28 July 2021, 05:00 WIB

Mencoba Micro Blanket Bubble


Suryopratomo Dubes LBBP RI untuk Republik Singapura | Opini

PRESIDEN Joko Widodo mengumumkan perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 4 hingga 2 Agustus mendatang. Langkah tersebut dilakukan bukan untuk menghambat kegiatan masyarakat, tetapi untuk melindungi kehidupan masyarakat. Varian delta covid-19 masih ada di tengah masyarakat dan pemerintah berupaya agar jangan terlalu banyak warga yang terinfeksi supaya tidak menimbulkan kesakitan bahkan kematian.

Langkah yang diambil pemerintah jelas bukan keputusan mudah. Di tengah upaya untuk bisa menggerakkan kehidupan masyarakat, pembatasan kegiatan pasti akan berpengaruh kepada perekonomian keluarga. Namun, tidak mungkin ada perbaikan ekonomi keluarga tanpa ada kesehatan. Ada sebuah ungkapan bijak yang perlu menjadi pegangan kita bersama; health is not everything, but everything is nothing without health. Itulah pilihan yang akhirnya harus diambil semua bangsa di dunia.

Sebagai makhluk sosial, homo sociologicus, manusia memang tidak mungkin dibatasi untuk bersosialisasi. Namun, dalam situasi pandemi, suka tidak suka manusia harus membatasi kegiatan sosialnya. Kesehatan pribadi, kesehatan keluarga, dan kesehatan masyarakat merupakan faktor penting agar kita bisa bersosialisasi dengan aman. Memang pembatasan yang sudah berlangsung satu setengah tahun kadang membuat kita frustasi. Di Sydney, Australia, orang tidak tahan juga untuk turun ke jalan, berdemonstrasi. Petugas keamanan harus bertindak tegas agar aktivitas itu justru tidak menjadi sumber penularan baru.

Sikap frustasi masyarakat terjadi hampir di seluruh dunia. Di Singapura yang 10 bulan pernah begitu rendah kasus penularan di masyarakat membuat pemerintah berani melakukan pelonggaran. Namun, pada 8 Mei muncul varian delta yang membuat pemerintah terpaksa melakukan pengetatan kembali (heightened alert). Semua restoran tidak boleh menerima tamu dan makanan hanya boleh dibawa pulang. Semua kegiatan di dalam ruangan pun dilarang.

Satu bulan pengetatan dilakukan, kasus penularan bisa dikendalikan. Pada 12 Juli, restoran mulai diperkenankan kembali menerima tamu meski hanya boleh untuk dua orang saja. Rencananya pada 19 Juli akan diperkenankan orang makan di restoran sampai lima orang. Namun, tiba-tiba di tengah perjalanan muncul kasus baru pelanggaran protokol kesehatan di tempat hiburan KTV. Klaster baru juga terjadi di Pasar Penjualan Ikan di Jurong. Akibatnya, pada 19 Juli bukannya dilakukan pelonggaran, pemerintah Singapura justru menerapkan kembali kebijakan pengetatan yang mana semua kegiatan masyarakat di luar rumah dilarang.

 

Tidak boleh puas diri

Apa arti semua peristiwa itu? Tidak boleh ada kata berpuas diri. Semua harus tetap berhati-hati. Sedikit saja terjadi kelengahan, kasus akan meningkat dan kesehatan masyarakat akan kembali terancam. Kedua, cukup satu-dua orang saja yang tidak disiplin untuk membuyarkan semua usaha keras yang kita lakukan selama ini. Pemerintah Singapura sangat kecewa dengan pengelola tempat hiburan yang sejak Oktober lalu secara diam-diam melakukan kegiatan yang dilarang. Mereka tidak hanya membuka tempat hiburannya untuk umum, tetapi juga menjual makanan dan minuman yang sebenarnya dilarang.

Sekarang semua orang terkena akibat dari ketidakdisiplinan warga untuk menerapkan protokol kesehatan. Para penjual makanan di Hawker Center harus memperpanjang lagi penutupan tempat penjualan mereka karena kasus yang meningkat di tengah masyarakat. Bukan hanya Hawker Center yang terpukul, melainkan juga pasar-pasar tradisional. Pemerintah terpaksa menutup sementara pasar-pasar karena muncul kasus akibat pengunjung ke tempat hiburan yang tanpa gejala berjalan-jalan ke banyak tempat termasuk mendatangi pasar.

Biaya ekonomi yang harus dikeluarkan pemerintah Singapura akibat kejadian terakhir ini tidaklah kecil. Dalam penjelasan di depan parlemen Senin pada (26/7), Menteri Keuangan Lawrence Wong mengatakan pihaknya harus mengeluarkan dana stimulus S$2 miliar (sekitar Rp20 triliun) untuk membantu para pengusaha dan para pekerja yang terdampak kebijakan pengetatan.

Dalam situasi krisis, sudah menjadi tanggung jawab negara untuk bisa menjadi penyangga kehidupan seluruh warga. Ketika warga bisa diselamatkan dan dunia bisnis ditunjang, akhirnya negara akan mendapatkan manfaat kemudian. Kepercayaan masyarakat bahwa negara hadir untuk mengendalikan kesehatan dan menggerakkan roda ekonomi akan membuat perekonomian melaju kencang. Singapura merasakan bagaimana perekonomian mereka di kuartal II terbang tinggi. Ditopang pertumbuhan manufaktur sebesar 18,5% dan konstruksi 98,8%, ekonomi Singapura pada kuartal II tercatat tumbuh 14,3% (yoy).

Meski sejak Mei terpaksa dilakukan kembali pengetatan, perekonomian Singapura diyakini akan bisa tumbuh minimal 6%. Apalagi jika mulai September nanti Singapura membuka kegiatan ekonomi mereka kembali bahkan dari dunia luar. Apabila dalam satu bulan terakhir ini angka kasusnya bisa dikendalikan dan jumlah warga yang dirawat di rumah sakit sedikit, Singapura akan bersiap untuk membuka diri.

 

Micro blanket bubble

Sekali lagi dibutuhkan kesabaran untuk bisa hidup berdampingan dengan covid-19. Dibutuhkan kesadaran dan tanggung jawab bersama dari seluruh komponen masyarakat untuk menjaga kehidupan karena hanya dengan itu kita akan bisa kembali menata kehidupan. Ada gagasan bagus yang disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto saat berkunjung ke Singapura pada 12 Juli lalu. Kita mulai menerapkan apa yang disebut sebagai micro blanket bubble. Intinya, bagaimana kita menerapkan penanganan covid-19 sesuai dengan best practices yang dilakukan banyak negara dunia.

Dari mana mulainya? Kita jadikan Bali, Batam, atau Bintan sebagai percontohan. Caranya? Orang yang sehat kita jaga untuk tetap sehat. Orang yang kurang sehat atau orang tanpa gejala ditempatkan di tempat khusus agar bisa dibuat sehat. Hanya mereka yang sakit kita masukkan ke rumah sakit untuk diobati sampai sembuh. Selanjutnya, gunakan digital tracing untuk melindungi warga yang tinggal di tiga daerah tersebut. Kita bisa menggunakan aplikasi PeduliLindungi atau bagi mereka yang tidak menggunakan telepon pintar, diberikan token untuk digital tracing. Semua orang wajib menggunakan digital tracing dan bagi mereka yang tidak membawanya, tidak boleh berada di tempat publik atau bisa masuk ke fasilitas publik.

Data digital tracing ini dikelola oleh dinas kesehatan setempat. Tujuannya agar ketika muncul kasus atau ada orang yang terinfeksi covid-19, bisa dengan cepat dilakukan testing kepada mereka yang melakukan kontak erat. Untuk menjaga kesehatan masyarakat, vaksinasi dipercepat di ketiga daerah itu kepada mereka yang berusia 12 tahun ke atas. Vaksinasi terbukti mengurangi penderitaan bagi mereka yang terinfeksi dan bahkan bisa menghindari kematian. Banyak orang meninggal sekarang ini karena tidak mempunyai antibodi.

Kita perlu membuat langkah aksi yang cepat. Dalam waktu sebulan ke depan, semua langkah itu harus bisa dilaksanakan. Setiap orang dari luar akan masuk ke tiga daerah itu, mereka wajib menjalani karantina. Dengan penanganan yang sesuai standar yang berlaku di negara-negara yang sukses mengendalikan covid-19, akan muncul kepercayaan internasional kepada Indonesia. Dengan itu, kita bisa melakukan travel bubble dengan negara-negara yang selama ini warganya sering berlibur ke tiga daerah itu. Langkah ini tidak hanya secara bertahap akan menyelamatkan sektor pariwisata, tetapi juga dalam jangka menengah akan memulihkan perekonomian Indonesia.

Apabila kita bisa sukses menjadikan tiga daerah itu sebagai model penanganan covid-19, akan lebih mudah meyakinkan daerah-daerah lain untuk mau melakukan hal yang sama. No pain no gain. Kita memang harus bersama-sama mau bekerja keras dan berkorban apabila ingin segera keluar dari impitan pandemi covid-19.

BERITA TERKAIT