20 July 2021, 10:05 WIB

Tragedi Kemanusiaan dan Fenomena Covidiot


Gantyo Koespradono, Mantan Wartawan, Pemerhati Sosial Politik   | Opini

WABAH covid-19 yang telah ditetapkan sebagai pandemi di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia, adalah tragedi kemanusiaan, sebab jutaan manusia telah menjadi korban bencana tersebut.
 
Mengantisipasi wabah semakin memburuk, kebijakan terbaru, pemerintah Indonesia menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Selasa (20/7) memasuki hari terakhir. Entah akan diperpanjang atau tidak.
 
Apa pun yang dilakukan pemerintah dalam upaya mengatasi penyebaran virus tersebut selalu memunculkan pro dan kontra. Informasi hoaks bertebaran ke mana-mana. Antara bisa dipahami dan sulit dipahami, PPKM Darurat memang membawa efek, terutama perekonomian masyarakat, sehingga warga masyarakat yang terkena dampaknya berharap PPKM Darurat jangan sampai diperpanjang.
 
Namun, dalam situasi seperti itu, yang sulit dipahami adalah situasi seperti itu dimanfaatkan kaum covidiot- meminjam istilah yang dipakai Media Indonesia dalam salah satu editorialnya– untuk memanas-manasi situasi dengan analisis-analisis dan wacana ngawur. Menyesatkan pula.
 
Diakui atau tidak, bencana kemanusiaan korona di negeri ini telah dipolitisasi kaum covidiot. Pandemi covid-19 sebenarnya identik dengan tragedi tsunami (2004) yang juga memunculkan korban dalam jumlah besar.
 
Bedanya, saat tsunami kita semua menangis dan satu suara, turun tangan memberikan pertolongan. Media Group bahkan merasa perlu dan penting membuat aksi kemanusiaan Indonesia Menangis dan mampu mengimpun dana dari masyarakat yang jumlahnya mencapai Rp200 miliar lebih, belum termasuk bantuan dalam bentuk barang seperti pakaian, alat kesehatan, makanan dan lain-lain.
 
Bahkan melalui gerakan itu, setidaknya tiga sekolah berkualitas internasional (Sekolah Sukma Bangsa) berdiri di Aceh dan telah mencerdaskan ribuan anak-anak Aceh. Namun, tatkala tragedi kemanusiaan covid muncul sejak Maret tahun lalu, saya melihat kita belum satu suara bahwa sesungguhnya rasa kemanusiaan kita terusik.
 
Fakta di lapangan sebagaimana kita baca dan saksikan melalui media sosial dan media arus utama, masih banyak kelompok dalam masyarakat– maaf saya sebut lagi dengan kaum covidiot– bermain-main (mengganggu) upaya kita bersama memerangi covid.
 
Saya tidak tahu seperti apa perasaan mereka ketika setiap hari di grup-grup WA atau di laman Facebook, Twitter, Instagram ada pesan yang didahului dengan kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raji'un yang ujung-ujungnya covid-19.
 
Sebagai anggota satgas covid di komunitas organisasi keagamaan, hampir setiap hari saya dan kawan-kawan mendapat kabar ada warga organisasi yang positif covid yang memerlukan bantuan karena kesulitan mendapatkan rumah sakit, oksigen dan sebagainya. Sampai saat ini saya punya saudara (suami istri) yang sejak beberapa hari lalu hingga sekarang tak berdaya di ruang isolasi sebuah rumah sakit swasta di Tangerang, karena belum bisa masuk ke ruang ICU.
 
Yang mengherankan, dalam suasana seperti itu, kaum covidiot bersorak-sorak jika jumlah kasus positif covid terus bertambah, lalu memanfaatkan akun medsos mereka dan bak seperti 'pahlawan' membela warga masyarakat dengan mengkritik (mengolok-olok) pemerintah enggak becus menangani covid.
 
Ada pula yang menunggangi bencana kemanusiaan covid untuk kepentingan politik dan menyebut failed nation, yang tanpa harus jadi pakar politik pun kita tahu istilah itu dipakai dalam rangka 'sangu'. Eehhh... siapa tahu bisa jadi presiden.
 
Dulu mereka inilah yang bersuara keras agar pemerintah Indonesia memberlakukan lock down. Namun, saat PPKM Darurat diterapkan, para covidiot ini berteriak dan muncul seolah-olah siap menjadi pahlawan. Modalnya hanya mulut tanpa menggunakan akal dan hati.
 
Di luar ulah para covidiot tersebut, saya memberikan apresiasi kepada warga masyarakat yang diam-diam bergerak membantu sesama. Itu karena mereka sadar dengan pikiran dan hati terdalam bahwa pandemi yang telah berlangsung hampir dua tahun ini adalah tragedi kemanusiaan.
 
Para pecinta kemanusiaan ini menyiapkan makanan buat mereka yang isolasi mandiri, membuka dapur umum, membuka klinik, menyiapkan ambulans dan oksigen gratis, melayani vaksinasi, dan aksi-aksi mulia lain.
 
Kepada para covidiot saya sih berharap bahkan sangat berharap, mereka juga melakukan pelayanan dengan menjadi relawan covid dengan prinsip yang mereka pegang teguh disertai 'iman' tanpa akal bahwa mereka tidak percaya covid, yaitu memindahkan covid-19 dari pasien ke tubuh mereka seperti yang dilakukan dua 'tokoh' agama di Jawa Timur.
 
Bisa juga mereka menjadi relawan untuk membantu para tenaga medis atau petugas rumah sakit untuk merawat pasien covid. Bukankah mereka tidak percaya covid, jadi ya sebaiknya tanpa masker atau alat pelindung diri.
 
Mandikanlah dan kuburkanlah jenazah covid tanpa masker. Dijamin kalian para covidiot tetap akan sehat walafiat. Praktikkanlah kepercayaan kalian. Jangan cuma berteriak di dunia maya, tapi wujudkanlah perilaku kalian di dunia nyata.
 
Kepada para relawan yang tetap menjaga kewarasan, saya berterima kasih atas dedikasi Anda semua yang ikut menyingsingkan lengan baju membantu mengatasi tragedi kemanusiaan ini. Bagi si sakit, kita yang sehat (jasmani dan rohani) sesungguhnya adalah 'malaikat' yang dipakai Tuhan untuk membantu dan melayani sesama.

BERITA TERKAIT