03 August 2021, 23:10 WIB

Mengapa Harus Disampaikan dengan TikTok


Fitri Yuliantri P, Pranata Humas Muda BPK RI, Jakarta dan alumnus Magister Ilmu Komunikasi UNS Solo | Opini

"ZAMAN sekarang harus pakai metode yang lebih fun. Misalnya, kalau ada program baru jangan hanya diumumkan di website. Bikinlah di akun Tik Tok. Pengguna mau tak mau melihat videonya. Jadi pesannya akan dapat". Begitulah pernyataan Donny Eryastha, Head of Public Policy TikTok Indonesia, Malaysia, Filipina dalam sebuah wawancara dengan media. 

TikTok adalah jejaring sosial berbagi video pendek yang memungkinkan pengguna dapat membuat video menyanyi dan juga menari. Kini, kontennya terus berkembang, tak melulu soal hibur-menghibur. Platform ini begitu popular. Pada 2020 telah digunakan di 154 negara dengan 800 juta pengguna aktif setiap harinya. Mengapa aplikasi ini begitu populer di masyarakat, khususnya anak muda?

Pertumbuhan TikTok, menurut consultan creative Yoris Sebastian, didorong perilaku anak muda yang cenderung memiliki perhatian yang singkat terhadap sesuatu. Lebih dari itu, fitur-fitur yang ditawarkan, menurut Yoris, mampu menarik anak muda yang saat ini gemar membuat konten. Misalnya, banyaknya pilihan lagu, serta filter dan sticker yang beragam, sehingga pengguna tidak perlu keluar ke aplikasi lain untuk mengedit video. 

Meski pernah dicap sebagai aplikasi alay dan pernah disetop layanannya oleh Kemenkominfo, TikTok berusaha berbenah diri dengan aturan yang berlaku. Pertumbuhan penggunanya semakin banyak. Sampai 2020, pengguna di Indonesia mencapai lebih dari 30 juta dengan rata-rata mengonsumsi 100 video per hari atau 39 menit.

Hasil Sensus Penduduk 2020, total populasi Indonesia mencapai 270,2 juta orang. Menariknya, penduduk Indonesia didominasi oleh Generasi Z dan generasi milenial. Penduduk generasi milenial yang lahir antara 1981-1996 mencapai 69,38 juta orang atau 25,87% dari total populasi. Sedangkan jumlah penduduk Generasi Z yang lahir di rentang 1997-2012 mencapai 74,93 juta atau 27,94% dari total populasi. 

Milenial atau Generasi Y lebih memilih ponsel dibanding personal computer (PC) dan televisi. Sebab generasi ini lahir di era kecanggihan teknologi. Pesatnya jaringan internet yang mempermudah aktivitas seseorang, berperan besar dalam keberlangsungan hidup generasi ini. Sehingga mereka lebih memilih informasi melalui perangkat ponselnya.  

Bagaimana dengan Generasi Z (Gen Z) yang lahir setelahnya? Generasi ini mempunyai karakteristik yang lebih khusus. Generasi yang dibesarkan di tengah teknologi, internet, dan medsos ini memilih cara berkomunikasi melalui medsos dan teks digital. Kelompok ini distereotipkan sebagai pencandu teknologi atau bahkan dicap antisosial. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel dan lebih memilih layanan streaming. 

Dari kedua karakteristik tersebut, ada kesamaan, yaitu penggunaan ponsel sebagai media utama untuk mendapatkan informasi. Perkembangan generasi baru seharusnya menjadi perhatian bagi humas pemerintah. Artinya, jika tetap bersikukuh menggunakan media konvensional, maka akan menciptakan gap komunikasi antara pemangku kepentingan dengan generasi pendatang baru ini.  

Sudah saatnya pesan yang disampaikan dikemas sesuai karakteristik penerima pesan. Bagi instansi pemerintah, medsos dapat mendorong efisiensi karena jangkauan audiens yang sangat luas dan berbiaya murah. Selain itu, juga sangat efektif karena informasi untuk publik dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran. 

Humas pemerintah dapat menggunakan fenomena pertumbuhan angka pengguna TikTok sebagai strategi dalam memberikan informasi kepada publik. Beberapa instansi sudah mulai melirik penggunaan TikTok dalam menyampaikan program atau informasi kepada publik. Seperti yang dilakukan BPK, Kemenkeu, Kemenkes, Kemen KKP, dan Kemen ESDM. 

Contoh penggunaan TikTok yang cukup berhasil adalah kampanye kesehatan dalam pandemi covid-19. Dari mulai informasi pencegahan, panduan, pengumuman, dan kampanye vaksin, dikemas melalui TikTok dan mampu meningkatkan engagement dan mendapat respons positif Generasi Y dan Z. Agar efektif, humas pemerintah perlu menetapkan strategi dalam penggunaan TikTok. Tetapkan tujuan yang ingin dicapai, kenali audiens yang ingin dituju, dan tetapkan pesan utama yang ingin disampaikan. 

Selain harus mengenali karakteristik aplikasi, juga bikinlah konten sesuai strategi yang ditetapkan. Sebagai aplikasi yang pernah dicap alay, maka diperlukan kehati-hatian bagi humas pemerintah dalam menggunakan TikTok. Ingatlah etika yang harus dijunjung dalam penggunaan medsos. Peraturan MenPAN RB sudah merumuskan pedoman penggunaan medsos bagi instansi pemerintah.

Setiap konten harus mempertimbangkan kehormatan instansi. Informasi yang disampaikan harus objektif, jujur, dan menunjung integritas. Selain itu, patut juga berhati-hati dengan informasi yang bersifat rahasia. Sampaikan informasi  publik secara benar, tepat, dan akurat. Perhatikan peraturan perundang-undangan mengenai keterbukaan informasi publik. 

Kreativitas sangat diperlukan tanpa mengesampingkan prinsip kehati-hatian. TikTok, seperti medsos lainnya, mempunyai dua sisi yang tidak dapat dihindari. Medianya memang luas dan akan mendekatkan pemerintah kepada publik, tapi jangan sampai humas pemerintah melupakan etika dalam penggunaannya. 

Selain memanfaatkan sumber daya internal, mengikutsertakan kreator konten profesional tentu tak ada salahnya, terutama untuk menyampaikan pesan yang berkelanjutan. Inovasi yang cerdas memang diperlukan oleh humas pemerintah. Citra yang kaku dapat dicairkan dengan penggunaan medsos. Sebagai pengingat, generasi sebelumnya pernah terngiang-ngiang dengan iklan "Inga... Inga..." terkait pelaksanaan pemilu. Sekarang, seharusnya bisa diproduksi lebih banyak "Inga... Inga..." lainnya oleh lembaga pemerintah untuk menjangkau publik. Selamat menghadapi kenyataan baru. Sebarkanlah informasi, penjelasan, promosi, dan dialog kepada publik dengan cara menarik. Saatnya moving from traditional to digital

 

BERITA TERKAIT