29 August 2021, 05:00 WIB

Menjadi Lansia


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

SELASA (24/8/2021), drummer grup musik The Rolling Stones, Charlie Watts, wafat. Dia diberi kesempatan hidup di dunia selama 80 tahun, 2 bulan, dan 22 hari, jauh di atas usia harapan hidup manusia pada umumnya yang cuma 72,5 tahun menurut data yang dilansir WHO pada 2018. Seandainya tidak ada masalah kesehatan dan harus menjalani operasi, Watts yang lahir di London pada 2 Juni 1941, seharusnya bulan depan bakal melanjutkan tur bersama rekan-rekannya. Namun, lantaran tahun lalu kondisi kesehatannya menurun, dia mengikuti saran dokter untuk beristirahat.

Pertunjukan yang merupakan bagian dari tur bertajuk No Filter ini telah dimulai sejak 2017. Namun, tahun lalu tertunda karena wabah korona. Jika tidak ada halangan berarti, rencananya anggota Rolling Stones lainnya, Mick Jagger, 78, Keith Richard, 77, dan Ron Wood, 74, bakal melanjutkan tur tersebut yang dimulai di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat, pada 11 September mendatang. Para kakek ini bakal tetap 'jejingkrakan' di atas panggung menghibur penggemar mereka meski dengan drummer pengganti.

Jika dilihat dari kekayaan yang mereka miliki, Jagger dkk yang memulai karier bermusik mereka sejak usia belasan tahun, seharusnya sudah lebih dari cukup. Mendiang Charlie Watts konon dikabarkan meninggalkan harta hampir Rp4 triliun. Namun, kecintaan pada profesi dan hobilah yang mendorong mereka untuk tetap bermusik. Di Indonesia, mungkin kita bisa melihat contohnya pada band God Bless yang dikomandani Ahmad Albar dan Ian Antono. Meski tak lagi muda, Ahmad Albar, 75, dan Ian yang berumur 70 tahun, juga masih aktif bermusik. Akhir bulan ini, mereka bahkan bakal menggelar konser secara hibrida untuk menandai 48 tahun karier bermusik mereka.

Dari segi harta mungkin God Bless dan Rolling Stones tidak setara, tetapi vitalitas dan integritas para personel grup band ini sejatinya sama. Mereka berangkat dari hobi dan sangat mencintai profesi sebagai musisi. Jika bukan lantaran hal tersebut, mana mungkin mereka bisa bertahan sampai sekarang. Berbahagialah mereka yang mencintai profesinya dan bekerja karena hobi. Namun, banyak juga yang tidak seberuntung mereka. Bekerja cuma lantaran tuntutan hidup sehingga menjadi rutinitas membosankan. Usia belum lagi genap 50, tapi wajah sudah kisut dan mengerut lantaran stres dan berkeluh kesah melulu. Masih untung kalau orangnya kreatif dan tahu apa yang mesti dikerjakan setelah pensiun. Jika tidak, apa enggak bikin fisik dan mentalnya makin kurus dan tergerus?

Kata para ahli, saat ini Indonesia memasuki masa aging population, yakni terjadi peningkatan jumlah penduduk lansia. Mereka memperkirakan jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas (disebut senior atau lansia) meningkat dari 10% pada 2020 menjadi 18% dari total penduduk pada 2040. Sementara itu, penduduk presenior atau pralansia (45-60 tahun) juga diprediksi naik menjadi 17% pada 2040 dari yang semula 10% di 2020. Akhir bulan lalu, para pakar dari berbagai disiplin ilmu melalui Indonesian Medical Education and Research Institute meluncurkan modul healty aging. Hal ini sebagai antisipasi serta upaya panduan untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup populasi penduduk pralansia dan lansia ini.

Langkah semacam ini memang krusial. Apalagi, istilah healthy aging atau tetap sehat seiring bertambahnya usia telah menjadi konsern di sejumlah negara. Organisasi Kesehatan Dunia dan PBB bahkan menyatakan 2021-2030 sebagai healthy aging decade. Oleh karena itu, menyiapkan dan memberdayakan para lansia, termasuk dari sisi kesehatan (baik fisik maupun mental), sangatlah penting agar mereka tidak sekadar dipandang sebagai barang antik yang menjadi beban negara.

Nah, bagi para calon lansia, Anda pun sudah semestinya menyiapkan diri, tapi jangan pula menjadi paranoid. Menjadi tua itu pasti, tetap berjiwa dan memiliki semangat muda itu pilihan. Jangan belum apa-apa sudah sibuk gosokan minyak angin dan balsem, sembari main Twitter yang cicitannya cuma marah-marah. Mending perbanyak ibadah, menjalin silaturahim, sembari menekuni hobi atau kegemaran Anda, entah itu membaca, bermusik, atau berolahraga. Hal itu jauh lebih berguna, ketimbang misuh-misuh dan cuma memperbanyak musuh. Salam sehat jiwa raga.

BERITA TERKAIT