26 September 2021, 05:35 WIB

Peduli Cuaca


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

SELASA (21/9) sore, sebagian wilayah Depok, Jawa Barat, diterpa hujan deras dan angin kencang. Kejadiannya singkat, sekitar 15 menit, tetapi mampu menumbangkan sejumlah papan reklame, baliho, dan pohon di pinggir jalan. Entah, apakah itu yang disebut anomali cuaca atau bukan, saya kurang paham.

Namun, yang pasti, seumur-umur saya baru melihat angin bertiup sekencang itu secara nyata bukan cuma di layar kaca. Anda pun barangkali ikut menyaksikannya lewat potongan video yang berseliweran di lini masa. ‘Ini sih badai, bukan hujan angin lagi’, begitu tulis seorang warganet di kolom komentar akun Instagram @infodepok_id, mencoba menganalisis.

Kalau menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati, peristiwa semacam ini termasuk bencana hidrometeorologi, yakni bencana yang diakibatkan oleh beberapa parameter meteorologi, seperti curah hujan, kelembapan, temperatur, dan angin. Dampaknya bisa berupa banjir, badai, longsor, dan sebagainya. Sejak akhir bulan lalu, Profesor Geologi Lingkungan dan Mitigasi Bencana Universitas Gadjah Mada ini bahkan sudah mewanti-wanti bahwa bencana serupa ini akan datang lebih awal di 2021. Artinya, enggak perlu lagi menunggu akhir atau awal tahun, seperti bonus perusahaan.

Selama September ini, seperti dilansir di laman BMKG, mayoritas wilayah di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat, bahkan diprediksi bakal sering dilanda hujan deras. “Cuaca ekstrem berpotensi besar terjadi selama musim peralihan. Mulai hujan disertai petir dan angin kencang serta hujan es,” kata Dwikorita, Rabu atau sehari setelah peristiwa di Depok itu. Apa yang disampaikan perempuan peraih gelar PhD di bidang Earth Science dari Leeds University itu, tentu ada dasar pertimbangan ilmiah dan semestinya tidak bergema di ruang hampa. Ia harus jadi peringatan bagi kita semua, khususnya para pemangku kepentingan kota, supaya waspada.
 
Daripada sibuk pasang baliho pilkada yang perhelatannya masih lama, lebih baik tertibkan lagi sejumlah papan iklan di pinggir jalan. Periksa apakah tiangnya masih kuat atau jangan-jangan sudah keropos. Pangkasi juga pohon yang telah rimbun dan rawan tumbang, jangan sampai mencederai, apalagi sampai merenggut nyawa pengguna jalan. Semua langkah itu merupakan bagian dari mitigasi bencana. Jangan ujug-ujug datang bikin konten ‘unjuk keprihatinan’, setelah banjir meluluhlantakkan permukiman warga. Itu sih drama. “Basi!,” kalau kata netizen.

Namun, yang pasti, peringatan tentang bencana hidrometeorologi yang disampaikan Ibu Dwi dan jajarannya, jelas bukan basa-basi dan harus serius diantisipasi. Apalagi, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebagian besar atau 95% bencana yang ada di Indonesia merupakan bencana jenis ini. Salah satu penyebabnya karena faktor iklim, yang menurut para pakar lingkungan, kini mulai enggak karuan. BNPB menyebut Siklon Tropis Seroja yang melanda Nusa Tenggara Timur dan menyebabkan banjir bandang pada pertengahan tahun lalu, merupakan salah satu contohnya.

Menurut Dwikorita, sejak satu dekade terakhir kejadian siklon tropis semakin sering terjadi. Bahkan pada 2017, dalam satu pekan bisa terjadi dua kali. Hal ini, kata dia, menunjukkan dampak perubahan iklim global memang harus benar-benar segera diantisipasi.

Minimal, mulai sekarang, kita (sebagai anggota masyarakat), harus lebih aware (peduli) memperhatikan peringatan cuaca yang sering disampaikan BMKG di berbagai platform. Jangan cuma sibuk tak kenal waktu melototi mereka yang berdendang dan bergoyang Mendung tanpo Udan, yang lagi hit di Tiktok dan Instagram. Kalau itu sih cukup selingan saja sambil dasteran atau sarungan.

BERITA TERKAIT