05 October 2021, 05:05 WIB

Bahasa dan Sastra, Jalan Menjadi Manusia


Bernardus T Beding Dosen PBSI Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng | Opini

BANGSA Indonesia memaknai rentangan waktu selama Oktober sebagai ‘Bulan Bahasa Nasional’. Alasan mendasar, bulan Oktober dipilih sebagai bulan bahasa dan sastra, merujuk pada sejarah bangsa. Pada bulan ini, diperingati Hari Sumpah Pemuda, yakni bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi dan diikrarkan pada 28 Oktober 1928.

Ikrar Sumpah Pemuda, khususnya butir ke tiga berbunyi, “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Artinya, bangsa Indonesia bertekad untuk selalu menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sejak saat itu, bahasa Indonesia secara resmi sebagai bahasa perjuangan politik oleh seluruh masyarakat Indonesia.

 

 

Bulan bahasa

Dalam konteks bulan bahasa, berbagai kegiatan beraroma ‘bahasa dan sastra’ diselenggarakan oleh berbagai kalangan masyarakat, baik di lembaga-lembaga pendidikan, komunitas-komunitas dan organisasi-organisasi literatif, maupun pemerintahan daerah, bahkan kementerian. Kegiatan dimaksud seperti, seminar bahasa, perlombaan penulisan karya-karya ilmiah, debat ilmiah, pembacaan karya sastra, perlombaan penulisan karya-karya sastra, dan sebagainya.

Semua upaya ini merupakan jalan untuk makin mengakrabi bahasa sebagai salah satu medium pemanusiaan manusia. Artinya, sebenarnya manusia diarahkan untuk makin menjadi manusiawi melalui bahasa dan sastra. Ini berarti berbahasa menjadi keunggulan manusia mendapatkan ruang pemaknaan yang wajar.

Ketika memasuki bulan bahasa seperti sekarang ini, saya menjadi teringat pada rubrik-rubrik iteratif pada Surat Kabar Harian Kompas edisi Minggu. Setiap rubrik Kompas Minggu memberikan pemahaman baru pada berbagai dimensi kehidupan manusia. Sebenarnya, setiap rubrik diisi dengan hal-hal yang sangat serius, tetapi diramu dengan bahasa-bahasa ringan, bahkan penulis seolah-olah sedang bermain dengan kata. Gaya pengungkapan dan narasi diksi yang human, membuat para pembaca merasa senang dan damai. Misalnya pada rubrik sastra, cerpen, dan puisi-puisi yang ditampilkan seakan menenggelamkan para pembaca dan menghanyutkan jiwa mereka.

Walaupun demikian, masih menjadi tantangan tersendiri soal minat berbahasa, khususnya dalam aspek membaca dan menulis. Saya menjadi ingat masa sekolah menengah, saya pernah membaca sebuah artikel milik Mohamad Sobary, seorang budayawan dan kolumnis yang diterbitkan pada Kompas edisi Minggu, 25 Mei 1997. Saya dapat memahami, isi artikel Sobary merupakan ungkapan kekesalan terhadap momen perlombaan menulis artikel yang diadakan Kompas, Jakarta Post, dan IKAPI untuk meramaikan ‘pesta’ buku 14-22 Juni 1997. Yang menjadi masalah ialah momen ‘pesta’ itu tidak diminati orang. Sobary sampai beropini, “Kita tidak tahu persis apa sebabnya, mungkin mereka tidak begitu gemar membaca atau sesungguhnya mengarang bagi kebanyakan orang memang sukar.”

Latar itulah, yang mendorong saya untuk memfokuskan tulisan ini, pada pengembangan minat baca bagi anak-anak dan generasi muda yang akan menjadi estafet masa depan bangsa dan negara Indonesia tercinta ini. Bagi saya, tidak dapat dimungkiri, bahwa anak-anak kadang dilupakan dalam kegiatan-kegiatan untuk mengisi bulan bahasa.

Prof Riris K Toha Sarumpaet, MSc, PhD, seorang sastrawan berkebangsaan Indonesia pernah menulis, bahwa bacaan untuk anak merupakan dunia yang paling sulit. Di tengah melewati tahap perkembangan, anak-anak harus dituntut untuk menjadi baik. Padahal, perasaan, mata, telinga, dan pikiran mereka masih sangat halus. Karena itu, para penulis bacaan anak mesti seseorang yang mengenal dan menghargai anak sehingga dapat menuliskannya dengan citarasa yang khas, misalnya, dengan semangat sastra.

Hal inilah yang menyebabkan budayawan, YB Mangunwijaya mengatakan bahwa dalam ranah tulis-menulis, cerita anak ialah yang tersulit. Penulis yang notabene orang dewasa, mesti meletakkan dirinya sebagai anak dalam dunia fantasi yang kreatif tetapi untuk sekaligus mampu menjadi pembimbing yang baik.

Seperti pepatah, ‘masuk kandang kambing harus mengembik’. Artinya, ketika seorang menulis cerita anak, ia harus banyak membaca dan mempelajari kehidupan anak karena buku cerita anak yang menyenangkan sesungguhnya mendekatkan anak pada dunianya sendiri, serta belajar hidup dalam kehidupan, secara perlahan mendekatkan pada dunia pemikiran, dunia buku, dunia bahasa. Dengan demikian, anak akan gemar membaca, belajar, dan berkembang dalam pemikiran, serta menghargai kehidupan.

Anak memiliki semangat dan gemar membaca buku karena para penulis dan pengaranglah yang mampu merekayasa kehidupan masa depan. Dengan perbendaharaan pengetahuan pribadinya yang mahaluas, para penulis menggiring anak-anak, memasuki panorama dunia luas dengan aneka kemungkinan. Melalui bacaan yang luas, anak-anak mengenal keberanian, harapan, kejujuran, daya juang, dan bertahan hidup, kasih sayang, pengertian yang membangun menjadi sosok manusia yang utuh.

Tidak heran, jika di negara maju banyak penulis cerita anak memiliki kehormatan tinggi. Mereka dihargai secara terpandang karena keluasan wawasan dan prohetic eye, serta merelakan seluruh hidupnya untuk membangun jalan pemanusiaan bagi anak-anak. Mereka berikhtiar membangun manusia masa depan melalui karya bahasa dan sastra.

 

 

Daya pikir

Bacaan-bacaan sastra, memiliki pengaruh besar pada kehidupan pembacanya, terutama, bacaan sastra anak. Daya pikir anak, dicerdaskan dan diperluas dengan menawarkan keseimbangan. Anak menjadi toleran, lebih sabar, dan pada tingkat tertinggi bacaan yang luas dan pengalaman yang tertimba dari karya imajinatif sastra, amat berandil dalam pengembangan dan pematangan kemampuan bahasa anak. Bahasa tidak lain merupakan gambaran manusia dalam manifestasi dari pemikirannya.

Bacaan sastra menularkan kegairahan memahami hidup. Melalui logika yang cermat dan diksi yang tepat, bacaan sastra akan membentuk manusia muda yang suka berpikir dan memiliki kemampuan untuk merefleksi. Pengolahan diri, dalam genangan kontemplasi inilah, yang memaksa manusia, untuk mengungkapkan diri dalam bahasa, melalui pembicaraan dan tulisan. Anak tidak gemar membaca tentu tidak akan gemar menulis.

Pertanyaannya, mengapa banyak anak tidak gemar membaca dan mengakrabi buku? Jawabannya, karena semasa kecilnya, anak-anak tidak pernah diajari orang tuanya untuk membaca buku. Membaca hanya sebatas aktivitas fungsional di dalam kelas. Perihal menulis, anak hanya diberi bimbingan tentang pengetahuan teknis. Sementara itu, keruntutan pemikiran dan kejelasan makna tidak tersentuh.

Hal ini memungkinkan lahirlah generasi buta huruf yang tidak mengecap kenikmatan buku, dan tidak mampu mengutarakan pikirannya secara baik meski ia memiliki ide dan gagasan dalam tempurung otaknya. Bagus dan baik, jika orang dewasa, khususnya orang tua membangun ekosistemyang mendukung literasi dasar berbahasa (membaca dan menulis) dalam keluarga.

Buku harus menjadi bagian dari kehidupan anak-anak sejak dini untuk dicintai dan dinikmati isinya. Hanya kita, orang dewasa yang harus mendorong minat baca anaak-anak. Bacaan anak-anak, khususnya bacaan sastra sangat membantu memanusiakan anak.

Bacaan merawat jiwa anak dari bahaya kekerdilan dan kekeringan zaman. Lebih dari itu, kita harus memberi teladan dengan membangun kebiasaan membaca di rumah, di tempat-tempat umum sambil menunggu sesuatu, dan di mana saja yang memungkinkan ada kesempatan untuk membaca (atau menulis). Inilah satu jalan untuk menjadikan anak-anak manusia.

BERITA TERKAIT