berbagai ancaman yang dapat merobek persatuan yang telah lama dirajut para pendiri bangsa.

BERITA TERKAIT