21 August 2021, 05:00 WIB

Digital Leadership, Diaspora Indonesia dan Visi 2045


M Hasan Chabibie Plt Ketua Umum MATAN NU dan Plt Pusdatin Kemendikbudristek | Opini

INDONESIA telah berusia 76 tahun pada Agustus 2021 ini. Pada usia panjang Republik ini, kita sedang mempersiapkan satu tahapan untuk mencapai lompatan sebagai sebuah bangsa. Tahapan itu menentukan apakah kita sanggup menjadi bangsa yang besar dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang ada atau hanya menjadi medioker di antara bangsa-bangsa lainnya?

Lebih dari satu tahun terakhir, pandemi menjadi tantangan besar bagi mayoritas negara-negara di dunia ini. Sampai tulisan ini dianggit telah terjadi lebih dari 208,8 juta kasus covid-19 di seluruh dunia dengan total kematian lebih dari 4,3 juta jiwa. Saat ini, memang kurva kasus covid-19 secara global telah turun drastis. Namun, kita semua harus terus waspada karena virus-virus dengan varian baru bermunculan.

Di Indonesia, pemerintah bersama warga terus bekerja keras untuk melawan pandemi ini, dengan bermacam protokol kesehatan yang ada, sekaligus penerapan gaya hidup baru yang lebih mengedepankan kebersihan dan ramah lingkungan.

Di seluruh dunia, telah terjadi kontraksi ekonomi dan politik, yang juga berpengaruh mendasar pada aspek pendidikan, dan relasi sosial umat manusia. Sebagai elemen fundamental, pendidikan juga terkena dampak luar biasa yang harus disikapi secara cepat dan tepat. Dalam konteks Indonesia, pemerintah melalui Kemendikbudristek dan berbagai instansi pendidikan melakukan langkah-langkah kreatif, dan strategis, untuk terus memastikan, siswa-siswa kita bisa terus belajar, dalam kondisi dan situasi apa pun.

Dalam menuju Indonesia 2045, pendidikan menjadi basis penting untuk menguatkan bangsa Indonesia di tengah kontestasi global lintas dimensi. Indeks PISA (Programme for International Student Assesment), yang diumumkan the Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan tantangan mendasar dalam pendidikan Indonesia.

Dari indeks PISA 2018, terbaca, betapa kemampuan siswa Indonesia dalam bidang utama, yakni matematika, sains, dan literasi harus ditingkatkan. Rerata kemampuan baca negara-negara OECD berada di angka 487, sementara Indonesia berada di skor 371. Bidang matematika berada pada angka 379 dan sains di angka 396.

Data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud, hanya 30% siswa Indonesia, yang memenuhi kemampuan baca minimal. Sementara itu, pada kompetensi matematika 71% di bawah kompetensi minimal, sedangkan untuk Sains, 40% siswa berada di bawah kemampuan minimal.

Dari sejumlah tantangan yang ada, pemerataan mutu menjadi isu mendasar yang sedang dicari solusinya bersama-sama. Di saat bersamaan, pada 2020 hingga saat ini, terjadi pandemi yang berdampak pada perubahan interaksi pembelajaran dan strategi mendidik siswa. Namun, inovasi teknologi dan strategi pembelajaran dari Rumah Belajar dan layanan lain yang dikelola Pusdatin Kemendikbudristek mampu menjembatani perubahan pola belajar secara digital di tengah pandemi. Pandemi memang menerjang kita, tetapi pada sisi berbeda terjadi kesadaran, dan lompatan kecakapan dalam penggunaan teknologi untuk pendidikan.

Pada artikel ini, penulis ingin menyampaikan bahwa menuju Indonesia 2045, penting untuk mengintegrasikan beberapa potensi bangsa, yang terkoneksi dengan inovasi digital. Tentu, inovasi digital yang mendorong peningkatan kualitas pembelajaran di bidang matematika, sains, dan literasi menjadi penting.

Di sisi lain, peluang ekonomi digital harus dibarengi dengan kecakapan digital leadership (kepemimpinan digital), sekaligus kemampuan literasi digital dan literasi data. Selanjutnya, Indonesia juga harus mengoptimalkan peran diaspora yang tersebar di berbagai negara, sebagai penopang riset, inovasi digital dan penguatan ekonomi berkelanjutan.

 

 

Pentingnya kepemimpinan digital

Dalam menuju seratus tahun Indonesia, inovasi digital menjadi bagian penting dari transformasi, tidak hanya di bidang pendidikan, tapi juga meliputi aspek-aspek lainnya. Presiden Joko Widodo telah menyampaikan bahwa Indonesia diperkirakan menjadi pemain ekonomi digital di Asia Tenggara pada satu dekade mendatang.

“Ekonomi digital dan industri 4.0 Indonesia tercepat di Asia Tenggara. Indonesia memiliki start-up sekitar 2.193, kelima terbesar di dunia. Indonesia memiliki 5 unicorn dan bahkan memiliki 1 decacorn,” demikian pernyataan Presiden Joko Widodo dalam pembukaan Hannover Messe 2021 dari Istana Negara, 12 Apri 2021 lalu. Pernyataan ini menjadi fondasi betapa Indonesia memiliki potensi besar dalam kompetisi global, khususnya menjadikan ekonomi digital sebagai tulang punggung.

Percepatan ekonomi digital juga tidak lepas dari bagaimana inovasi digital di ranah pendidikan diberlangsungkan. Inovasi digital, untuk pembelajaran akan mendorong generasi bangsa ini untuk menemukan cara terbaik, dalam mengakses inovasi, memperkaya skills, sekaligus mencari peluang-peluang terbaik, yang dieksekusi menjadi bisnis dengan berbagai modelnya. Maka, inovasi digital untuk peningkatan sumber daya juga perlu dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis (critical thinking), yang pada akhirnya mendorong siswa-siswa untuk belajar mandiri. Program merdeka belajar, yang digaungkan Mas Menteri Nadiem Makarim selaras dengan semangat ini.

Di sisi lain, percepatan inovasi di ranah digital juga perlu tidak hanya literasi digital, tetapi juga kepemimpinan digital (digital leadership). Program literasi digital telah semarak dilakukan oleh berbagai komunitas untuk mendorong warga Indonesia agar mampu mengolah informasi dan pengetahuan di ruang digital. Sekaligus juga peluang ekonomi yang terkoneksi. Sementara itu, kepemimpinan digital memastikan transformasi bisa berjalan di lini masing-masing, baik di sektor pemerintah maupun swasta.

Ada beberapa nilai fundamental dalam kepemimpinan digital, yakni pertama, value driven leadership. Kedua, kemitraan antara sumber daya manusia dan robot/inovasi digital. Ketiga, fokus pada inovasi. Keempat, integritas dan pengetahuan atas digital security. Kelima, pemahaman atas kekuatan keragaman dan inklusi. Keenam, kemampuan belajar. Ketujuh, bagaimana menjadi berkelanjutan sebagai manusia dan pemimpin.

Nilai-nilai itu, disarikan oleh Ann Hellenius (2018) berdasar pengalamannya di sektor publik dan swasta (Bankgirot Stockholm dan Ernst & Young). Dalam konteks transformasi di Indonesia, nilai-nilai tersebut bisa dikembangkan selaras dengan faktor sosial-budaya agar pada inovasi menjadi daya ungkit untuk meningkatkan sumber daya.

 

 

Menguatkan literasi data 

Pada beberapa kesempatan, penulis menekankan pentingnya literasi data di negeri ini. Literasi data, menjadi kecakapan yang melengkapi literasi digital. Di tengah percepatan inovasi teknologi, literasi digital menjadi kecakapan penting. Penulis juga mengampanyekan ini ketika menulis buku Literasi Digital pada 2017 lalu. Namun, di tengah fase big data dan artificial intelligence, literasi data menjadi hal fundamental yang penting dikampanyekan.

Kita bisa menyaksikan, di tengah pandemi ini dibutuhkan kepemimpinan yang mampu membaca, dan menganalisis data secara jeli. Kebijakan berbasis data menjadi kunci untuk mempercepat penanganan pandemi, yang tentu saja ditopang oleh pengetahuan saintis. Untuk saat ini dan ke depan, kebijakan berbasis data ini akan mendorong Indonesia menemukan arah tepat dalam kompetisi global.

Untuk itu, literasi data menjadi kunci tidak hanya bagi masyarat umum dan dunia pendidikan, juga kepada para pemimpin yang saat ini menjadi penentu kebijakan. Literasi digital dan literasi data mendorong transformasi kepemimpinan yang menghasilkan kemaslahatan publik, khususnya di tengah arus deras inovasi teknologi saat ini.

Di ranah ini, kita memiliki pekerjaan rumah untuk menerapkan kebijakan berbasis data, sekaligus menyiapkan ekosistem yang tepat untuk inovasi-inovasi digital yang berlangsung sehingga peluang ekonomi digital pada satu dekade mendatang bisa dikonversi menjadi kekuatan negeri ini. Apalagi, jika Indonesia secara tepat mengoptimalkan bonus demografi sebagai kekuatan penting untuk transformasi sumber daya.

Pada sektor ini, peran diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai negara penting untuk dikoneksikan dengan aktor-aktor di dalam negeri, baik di pemerintahan, kampus, maupun bisnis dan industri.

 

 

Kontribusi diaspora Indonesia 

Lalu, bagaimana menggerakkan diaspora Indonesia, yang saat ini berkarya di berbagai negara? Data dari IDN Global, ada sekitar 4,6 juta warga Indonesia yang sedang berdiaspora menyebar di berbagai negara. Sebagian dari mereka menjadi profesional, konsultan, profesor, maupun penjadi peneliti di berbagai bidang pengetahuan. Tidak sedikit dari diaspora ini berprestasi di kampus ternama maupun perusahaan bonafide.

Perlu ada kanal dan sistem agar pemikiran dan karya diaspora menghasilkan kontribusi untuk kemajuan Indonesia. Khususnya, pada momentum seratus tahun kemerdekaan pada 2045. Saya membayangkan betapa diaspora ini semacam puzzle dalam gambar besar keindonesiaan. Jika puzzle-puzzle ini bisa saling terkoneksi secara tepat, gambar besar berupa visi untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar di level global, tidak mustahil diwujudkan. Kita punya perangkat, dan potensi yang gigantik, yang membutuhkan kemauan dan keberanian, untuk mewujudkan mimpi-mimpi besar yang ada.

Dari jutaan diaspora ini, terdapat banyak santri yang juga telah melakukan lompatan prestasi di bidang masing-masing. Sebagian dari mereka, menjadi professional di lembaga internasional maupun saintis di berbagai kampus. Gagasan dan kiprah para diaspora santri ini juga penting disuarakan dan selanjutnya dikoneksikan dengan visi Indonesia 2045. Apalagi, jelas para santri tidak diragukan lagi kecintaan pada Tanah Air, sebagaimana nilai-nilai dan keteladanan para kiai ketika ikut memperjuangkan kemerdekaan.

BERITA TERKAIT