18 September 2021, 05:00 WIB

Islam Indonesia untuk Peradaban Islam Dunia


Iksan K Sahri Antropolog pesantren, Pengurus Lakpesdam PWNU Jawa Timur, Direktur Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah, penulis buku Pesantren, Kiai, dan Kitab Kuning | Opini

SAAT berbicara tentang konstelasi Islam di dunia saat ini, terdapat setidaknya empat negara yang saling mengampanyekan gaya Islam ala mereka ke dunia. Pertama, Arab Saudi dengan Islam wahabismenya, kedua, Iran dengan Islam Syiah-nya, ketiga, Turki dengan sekularisme Islam-nya, dan keempat, Mesir dengan Islam Al-Azhar-nya. Di sela-sela kedigdayaan empat negara Islam tersebut dalam mewarnai peradaban Islam kekinian, tanpa menafikan negara-negara Islam lainnya, muncul kekuatan alternatif Islam dari Asia Tenggara yang diwakili Indonesia dan Malaysia.

 

 

Wajah alternatif

Indonesia dan Malaysia menjadi wajah alternatif dunia Islam karena beberapa hal, di antaranya populasi umat Islam yang menjadi mayoritas di kedua negara, warna Islam yang sangat mencolok dalam kehidupan publik, dan stabilitas yang baik jika dibandingkan dengan negara Islam di Timur Tengah.

Walau begitu, kedua negara mayoritas muslim ini memilih jalan berbeda untuk menjalankan sistem sosial kenegaraan mereka. Menjadi bukti akan Islam yang cair. Malaysia lebih nyaman menjadi negara monarki demokratis dengan rasa Islam di konstitusi, sedangkan Indonesia memilih jalan republik berketuhanan.

Kedua negara memberikan tempat yang nyaman bagi tumbuh kembang dan dijalankannya agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan Islam menjadi warna dari peradaban yang dibangun kedua negara. Mulai konstitusi negara hingga bangunan yang bernapaskan nilai-nilai keislaman.

Saat ini, Malaysia dihuni 19,5 juta umat Islam atau 61,3% dari total populasi. Indonesia dihuni 209,1 juta atau 87% dari total populasi. Kedua negara muslim ini dikenal dengan keamanan yang baik, perekonomian tumbuh stabil, serta pengetahuan relatif bertumbuh ke arah yang positif.

Hanya dalam masalah isu-isu atau wacana keagamaan, Indonesia mengambil jalan yang sedikit berbeda dengan Malaysia, yang masih cenderung bermain aman dan ketat dalam mengurusi masalah tersebut karena semua diatur pihak kerajaan dan konstitusi Malaysia. Indonesia menjadi negara yang mengambil langkah sebaliknya. Status sebagai negara mayoritas Islam, yang menganut sistem demokrasi ketiga terbesar di dunia, menjadikan Indonesia sebagai 'pasar bebas' pemikiran Islam walaupun masih didominasi warna sunni yang kental.

Lebih tepatnya, corak pemikiran keislaman di Indonesia ialah corak pemikiran Islam sunni yang dinamis. Wacana keislaman di Indonesia berkembang, dan bahkan cenderung punya warna pelangi jika dibandingkan dengan negara tetangganya, Malaysia.

Salah satu motor gerakan wacana keislaman di Indonesia ialah kaum santri. Falikul Isbah (2016) membagi santri dalam dua kategori; tradisional dan modern. Para santri tradisional ini identik dengan Nahdlatul Ulama, Nahdlatul Wathan, Al-Wasliyah, dan sejenisnya. Santri modern identik dengan Muhammadiyah, Persis, dan sejenisnya. Mereka itulah yang banyak mengembangkan pemikiran-pemikiran keislaman dalam banyak bidang. Pemikiran-pemikiran tersebut berkembang dan dapat tumbuh dalam desain negara Indonesia yang berkedamaian.

 

 

Pemetaan

Hanya dalam konteks pergulatan pemikiran di era global, pertanyaannya ialah apakah Islam ala Indonesia akan cenderung tereduksi, terpukul, lalu menghilang karena besarnya pengaruh gaya Islam negara lain? Ataukah ia dapat bertahan, berkembang, dan bahkan mewarnai wacana keislaman di tingkat dunia? Marilah pertanyaan sederhana, tapi cenderung ambisius itu kita jawab secara perlahan. Dimulai dari pemetaan Indonesia, di tengah-tengah percaturan Islam di dunia.

Sebagaimana banyak disebut para ahli bahwa Islam masuk ke Nusantara baru pada abad ke-13 melalui para pedagang Gujarat India dan pendakwah Islam asal Persia. Salah satu bukti yang masih terawat dari adanya pengaruh India dan Persia ini secara gamblang terlihat dari berbagai tradisi Islam India dan Islam Persia yang masih terjaga seperti pengucapan pees, jeer, dan jabar.

Budaya-budaya keagamaan kita juga mengonfirmasikan hal yang sama, seperti perayaan haul dan peringatan kematian.

Walau relatif baru, pada masa lalu, kita telah mencatat bahwa ulama-ulama kita sudah berhasil menembus percaturan Islam global dengan ditandainya orang-orang Nusantara yang banyak mengajar di Mekah yang saat itu menjadi pusat peradaban berbagai pertumbuhan keilmuwan keislaman dunia. Layaklah kemudian kita sebut Sheikh Nawawi Al Banteni, Sheikh Rauf Al-Singkli, Sheikh Ahmad Khatib Sambas, dan banyak lagi yang lain.

Karya-karya ulama Nusantara saat itu pun juga banyak dicetak di dunia Arab dan Afrika Utara dan diajarkan di sana. Ini menjadi penanda bahwa sejak berabad lalu, kita telah memiliki modal untuk berkiprah lebih bagi dunia. Akan tetapi, keterlibatan ulama-ulama kita di dunia internasional ini menjadi semakin terdesak saat kolonialisme benar-benar mencengkeram Nusantara. Terutama, pasca-Perang Jawa yang dikomandani Pangeran Diponegoro, yang hampir meluluhlantakkan pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Hubungan para santri dengan dunia internasional kala itu mengkhawatirkan pihak kolonial Belanda, politik ordonansi mereka semakin memperketat orang-orang yang hendak naik haji, serta memperlakukan beberapa syarat agar para haji santri ini tidak menjadi ancaman keamanan di kemudian hari. Ketakutan mereka itu muncul terutama setelah Hindia Belanda dilanda pemberontakan Perang Jawa yang dikomandani seorang ningrat haji, yaitu Pangeran Diponegoro, yang berlangsung pada 1825-1830 M.

Saat kolonialisme berhenti dan negara-negara Islam muncul ke permukaan dengan ciri khas masing-masing, kita melihat bahwa orang-orang Islam tidak berada dalam satu ejawantah narasi keislaman yang sama. Berdirinya Arab Saudi di Semenanjung Arab menjadi penanda disebarkannya wahabisme, yang menjadi mazhab negara, di sebelah timur Semenanjung Arab, tatkala Ayatullah Khomaini berhasil melakukan revolusi Islam Iran, Syiah pun menjadi mazhab resmi negara Iran. Begitu juga, cara berpikir sekularisme Islam yang dimulai sejak era Kemal Attaturk, yang meruntuhkan Kekhalifahan Turki Ustmani yang memang berada di ambang keruntuhannya.

 

 

Santri simbol dialogis Islam Indonesia

Setelah era kita selalu mengirim para santri kita belajar ke Al-Azhar Mesir, Hadramaut Yaman, Arab Saudi, dan kemudian diikuti tempat-tempat lain seperti Suriah, Pakistan, Iran, dan Turki yang menjadi destinasi belajar anak-anak muda kita, sekarang Indonesia juga mulai menjadi persinggahan mencari ilmu para pelajar dan anak-anak muda dari berbagai belahan dunia Islam.

Diskursus keislaman di Indonesia saat ini menjadi yang paling bergairah. Hal ini, misalnya, disampaikan James J Fox saat menggelar seminar dengan akademisi Islam di Indonesia (9/9/2021).

Dulu pada era Orde Baru, kita akan kesulitan untuk menjumpai para santri yang berasal dari luar negeri. Namun, setelah dua dekade berlalu, kita akan menemukan dengan mudah para santri yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand. Termasuk para santri yang berasal dari wilayah berpopulasi Arab seperti Libia, Pakistan, Yaman, dan Mesir.

Indonesia telah menjadi wilayah alternatif bagi warga muslim dunia untuk belajar tidak saja keilmuan keislaman, tapi juga ilmu nonkeagamaan. Di pesantren saja, menurut data Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama (PD Pontren), sebagaimana disampaikan Direktur PD Pontren Ahmad Zayyadi, pada 2018, bahwa terdapat lebih dari 9.000 santri asing di seluruh pesantren di Indonesia. Jumlah itu belum termasuk mereka yang belajar di perguruan tinggi keagamaan Islam dan perguruan tinggi umum.

Hal apa yang menarik para santri asing itu untuk belajar di pesantren di Indonesia? Penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama pada 2018 menyebutkan kesamaan paham keagamaan sunni, figur pimpinan, akhlak islami, dan praktik dakwah membuat santri asing termotivasi untuk belajar di pondok pesantren Indonesia.

Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif yang dilakukan di 14 pesantren dan 1.587 santri asing yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, seperti Darul Habib di Sukabumi, Daruttauhid Bandung, Albahjah Cirebon, Wahid Hasyim Semarang, Sirajul Mukhlasin Magelang, Al-Irsyad Boyolali, Al Fatah Temboro, Wali Barokah Kediri, Darul Lughah Bangil, Amanatul Umah Mojokerto, Madinatul Fata Aceh, Ar-Raudlatul Hasanah Medan, Al-Ihsan Banjarmasin, dan PMI Dea Malela Sumbawa. Negara asal dari setiap santri asing pun berbeda-beda. Ada yang berasal dari Malaysia, Singapura, Jepang, Tiongkok, Rusia, Jerman, Inggris, hingga Belgia.

Menurut pengakuan mereka, karakter pesantren sebagai pusat pengembangan Islam wasatiyah (wasatiah/moderat) mewarisi jejak panjang khazanah Islam global, dan hidup dalam kedamaian, tampaknya menjadi daya tarik tersendiri bagi santri asing. Bukan hanya itu, pesantren yang sudah memiliki budaya kosmopolitan dalam menerima santri asing juga menjadi daya tarik.

Seorang akademisi Singapura, Khaerudin al-Junied (2020), menilai banyak pemikiran keislaman yang brilian di Indonesia. Namun, masalahnya, menurut dia, banyak orang luar tidak membaca karya-karya para cendekiawan asal Indonesia karena tulisan mereka ditulis dalam bahasa Indonesia, bukan dalam bahasa Arab atau bahasa Inggris.

Para ilmuwan Indonesia banyak membaca buku-buku berbahasa Arab dan Inggris, menerjemahkannya ke dalam bahasa mereka. Namun, mereka enggan untuk menulis atau menerjemahkan karya-karya mereka ke dalam bahasa Arab atau Inggris. Itulah yang menjadi pekerjaan rumah bagi para cerdik cendikia, para santri di Indonesia.

Dengan melihat semua itu, Indonesia sangat berpotensi menjadi rujukan alternatif bagi pembelajaran Islam di tingkat global. Islam Indonesia banyak dilirik karena ia berhasil menggabungkan Islam dengan konsep nation state (negara bangsa) ketika di banyak negara Islam masih menjadi masalah dan sering kali berhadap-hadapan.

Pada akhirnya, pendidikan Islam di Indonesia harus berani berpikir besar dan bertindak besar. Mempertahankan tradisi memang baik, tapi ia tak lagi cukup. Lembaga pendidikan Islam saat ini harus berani melakukan terobosaan-terobosan baru yang bahkan belum pernah dilakukan sebelumnya bukan saja oleh orang pesantren, melainkan juga oleh umat manusia secara umum. Tujuan puncaknya bukan lagi hanya untuk konteks keislaman, melainkan juga menjadi rahmat bagi semesta alam.

BERITA TERKAIT