25 July 2021, 06:00 WIB

Resiliensi


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Opini

BEBERAPA bait lirik masuk ke ponsel saya. Pengirimnya seorang kawan yang merupakan musikus dan juga vokalis sebuah band rock di Tanah Air. Penggalan lirik itu rupanya bagian potongan lagu yang belum rampung ditulisnya. Dia mengaku mentok dan meminta saya meneruskannya. Saya tertawa (yang diwakili emoticon) menanggapi permintaan tersebut.

Soalnya, potongan lirik itu juga mewakili perasaan saya yang akhir-akhir ini mulai jenuh menghadapi pandemi. Bahkan, beberapa jam sebelum pesan dari kawan itu masuk, saya baru saja curhat dengan kawan lainnya yang mendalami ilmu psikologi. Dia bilang wajar jika hari-hari ini kita dilanda jenuh atau bosan menghadapi kondisi saat ini. 

Untuk mengurangi cemas atau galau, dia menyarankan saya mengerjakan hal-hal yang saya suka. Entah itu bermain dengan hewan peliharaan, berolahraga, membaca, menulis, mendengarkan musik, merawat tanaman, dan sebagainya. Sepintas terdengar klise, tapi mau tidak mau memang itu yang bisa kita lakukan selain bersandar pada sang pemilik kehidupan, tentunya.

Saya sadar tidak sendiri. Banyak orang di luar sana yang dilingkupi perasaan serupa, termasuk mungkin juga Anda. Dampak virus korona, dengan beberapa variannya, memang dahsyat. Selain menggerogoti fisik, ia juga mengusik mental dan jiwa kita. Di tengah keterbatasan bersosialisasi lantaran adanya pembatasan mobilitas, manusia dihadapkan pada masa depan yang entah-berantah.

Tahun lalu, Badan Pusat Statistik melaporkan jumlah pengangguran periode Agustus 2020 meningkat sebanyak 2,67 juta orang. Ini belum termasuk mereka yang dirumahkan dan penghasilannya dipangkas, serta para pekerja harian yang pendapatannya semakin tak pasti. Di sisi lain, kebutuhan hidup, seperti bayar pulsa, kuota, susu, dan pendidikan anak, harus pula dipenuhi. Belum lagi memikirkan jika ada salah satu atau beberapa anggota keluarga terpapar virus. Bagi para ‘sultan’ dan golongan Crazy Rich, dampak pandemi ini mungkin tidak terlalu jadi persoalan. Namun, bagaimana halnya dengan mereka yang pendapatannya kembang kempis, apa enggak bikin rambut dan dompet menipis?

Memang, untuk mengatasi pandemi ini tidak semudah mengunduh video joget di Tiktok atau menyebarkan berita sumir di media sosial. Banyak aspek yang patut dipertimbangkan oleh para stakeholder, termasuk para pemilik perusahaan dan pemerintah. Selain perlunya jaring pengaman sosial dan menjamin ketersediaan fasilitas kesehatan, hal lainnya yang tidak kalah penting ialah memerhatikan kondisi psikologis masyarakat.

Belum lama ini, riset yang dilakukan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menyebutkan secara umum, rata-rata resiliensi orang Indonesia tergolong rendah. Dalam ilmu psikologi, resiliensi ialah kemampuan mental atau emosional untuk mengatasi krisis. Saat memaparkan hasil riset bertajuk Resiliensi di Masa Pandemi: Studi tentang Resiliensi dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Mental pada Orang Indonesia pada Sabtu (10/7), Dr Bagus Takwin M Hum, Ketua Laboratorium Cognition, Affect, & Well-Being Fakultas Psikologi UI, selaku peneliti utama, mengatakan masyarakat Indonesia cenderung tidak tahan terhadap tekanan atau rasa sakit serta cenderung pesimistis melihat masa depan ketika mengalami situasi yang menekan dan membuat mereka terpukul.

Sebenarnya, menurut Bagus, resiliensi dapat dibangun melalui apa yang disebut dengan 'afek positif', yaitu pengalaman positif seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain atau ketika berhasil mengatasi tantangan hidup. “Contoh, ketika seseorang berhasil menyelesaikan sesi olahraga yang berat, ini memberikan afek positif. Ada emosi positif yang terjadi di dalam diri ketika berhasil menyelesaikan satu tantangan dalam hidup,” ujarnya. Jika dikaitkan dengan kondisi pandemi, bila situasi sulit ini terus terjadi dalam waktu lama, resiliensi yang rendah ini, kata dia, dapat meningkatkan gangguan mental di masyarakat, seperti sulit berkonsentrasi, tidak merasa puas dengan apa yang dijalani, sulit mengambil keputusan, dan sukar menyelesaikan masalah. Hmm, mungkin itu pula yang dialami kawan saya sehingga sulit menyusun lagu di tengah kenyataan redupnya panggung dan industri hiburan. Namun, tak mengapa, setidaknya dia telah berusaha menyalurkan hobinya.

Tentu bukan kapasitas saya pula untuk mendebat atau menolak hasil penelitian tersebut. Apalagi saya bukan pakar. Baiknya saya kutipkan saja pendapat Dr S.R Pudjiati MSi, sebagai salah satu penanggap hasil riset tersebut. Dosen Fakultas Psikologi UI ini menyatakan untuk membangun resiliensi seseorang dapat diajak mengenal aspek karakteristik internal dan eskternal dirinya. Seseorang, kata dia, harus mengenal kekurangan dan kelebihannya (who am i)?, lalu mengenal kualitas hubungannya dengan orang lain (what i have?) sehingga mereka dapat mengenali kapasitas dirinya secara realisitik (what i can do?). “Hal ini adalah cara-cara sederhana yang dapat dilakukan semua orang untuk membangun resiliensi.”

Kini semua tergantung bagaimana kita menyikapi situasi pandemi yang telah berlangsung lebih dari setahun ini. Apakah terus khawatir dan meratapinya sepanjang hari, atau memandangnya secara optimistis sembari menyibukan diri dengan sesuatu yang positif. Misalnya, jika punya rezeki lebih, menyantuni keponakan atau anak tetangga yang barangkali kini menjadi yatim/piatu atau paling tidak ikut mendoakan agar pandemi ini cepat berlalu. Jangan bisanya cuma sibuk marah-marah dan menggerutu di media sosial. Selain tidak memberi solusi, itu tidak baik bagi kesehatan. Hati-hati dengan tensi Anda, bos! Salam sehat jiwa raga.

BERITA TERKAIT