22 September 2021, 05:05 WIB

Bubur Ayam


Mudji Sutrisno Budayawan | Opini

ANDA mau menikmati rasa enak sedapnya bubur ayam Jakarta? Bisa Anda pilih lewat bubur ayam keliling yang tiap pagi-pagi sekali siap menyuapi Anda dengan sarapan pagi atau bisa Anda cari kelezatannya pada tempat-tempat khusus. Namun, ada satu lorong, bukan di Pacenongan (kelas menengah) atau di rumah makan hotel (kelas atas), melainkan di sudut-sudut Jatinegara, di Gondangdia atau Jalan Sabang.

Apa yang khas? Buburnya lezat dan gurih, dijual murah untuk ukuran Jakarta dan berada di sepanjang jalan kaki lima. Dengan uang Rp10.000 semangkuk lezat terhidang bersama teh pahit gratis penawar haus, ada yang Rp5.000.

Di sini tukang-tukang ojek, sopir-sopir mikrolet, atau pegawai kelas menengah ke bawah menikmati bersama anak istrinya. Kerap keluarga-keluarga dengan anak-anak empat sampai lima, yang jelas-jelas merupakan imigran dari pinggir ke kampung besar Jakarta, berbondong-bondong pada sore dan malam hari untuk makan di situ dengan lahapnya. Pemandangan ini menarik dan menunjukkan detak-detak napas kota Jakarta yang terasakan betapa sedikitnya oksigen segar di tengah polusi udara kotor mobil dan bakaran bensin penuh kekumuhan.

Ini juga menunjukkan betapa banyak sudut-sudut kampung berbubur ayam, berbubur kacang hijau, serta bersoto ayam asli Betawi, ataupun warung-warung tegalnya menghidupi mulut-mulut sahaja dan kantong-kantong tipis para warga Ibu Kota ini.

Sudut kehidupan yang belum lama diberi predikat sektor informal ekonomi dan diberi nama kaki lima ini menegaskan Jakarta sama seperti kota-kota lain, yang sedang transisi dari kampung besar menjadi metropolis tetap beresensi kehidupan kampung dengan segala nilai budaya, termasuk sisi peradaban makanannya.

Ini mengingatkan akan substansi pembentuk Yogyakarta, yaitu susunan budaya dan masyarakat kampung yang menjadi rahim sekolahan hidup dan susu-susu pertumbuhan anak-anak luar Jawa yang kuliah dan tinggal di Yogya. Kampung-kampung Yogya dengan keramahan penduduknya, sapaan nilai kebersamaan. Termasuk, bahasa Jawa, yang tanpa memaksa akhirnya dihayati dan dipakai mahasiswa-mahasiswa luar Jawa, baik dari Batak, Minang, maupun Flores.

Ini telah membuat Yogya, dengan kampungnya menjadi sekolah hidup untuk bergaul, apalagi kedekatan letak Universitas Gadjah Mada dengan kampung-kampung sekitar telah membuat cara pandang mahasiswa-mahasiswi dan cara hidup mereka lebih populis, lebih kerakyatan. Karena itu, jati diri Yogya dengan ‘bubur ayam Yogya’, yaitu nasi gudeg dan lesehan Malioboro, merupakan simbol tetap bernapaskan kehidupan rakyat menuju ke hidup kota. Yogya mampu bertahan berabad-abad dalam jati dirinya justru karena kampung merupakan roh sejatinya.

Kembali ke bubur ayam, yang bila ditarik ke pigura budaya, sesungguhnya mampu menjadi napas kerakyatan dan kejelataan yang bisa-bisa menjadi bubur betul dan cair tak berdaya bila ditertibkan dan digusur atas nama Jakarta yang bersih, berwibawa.

Benarkah sudut-sudut bubur ayam, warteg Jatinegara, Jalan Sabang dll, atau warung-warung pinggir itu harus dibersihkan dan diganti dengan bangunan-bangunan mal dan beton-beton tempat makan yang tak mampu diraih kantong-kantong tipis pekerja harian dan kelompok masyarakat jelata Jakarta? Benarkah konsepsi dan visi bersih harus berarti memberi rapi kaku, tanpa memberi tempat tenda-tenda kerakyatan untuk para penjaja tetap bubur-bubur ayam?

Sayang, nasi sudah menjadi benar-benar bubur. Salah kaprah wajah kota telah telanjur diidentikkan dengan tertib fisik, rapi bersih fisik, hingga dilupakan roh kemanusiawian kota, yang justru letaknya pada tetap memberikan ruangan bagi kehirukpikukkan penjaja bubur ayam, dan hak hidup bagi pori-pori kecil para jelata menghidupi diri yang begitu kreatif. Begitu tahan bantingan di jalur-jalur lambat kaki lima. Akankah jalur-jalur kaki lima bubur ayam ini dinyatakan dilarang dan verboden atas nama kebersihan? Dengan akibat seperti Kota Solo, yang telah kehilangan napas dan roh kejelataan para penjual HIK (warung minuman jahe dan makanan-makanan kecil gorengan); warung-warung nasi liwet dan wedang dongo, yang kini diganti kebersihan fisik seragam rapi, tapi mati?

Dalam skala besar makro dan optik budaya makro, keputusan membongkar dan membangun kota hanya bersandarkan pertimbangan kerapian dan wajah modern fisik, tanpa menimbangnya dalam roh budaya sejarah, napas kehidupan jelata aslinya, dimensi nilai peradaban, dan bukan melulu kalkulasi ekonomis belaka. Di sana bubur-bubur ayam, simbol budaya jelata, dimatikan perannya, dalam memberi makanan bagi kelas jelata. Di sana pula hak hidup ketegaran sektor kaki lima mau diingkari kemandiriannya di Ibu Kota dengan menghilangkan eksistensinya.

Akan tetapi, karena bubur-bubur ayam merupakan satu lingkar tempat mencari nafkah dan tempat mendapatkan sesuap sarapan dari manusia-manusianya, begitu digusur sebuah penertiban. Mereka hanya pindah tempat sebagai cendawan subur di musim hujan. Begitu ditertibkan, fisik mereka hanya bergeser mencari tempat lain untuk tetap hidup. Hingga masalahnya, adakah jawaban penanganan roh budaya bubur ayam ini dengan dialog manusiawi lokalisasinya, bukan penertiban keras bersenjata kekuasaan serta ancaman-ancaman pungli yang merajalela dan menekan mereka?

Kita mau menikmati bubur ayamnya dengan lahap, tapi bila tiba-tiba warungnya dibersihkan, kita hanya mampu menggunakan kata "kasihan"! Cukupkah itu? Dalam taraf pemikiran, penataan bersumber pada obsesi membuat wadah atau format untuk segala yang ada. Bila semua diwadahi obsesi pikiran menata ini, lalu merasa puas dan tenang, lantaran semua sudah ditata, diwadahi, atau dikuasai. Inilah fenomena formalisme yangs pada puncak eksesnya lalu mewadahi dan mengotakkan apa-apa yang tidak bisa diwadahi, misalnya, kreativitas, inspirasi dan mimpi, serta potensi-potensi kehidupan manusia. Akibatnya, formalisme membuat lemas kehidupan dalam kotak-kotak, entah bernama tertib birokrasi, tertib aturan, dll.

Counter culture, reaksi budaya terhadapnya ialah ikhtiar memberi ruang lagi untuk hidupnya potensi-potensi kreatif masyarakat agar dinamika tidak tersekat. Menyadari bahwa bubur-bubur ayam ialah simbol potensi kreatif masyarakat jelata kota, kesadaran setitik cerah ini pun sudah mampu membuat kita kritis terhadap macam-macam penerbitan atas nama kebersihan.

Kebersihan untuk siapa dan kerapian untuk siapa? Fisik saja ataukah memberi ruang hidup bagi roh-roh jelata kota atau Ibu Kota kita dalam simbol warung-warung bubur ayam dan warung-warung tegak kerakyatan kita? Untunglah Pujasera, pusat jajanan serbaada dibangun, meski saat pandemi harus stop dahulu. Untunglah, di celah-celah jalan kecil Soedirman Jakarta dengan perkantoran dan jualan pakai gerobak bergerak yang diizinkan terus memberi makan bagi konsumen dan tukang penjualnya dalam kebutuhan simbiosis mutualistis, saling membutuhkan.

BERITA TERKAIT