19 July 2021, 05:00 WIB

SAMR, Transformasi Pembelajaran di Era Pendidikan Jarak Jauh


Marthunis Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie | Opini

DUNIA pendidikan merupakan salah satu sektor paling terpukul akibat pandemi. Secara global, Unicef memprediksi sekitar 290 juta anak berpotensi putus sekolah karena pandemi (Cnnindonesia.com, 24/12/2020). Di Indonesia, masa pandemi hanya semakin menambah berbagai persoalan pendidikan yang telah ada menjadi lebih kompleks.

Sebelum pandemi para guru sudah harus bekerja keras untuk memberikan layanan pendidikan terbaik melalui model pembelajaran dan metode pengajaran yang interaktif nan menyenangkan maka di tengah situasi pandemi, tugas guru semakin berat. Pemberlakuan pembelajaran jarak jauh (PJJ) memaksa para guru bekerja dua hingga tiga kali lebih keras untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan model pengajaran yang tepat serta efektif.

Pandemi yang sudah berlangsung selama setahun lebih masih belum dapat dipastikan kapan akan berakhir. Agar denyut proses pendidikan tidak berhenti dan berdampak pada semakin besarnya learning loss, PJJ masih menjadi opsi paling rasional untuk dilakukan di tengah pemberlakuan PPKM mikro, terutama di Pulau Jawa dan Bali.

Salah satu hal positif yang dirasakan para guru selama PJJ ialah mereka 'dipaksa' akrab dengan teknologi dan dunia digital. Survei yang dilakukan Kemendikbud-Ristek pada Agustus 2020 dengan melibatkan 384 responden guru menyimpulkan peningkatan keterampilan mengajar berbasis TIK (teknologi informasi dan komunikasi) merupakan dampak positif yang banyak dirasakan para guru selama PJJ.

Namun, agar proses mengajar selama PJJ tetap memiliki dampak yang baik dan bermakna bagi siswa, pendekatan mengajar berbasis TIK bagi para guru seyogianya bukan sekadar kemahiran teknis atau mekanis dalam menggunakan ragam perangkat digital yang tersedia. Yang lebih mendasar ialah mind-shifting, perubahan paradigma berpikir bahwa pembelajaran daring dalam PJJ ialah sesuatu yang sangat berbeda dengan pembelajaran langsung secara tatap muka. Karena itu, diperlukan pendekatan yang juga berbeda.

 

Model SAMR

Pada 2010, Ruben Puentedura, seorang peneliti pendidikan yang mendalami isu teknologi pendidikan, menciptakan model SAMR (substitusi, augmentasi, modifikasi, dan redefinisi) yang bertujuan mengintegrasikan teknologi ke dalam dunia pendidikan. Akselerasi transformasi dunia digital yang berjalan lebih cepat dari yang seharusnya akibat pandemi menjadikan model SAMR menemukan jalannya untuk menjadi model pembelajaran masa depan.

Salah satu filosofi dasar dari SAMR ialah bagaimana integrasi teknologi yang baik dalam pembelajaran bukan tentang menggunakan alat yang paling canggih, tetapi lebih pada kemampuan menyadari berbagai opsi yang dimiliki dan cara memilih strategi yang tepat untuk pembelajaran yang akan berlangsung. Pola pikir dan kreativitas seorang guru menjadi faktor yang paling esensial karena teknologi hanyalah alat, sedangkan guru ialah rohnya.

Saat ini, pada dasarnya para guru telah memiliki kemampuan dalam menggunakan berbagai macam platform aplikasi menarik nan canggih untuk mengelola pembelajaran. Namun, keluarannya masih belum menggembirakan. Hal itu dapat dilihat dari keluhan yang lebih dominan terhadap pembelajaran daring jika dibandingkan dengan pujian atas efektivitasnya.

Dalam sebuah artikel yang ditulis Youki Terada, A Powerful Model for Understanding Good Tech Integration (2020), diungkapkan bahwa ketika beralih pada format pembelajaran daring, para guru sering kali fokus hanya pada dua level pertama SAMR; substitusi dan augmentasi. Pada level ini yang terjadi hanyalah penggantian materi tradisional menjadi materi digital. Contohnya ialah mengubah materi pelajaran di buku dan lembar kerja menjadi PDF dan menampilkannya secara daring. Atau merekam materi pembelajaran via video dan membuatnya tersedia untuk pembelajaran asinkron.

Di level augmentasi, siswa dapat membuat portofolio digital untuk menyajikan presentasi menggunakan multimedia, atau ketika guru ingin menyelenggarakan kuis. Alih-alih menggunakan kertas, mereka dapat menggunakan platform digital seperti Socrative (interaksi siswa berbasis web) dan Kahoot (pembelajaran berbasis permainan).

Dalam praktiknya, saat peralihan pembelajaran dari tatap muka ke pembelajaran daring, mayoritas guru kita memang masih berada pada level substitusi dan augmentasi. Berada pada dua level pertama setidaknya merupakan langkah awal yang baik bagi para guru untuk naik pada berikutnya dari model SAMR; modifikasi dan redefinisi. Dua level terakhir dalam model SAMR merupakan tahapan transformatif untuk mengelola pelajaran secara PJJ.

 

Tingkatan berikutnya

Pada level modifikasi, kehadiran teknologi telah memberi keleluasaan untuk mendesain ulang model pembelajaran yang dikelola. Sebagai contoh dalam pelajaran bahasa Inggris; sebelumnya pembelajaran writing terkesan monoton dan membosankan dengan hanya menulis dan kemudian dikirimkan atau dikumpulkan kepada guru sebagai satu-satunya orang yang akan memberikan penilaian. Dengan mengaplikasikan level ketiga ini, pembelajaran writing dapat dimodifikasi menjadi lebih menarik. Misalnya meminta siswa menulis 300 kata mengenai pengalaman terbaik mereka dalam pekan tersebut kemudian membagikannya di salah satu saluran media sosial mereka disertai sebuah foto menarik yang relevan.

Melalui cara itu para siswa akan cenderung menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyempurnakan tulisan mereka berdasarkan komentar dan penilaian yang mereka terima dari banyak orang. Jadi, secara tidak langsung siswa akan belajar secara mandiri dan meningkatkan kapasitas literasi yang mereka miliki.

Pada tingkat redefinisi, hadirnya teknologi telah memungkinkan model pembelajaran yang sebelumnya tidak terbayangkan dapat dilakukan. Dalam pembelajaran perspektif global misalnya, jika secara tradisional, pembahasan peristiwa bersejarah yang memengaruhi dua negara tertentu hanya melalui materi bacaan di buku atau internet. Pada level redefinisi, medium konferensi video memungkinkan para siswa untuk secara langsung terhubung dengan para siswa di kedua negara yang sedang menjadi topik diskusi tersebut.

Mereka bisa langsung berdiskusi dan berbagi pendapat satu sama lain. Selain belajar mengenai topik yang didiskusikan, para siswa dapat belajar secara langsung mengenai banyak hal, baik itu budaya maupun perbedaan waktu.

Oleh karena itu, menjadi penting rasanya untuk mendorong para guru agar dapat menerapkan SAMR model di dua level terakhir demi menuju transformasi pembelajaran di era PJJ. Pandemi yang belum kita ketahui akhir siklusnya harus menjadi titik tolak untuk tetap mengikhtiarkan layanan pendidikan terbaik melalui pembelajaran yang bermakna bagi siswa.

BERITA TERKAIT