06 July 2021, 05:05 WIB

Ki Manteb Budhalan Diiringi Sangkakala


A Margana Wartawan, Pengamat Wayang | Opini

BERITA duka wafatnya Ki Manteb Sudharsono, 2 Juli 2021, mengagetkan banyak orang. Soalnya, empat hari sebelumnya (27/7) dalang kondang dari Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah, itu masih mendalang dengan lakon Srikandi Senopati lewat live sreaming. Pak Manteb memang dalang yang selalu ‘oye’, baik sabetan (ketangkasan dan kecepatan memainkan wayang), ontowecono (narasi), suluk (lagu, gendhing), maupun inovasi dalam dunia pedalangan.

Ki Manteb Sudharsono terlahir 31 Agustus 1948. Ia adalah anak seorang dalang, Ki Harjo Brahim. Dari awal mendalang, penonton sudah dipesonakan oleh gaya sabetan Manteb. Sabetan adalah seni ketangkasan memainkan wayang dalam adegan peperangan. Karena kelihaiannya dalam sabetan, ia dijuluki sebagai ‘dalang setan’. Ia berhasil memantik imajinasi penonton seolah menyaksikan adegan perkelahian dengan jurus-jurus silat seperti nyata dilakonkan tokoh manusia.

Sampai pertengahan 1980-an, Ki Manteb memang laris di daerah Surakarta. Ketika mendalang di suatu rumah di Klaten, Sudarko Prawiroyudo, yang di kemudian hari menjadi pengurus Senawangi (Sekretariat Nasional Wayang Indonesia ), melihat bahwa dalang Manteb memiliki potensi besar yang bisa ditingkatkan. Maka ia mengajak Manteb untuk merambah Jakarta.

Saya mengenal Manteb setelah bergabung dalam sebuah tim yang dipimpin Sudarko untuk mendampingi Manteb sebelum mementaskan lakon Banjaran Bimo di Jakarta. Banjaran Bimo adalah serial lakon yang mengisahkan kehidupan Bimo atau Werkudoro, tokoh kesatria dari Pandawa.

Pementasan wayang kulit itu dimainkan setiap bulan selama hampir dua tahun mulai awal 1986. Lokasi pentas berpindah-pindah, utamanya di Gedung Graha Purna Yudha atau Balai Sarbini. Beberapa kali mengadakan wayangan di kampus Universitas Atma Jaya, Universitas Trisakti, dan Istora Jakarta.

Sebelum pentas, sehari atau dua hari Manteb sudah berada di Jakarta. Bersama pastor Dr Kuntoro Wiryamartana SJ, ahli sastra dan bahasa Jawa kuno dari UGM dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, tim mengarahkan dan mengadakan latihan di sebuah rumah di kawasan Bintaro. Saya mengamati, Manteb memang seorang yang rendah hati, dan mempunyai minat belajar luar biasa. Ia mau mendengarkan masukan dan ide baru dari orang lain. Sebagai dalang, ia mampu menerjemahkannya dan melaksanakan lebih kreatif di pentas pedalangan.

Sebagai dalang dari daerah, Manteb sangat terbuka untuk mengadakan inovasi pementasan bagi penonton Jakarta. Misalnya, pentas di gedung pertemuan atau aula, wayang tidak mungkin dimainkan secara teradisional, di mana tamu kehormatan menonton dari balik kelir (layar). Dalam rangkaian lakon Banjaran Bimo itu, Manteb menjadi dalang pertama yang mementaskan wayang seperti teater. Penonton menyaksikan dari depan layar, bukan sekadar menyaksikan wayang (bayang-bayang).

Teknik pementasan dengan penonton menyaksikan dari depan layar ini adalah upaya memanfaatkan kelebihan Manteb, yakni ketangkasannya memainkan wayang dan kreatif dalam dramatisasi. Manteb membuat penonton menyaksikan pentas secara hidup. Beberapa eksperimen ia buat, misalnya dengan wayang dalam posisi miring, atau berkelebat di sekitar lampu, yang hanya kelihatan dari depan layar.

Manteb adalah dalang yang memiliki kemampuan dramatisasi yang kuat sehingga narasi dan ketangkasan memainkan wayang yang menarik dapat disaksikan langsung oleh penonton. Dalam mendalang, ia bisa menyapa atau berdialog dengan penonton di belakangnya.

Setelah Banjaran Bimo selesai, gaya Manteb mementaskan wayang dengan penonton di depan layar itu diikuti oleh dalang lain. Apalagi sekarang ini, wayang dipentaskan dan direkam kamera untuk disiarkan lewat Youtube atau media sosial. Gaya mantep yang dimulai hampir 30 tahun lalu itu terasa sangat relevan.

Manteb juga memperkenalkan permainan lampu untuk mendukung pentasnya. Sebelum pertengahan 1980-an, lampu dalam wayang hanya satu warna di atas dalang. Manteb memperkenalkan permainan lampu seperti teater. Beberapa lampu dengan warna-warni dimainkan untuk mendukung drama dalam pentasnya.

Manteb juga mengembangkan musik untuk mengiringinya. Ia tidak hanya mengandalkan gamelan. Ia memadukan gamelan dengan alat musik modern seperti terompet, biola, dan genderang. Sebelum memberangkatkan pasukan untuk berperang (budhalan), ia menggunakan terompet sebagai pembuka. Terompet menjadi sangkakala yang mengisyaratkan agar pasukan siap siaga untuk berangkat. Barisan pasukan kemudian berjalan diiringi gamelan, terompet, dan genderang.

Pada waktu latihan, memang ada sedikit kesulitan memadukan nada gamelan dan terompet atau biola. Dengan beberapa kali percobaan, Manteb bisa menemukan penyesuaian pada gamelan pelog untuk dimainkan bersama alat musik modern.

Sebelum jejer atau pementasan dimulai, diadakan seremoni penyerahan wayang Bimo sebagai tokoh utama dalam lakon itu kepada sang dalang. Yang menyerahkan ialah tamu kehormatan yang hadir malam itu, seperti menteri, Panglima ABRI, rektor universitas, dan pejabat tinggi lainnya. Kebiasaan seperti ini diteruskan oleh para dalang lain, dengan penyerahan wayang oleh tuan rumah yang punya hajatan.

Rangkaian pementasan Banjaran Bimo yang menjadi awal dari inovasi pedalangan yang dirintis Manteb itu cepat diikuti dalang lain. Kebetulan, bagian-bagian penting dari pembaruan Manteb kala itu disiarkan oleh TVRI sebagai berita.

Dalam setiap kali wayangan, selama hampir dua tahun lebih itu, penyelenggara lebih dahulu menggelar seminar dengan menampilkan tokoh publik saat itu. Manteb diminta mementaskan satu fragmen yang berkaitan dengan value yang akan dibahas dalam seminar. Topiknya masalah sosial dan kebudayaan yang disesuaikan dengan isu yang lagi hangat saat itu. Beberapa pembicara yang pernah ditampilkan sebelum pementasan ialah KH Abdurrahman Wahid (waktu itu Ketua PB NU), Sutjipto Wirosardjono (Ketua BPS), Onghokham (sejarawan UI), dll.

Langkah pembaruan Manteb dalam mendalang banyak diikuti dalang-dalang generasi berikutnya. Inovasi yang belum pernah diikuti oleh dalang lain ialah wayangan dengan mengerahkan kor. Dalam pentas Banjaran Bimo di Istora Senayan (1986), Ki Manteb di panggung pedalangan memimpin kor 300 orang. Bersama anggota kor itu, Manteb mengajak sekitar 15 ribu penonton untuk nembang (melantunkan lagu) secara bersama-sama. Suasana mejadi ingar-bingar malam itu.

Ki Manteb dianggap sebagai guru dan sesepuh para dalang generasi sekarang. Terakhir ia menjadi penasihat organiasi Paguyuban Dalang Surakarta. Ia, misalnya, pernah mengingatkan almarhum Ki Seno Nugroho, dalang kondang generasi lebih muda dari Yogyakarta, agar memperhatikan kesehatan. Ki Seno adalah dalang yang dianggap mengikuti jejaknya dalam melakukan inovasi di dunia pedalangan. Sayang, Ki Seno mendahului Ki Manteb tahun lalu.

Kini, penggemarnya toh masih bisa wayangan dengan Ki Manteb, lewat Youtube. Ki Manteb dikenang oleh penggemar dan dunia pedalangan sebagai pembaru seni budaya wayang. Pembaruan yang digulirkan lewat Banjaran Bimo itu ternyata sesuai dengan kemajuan teknologi sekarang ini, yakni pementasan lewat media sosial.

Kini, Ki Manteb sudah budhalan (berangkat) menghadap Sang Pencipta. Seperti di pentas wayangan, sang dalang mestinya memberi aba-aba iringan musik dengan bunyi sangkakala.

BERITA TERKAIT