15 September 2021, 05:05 WIB

Belajar dari Kota Luar


Nirwono Joga Pusat Studi Perkotaan | Opini

KOTA menentukan peradaban. Warga kota menentukan wajah kota. Membangun warga kota, maka peradaban kota terbangun. Hal ini selaras dengan hasil survei Time Out Index berdasarkan pengalaman dan pendapat 27 ribu orang di ratusan kota dunia (8/9). Kota-kota terbaik dunia versi Time Out diyakini memiliki kehidupan malam, restoran, budaya dan pangan, proyek komunitas, ruang terbuka hijau (RTH), inisiatif lingkungan, komitmen terhadap aktivisme dan keramahan warga, serta prinsip berkelanjutan yang ingin dilihat kebanyakan warga dunia.

Kita akan berpikir, pandemi covid-19 yang telah berlangsung 18 bulan mungkin mengalahkan tujuan hidup di kota. Akan tetapi, hasil survei ini menunjukkan bahwa semangat komunitas lebih tinggi dari sebelumnya, masyarakat saling mendukung, serta bisnis dan inisiatif lokal saling bermunculan. Penanganan covid-19 juga menjadi salah satu indikator, bagaimana pemerintah kota dan masyarakat berjuang bersama melawan wabah.

Hasilnya kesepuluh kota terbaik dunia itu, yakni San Francisco, Amerika Serikat (kota dengan semangat warga unik dan kreatif, serta program San Francisco Deal untuk kelompok bisnis kecil); Amsterdam, Belanda (kota hijau dan berkelanjutan); Manchester, Inggris (kota paling ramah dan terbaik untuk komunitas); Kopenhagen, Denmark (kota termudah untuk bersantai, kota surga bersepeda); New York, Amerika Serikat (kota pusat budaya paling menarik).

Selanjutnya Kota Montreal, Kanada (kota keberagaman dengan mudah mengekspresikan diri); Praha, Ceko (kota ramah pejalan kaki untuk menikmati kota); Tel Aviv, Israel (kota dengan pemandangan sisi kota terbaik); Porto, Portugal (kota ramah tetangga dengan mengenal lebih dekat); Tokyo, Jepang (kota terbaik untuk menemukan hal-hal baru tempat dan atraksi baru dengan sistem transportasi umum terbaik).

 

Beradaptasi

Selama masa karantina dengan beragam istilah, mulai pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM berbagai level), harus diakui telah menggoyahkan nilai-nilai kehidupan perkotaan. Namun, kota dan kita dituntut untuk beradaptasi. Penerapan protokol kesehatan 5M, berupa kewajiban memakai masker, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak fisik, menghindari kerumuman/keramaian, serta mengurangi mobilitas, telah menjadi budaya kenormalan baru. Sekaligus mengubah seluruh tatanan kehidupan perkotaan yang baru.

Kita berpikir (lebih tepatnya bersyukur), ini saatnya untuk mengenal hal-hal terbaik yang terjadi pada diri, keluarga, lingkungan, hingga kota tempat tinggal kala pandemi yang masih berlangsung. Kota tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga masa depan untuk kehidupan yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih sejahtera bagi semua warga dan untuk anak cucu kita. Kota-kota terbaik dunia ini telah mampu beradaptasi pada masa di mana faktor-faktor kunci yang menjadikan kotanya yang menyenangkan.

Masyarakat bangkit, berduyun-duyun mengikut program vaksinasi untuk mempercepat tercapainya kekebalan komunitas. Perekonomian lokal mulai berputar dari tingkat rumah tangga di lingkungan permukiman, usaha mikro, kecil, menengah (UMKM), warung makan, restoran, hingga kegiatan pasar rakyat. Rumah kembali menjadi pusat kegiatan kehidupan belajar, bekerja, berniaga, serta beribadah bersama keluarga tercinta, tentu dengan segala perjuangan jatuh bangun beradaptasi diri atas pandemi.

Tata kota yang baik tentu kota yang layak huni bagi warganya. The Economist Intelligence Unit (The Most Livable City 2021, 9/6) telah menyurvei 140 kota dunia untuk memilih kota paling layak huni. Ada lima indikator penilaian, yaitu stabilitas keamanan, pelayanan kesehatan, budaya dan lingkungan, fasilitas pendidikan, dan infrastruktur kota memadai. Pengendalian pandemi covid-19 melalui tindakan penguncian ketat dan isolasi geografis telah memungkinkan warga dapat menikmati hidup yang mirip dengan kehidupan prapandemi. Kesepuluh kota itu ialah Auckland, Osaka, Adelaide, Wellington, Tokyo, Perth, Zurich, Jenewa, Melbourne, dan Brisbane.

Tata kota juga harus mengantisipasi, beradaptasi, dan memitigasi terhadap perubahan iklim. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB, 2021) mendorong negara anggota untuk lebih serius mengatasi isu perubahan iklim yang terjadi pada kota. Ada lima hal yang harus dilakukan, antara lain, meningkatkan literasi masyarakat terkait perubahan iklim, menegakkan keadilan lingkungan hidup, menciptakan lapangan kerja ramah lingkungan. Selain itu, melibatkan partisipasi generasi muda terhadap aksi iklim serta melindungi keanekaragaman hayati dan pertanian berkelanjutan.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) dan Agenda Baru Perkotaan (New Urban Agenda/NUA) mendorong penataan kota yang aman (sehat), inklusif (sejahtera), tangguh (imun, iman), dan berkelanjutan (ekonomi, sosial, lingkungan). Kota harus menjadi kota inklusif berkelanjutan, yakni kota mengakomodasi kesetaraan hak dan kebutuhan seluruh kelompok masyarakat secara adil dan merata berupa inklusi ruang, sosial, dan ekonomi (Inclusive Cities, Bank Dunia, 2015).

BERITA TERKAIT