08 October 2021, 05:00 WIB

Keresahan Net Generation di Balik Tumbangnya Media Sosial


Rahma Sugihartati Dosen isu-isu masyarakat digital Prodi S-3 Ilmu Sosial FISIP Unair | Opini

TIDAK hanya Facebook, Whatsapp dan Instagram dilaporkan juga tumbang. Media sosial paling populer yang digunakan para netizen ini, Selasa, 5 Oktober 2021 kolaps dan tidak bisa dimanfaatkan sekitar 6-7 jam. Media sosial lain masih bisa dimanfaatkan, tetapi karena pengguna media sosial milik Mark Zuckerberg itu digunakan sekitar 2,8 miliar orang di berbagai negara, akibatnya pun banyak netizen kelabakan.

Semula banyak orang mengira kesulitan untuk bermedia sosial ialah dampak dari gangguan yang dialami jaringan internet Telkom yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Para netizen yang sudah merasa lega karena koneksi internet belakangan ini kembali pulih tiba-tiba dihadapkan pada situasi yang tidak dibayangkan. Media sosial yang biasa mereka pergunakan tiba-tiba down. Keresahan pun seketika muncul di berbagai tempat. Terutama, pada kelompok anak muda yang masuk kelompok net generation.

 

Net generation

Di antara para pengguna media sosial, memang salah satu kelompok yang paling merasakan dampak tumbangnya tiga media sosial paling populer, tak pelak, ialah para net generation. Berbeda dengan generasi baby boom yang dibesarkan ketika kehidupan mereka sehari-hari lebih banyak didominasi tayangan dan berbagai acara televisi, net generation ialah generasi yang tumbuh besar dalam konteks akselerasi perkembangan teknologi informasi yang luar biasa cepat dan memiliki ketergantungan yang kuat pada media sosial.

Para netizen, terutama kelompok anak muda di era abad ke-21, pada dasarnya ialah bagian dari generasi virtual, yang sering kali lebih banyak menghabiskan untuk menggunakan handphone, berhadapan dengan komputer, memakai Ipod dan Ipad, dan berinternet daripada kegiatan sehari-hari yang lain.

Berkomunikasi dengan handphone atau smartphone, dan berinternet dengan jejaring Facebook, Whatsapp, atau yang lain sering kali menjadi aktivitas yang menarik, serta menghabiskan waktu berjam-jam. Bahkan, melebihi waktu yang mereka habiskan untuk menonton televisi, tidur, atau bermain dengan peer-group mereka. Bagi net generation yang benar-benar kecanduan untuk bermedia sosial, ketika Facebook, Whatsapp, dan Instagram tumbang, bisa dipahami, mereka merasa kehilangan besar.

Berselancar di dunia maya ialah kehidupan dan aktivitas rutin yang biasa dilakukan net generation, baik ketika mereka berada di sekolah, belajar di rumah, atau ketika jalan-jalan ke mal. Menyapa teman melalui media sosial dan memberikan informasi lain yang perlu ialah aktivitas yang menyenangkan bagi net generation karena di mana pun mereka berada, mereka tidak akan pernah kesepian sepanjang dalam genggaman tangan mereka ada handphone, atau di hadapan mereka ada laptop yang bisa dimanfaatkan untuk chatting dan berselancar di dunia maya.

Alch (2000) yang secara khusus pernah mengkaji net generation menyatakan kebutuhan dari net generation ini ialah untuk mengatur lingkungan mereka, mendapatkan informasi secepat dan semudah mungkin, meluangkan banyak waktu untuk diri sendiri, dan tidak ingin dikekang dalam kehidupan mereka.

Poindexter (1999) menemukan anggota generasi X sangat mirip dengan baby boomer dalam penggunaan web, untuk kebutuhan hiburan/entertainment, dan secara signifikan menggunakan web tersebut untuk menemukan informasi yang berkaitan dengan entertainment atau untuk bersenang-senang.

Net generation sebenarnya bukanlah sekelompok anak muda yang muncul begitu saja. Kemunculan mereka sangat terkait dengan inovasi dan perkembangan mutakhir teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi. Kehadiran net generation didahului generasi-generasi yang juga mempunyai karakteristik yang khas--yang berbeda dengan net generation, tetapi tetap berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi.

Karena net generation tumbuh dalam perkembangan dan kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi, bagi mereka bisa dikatakan 'technology is like the air'. Ungkapan itu tidak berlebihan sebab bagi generasi muda, yang namanya komputer, laptop, handphone, internet, dan bahkan Ipod atau Ipad sudah tidak lagi merupakan hal yang asing. Di abad ke-21, meluasnya penggunaan perangkat gadget dan internet tidak hanya menjadi monopoli anak muda di berbagai negara maju, tetapi boleh dikata telah meluas ke berbagai negara--tak terkecuali di Indonesia.

 

Ketergantungan

Di Indonesia, jumlah pengguna gawai dan internet diperkirakan telah mencapai 180 juta lebih netizen. Sebagian besar pengguna dan pengakses internet ialah anak muda, yang disebut sebagai kelompok net generation. Menurut Tapscott (2009), beberapa ciri atau karakteristik yang menandai net generation, selain scrutiny dan collaboration, ialah freedom.

Freedom ialah karakteristik atau tipikal pertama dari net generation yang berkaitan dengan suatu pemahaman bahwa internet telah memberikan mereka kebebasan untuk memilih apa yang hendak dilakukan, apa yang dibeli, di mana hendak bekerja, atau ketika mereka melakukan hal-hal seperti membeli buku atau berbicara dengan teman, dan bahkan mereka hendak menjadi siapa. Mereka dikatakan sebagai kelompok yang mempunyai kebebasan lebih jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya karena dapat melakukan aktivitas yang mereka gemari dengan bantuan teknologi informasi tanpa harus dipertanyakan mereka layak atau tidak.

Sementara itu, scrutiny ialah karakteristik yang berkaitan dengan sikap kritis. Net generation mempunyai sikap kritis yang baru. Berbeda dengan generasi sebelumnya, yang terbiasa terhegemoni dan tidak memiliki pandangan alternatif, di kalangan net generation akses mereka pada berbagai sumber informasi sangat terbuka. Terutama, hal itu mereka peroleh dari sejumlah besar sumber informasi pada web, tidak termasuk informasi yang tidak reliable, sehingga menjadikan kelompok anak muda yang akrab dengan TI ini umumnya memiliki kemampuan membedakan antara fakta dan fiksi, antara nyata dan yang semu.

Collaboration merupakan karakteristik yang memberi pemahaman bahwa net generation umumnya memiliki insting alami untuk terus berkolaborasi dan berinovasi karena interaksi online yang mereka kembangkan. Meski ada kekhawatiran sebagian pihak bahwa seseorang yang membenamkan diri ke dalam dunia maya cenderung bersikap soliter dan meninggalkan arti penting kolaborasi dengan pihak lain, justru di kalangan net generation hal itu tidak terjadi. Mereka ialah generasi yang terus mengembangkan jejaring sosial (seperti melalui Facebook, Twitter) sehingga membuka peluang berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk kepentingan tertentu saat ini dan masa depan.

Dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka, net generation yang hidup di era digital seperti sekarang harus diakui menjadi sangat bergantung pada media sosial dan internet. Kehilangan media sosial, bagi net generation, jelas merupakan kerugian besar. Akan tetapi, untuk mencegah agar net generation tidak kebablasan makin tergantung, atau bahkan kecanduan untuk terus bermedia sosial, momen tumbangnya Facebook, Whatsapp, dan Instagram seyogianya menjadi masa untuk menakar kembali eksistensi sosial net generation agar tidak digilas perkembangan teknologi informasi dan internet.

BERITA TERKAIT