05 October 2021, 05:00 WIB

Manusia Silver dan Kemiskinan


Ali Khomsan Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB | Opini

DI Malaysia beberapa tahun lalu, saya menjumpai manusia silver di tempat keramaian turis berlalu-lalang, dan dia berpose seperti patung untuk berfoto bersama turis. Manusia silver tersebut pun memperoleh tip sebagai upah.

 

 

Kebutuhan ekonomi

Seorang pensiunan Polri, bernama Agus Dartono, menjadi manusia silver di Kota Semarang untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Kejadian ini membuatnya viral karena saat itu dia ditangkap Satpol PP. Motivasinya ialah karena melihat orang lain begitu mudah mendapatkan uang setelah menjadi manusia silver. Manusia silver yang pensiunan Polri ini melakukan hal tersebut untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.

Dia sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan martabat Polri. Namun, himpitan ekonomi yang menyebabkan dirinya menerjunkan diri ke jalanan dengan profesi sebagai manusia silver.

Di berbagai media diungkapkan bahwa di kota-kota besar keberadaan manusia silver kian marak. Menjadi manusia silver kini menjadi salah satu cara mengamen yang populer di jalanan kota. Kejadian adanya bayi yang dilumuri cat silver di Pamulang, Tangerang Selatan, juga sempat membuat masyarakat miris.

Awalnya, para manusia silver ini tergabung dalam ‘Komunitas Silver Peduli’. Komunitas ini merupakan gerakan donasi untuk anak yatim. Aktivitas manusia silver, dengan dalih meminta sumbangan untuk anak yatim piatu ini sudah pernah dilarang oleh Dinas Sosial Kota Bandung. Pelarangan ini dilakukan karena keberadaan ‘Komunitas Manusia Silver’ melanggar Perda K3, Undang-Undang Lalu Lintas, dan UU Nomor 9 Tahun 1061 tentang Pengumpulan Uang atau Barang.

Dari aspek kesehatan, penggunaan cat silver ini berbahaya. Sebab, melumuri tubuh dengan cat silver bisa memicu alergi. Cat silver biasanya digunakan untuk koin, perhiasan, hingga keperluan fotografi. Manusia silver menjadi rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan udara yang dipenuhi polusi logam berat. Penelitian yang dilakukan di Guatemala menemukan, 92% anak jalanan terserang kutu dan jamur, dan 88% terkena infeksi pernapasan. Di saat pendemi covid-19, dan semakin langkanya peluang kerja, menyebabkan manusia silver eksis kembali dan bertebaran di jalanan kota besar.

Setali tiga uang dengan manusia silver, keberadaan badut jalanan di lampu merah juga cukup marak. Di Kota Bogor, dapat dijumpai beberapa badut sekaligus dalam satu perempatan lampu merah yang sama. Baik manusia silver maupun badut, mencerminkan kemiskinan absolut yang dialami pelakunya karena sulitnya mengakses lapangan kerja yang layak di saat pandemi.

Kesulitan ekonomi keluarga menjadi alasan utama manusia silver turun ke jalanan. Tidak bisa dimungkiri bahwa pandemi covid-19 telah menambah jumlah orang miskin di Indonesia. Program bantuan sosial yang selama ini ada, mungkin belum sepenuhnya memecahkan persoalan ekonomi mereka yang terdampak pandemi. Itulah sebabnya, pilihan turun ke jalan sebagai manusia silver ataupun badut jalanan akhirnya harus dijalani.

 

 

Potensi zakat

Social security program dimaksudkan agar bantuan untuk orang miskin memungkinkan mereka tetap bisa mengakses pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan. Di Amerika, beberapa program untuk orang miskin diselenggarakan dengan sistem voucer. Dengan voucer inilah, orang miskin dapat memperoleh makanan secara gratis dari toko swalayan terdekat. Mereka dapat membayar keperluan gas di musim dingin dengan mendapatkan diskon dll.

Di AS, penerima voucer Food Stamp Program dapat menukar voucernya dengan makanan apa saja di berbagai supermarket, sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Orang-orang yang layak mendapat voucer Food Stamp Program ialah warga negara AS yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara itu, voucer WIC (Women, Infants, and Children) Program dapat diterima untuk keluarga-keluarga miskin yang memiliki anak balita, ibu hamil, dan ibu menyusui tanpa memperhatikan status kewarganegaraannya. Banyak warga asing, termasuk mahasiswa Indonesia, yang memanfaatkan voucer dari WIC Program.

Beberapa organisasi sosial kemasyarakatan (misalnya Badan Amil Zakat/BAZ), mempunyai potensi besar untuk berperan membantu masyarakat miskin. Konon, potensi zakat per tahun di negara kita sekitar Rp50 triliun, tetapi baru 10% yang dapat dikumpulkan. Penduduk muslim di Indonesia, dapat menolong saudara-saudaranya yang kurang mampu melalui pengumpulan dan penyaluran zakat.

Alokasi dana zakat tentunya jangan dibatasi untuk hal-hal yang bersifat keagamaan saja, tetapi juga untuk menghidupkan roda ekonomi masyarakat miskin dengan cara memberikan bantuan modal. Di samping itu dana zakat, juga bisa diberikan dalam wujud beasiswa bagi murid-murid dari keluarga miskin, atau memperkuat pelayanan program gizi dan kesehatan seperti posyandu.

UUD 1945 di dalam salah satu pasalnya menyebutkan: Fakir miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara. Pasal-pasal UUD 1945 untuk membantu masyarakat miskin telah dirumuskan oleh founding fathers kita. Untuk itu, pemerintah tentu sudah merumuskan dengan sebaik-baiknya program pengentasan kemiskinan yang tepat sasaran dan mempunyai daya ungkit siginifikan untuk mengentaskan masyarakat miskin agar mereka bisa segera bangkit dari himpitan ekonomi yang kini dirasakan semakin berat.

Kemiskinan ialah problem sosial masyarakat yang tidak mudah diatasi. Sejak zaman Orde Baru, program-program untuk mengatasi kemiskinan telah dijalankan. Kini di saat pemerintah sudah membanggakan diri dengan angka kemiskinan single digit (di bawah 10%) ternyata pandemi covid-19 memorak-porandakan segala pencapaian yang telah diraih pemerintah.

Harapannya, beberapa waktu setelah covid-19 mulai mereda semoga perekonomian Indonesia bisa lari semakin kencang mengejar berbagai ketertinggalan sehingga upaya menyejahterakan masyarakat dapat kembali dirasakan. Maraknya manusia silver yang meraih rezeki di jalanan ialah indikasi bahwa kondisi ekonomi keluarga yang kepepet, membuat mereka yang menjadi korban, harus berjibaku setiap hari melawan terik matahari di jalan raya yang terkadang membahayakan kesehatan pelakunya.

BERITA TERKAIT