23 June 2021, 05:00 WIB

Siapkah Pembelajaran Tatap Muka?


Anggi Afriansyah Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI | Opini

COVER Media Indonesia pada 21 Juni 2021 sangat menarik karena menyajikan gambar hitam putih dan meminta orangtua untuk mengajak anak-anak mewarnai lembaran koran atau lembar e-paper. Intinya, meminta agar semua beraktivitas kembali dari rumah sebab kasus terkonfirmasi covid-19 sudah menembus 2 juta jiwa.

Cover tersebut juga menyuguhkan data yang perlu diperhatikan secara saksama bahwa satu dari delapan pasien covid-19 di Indonesia ialah anak. Fakta mencengangkan lainnya ialah tingkat kematian anak akibat covid-19 di Indonesia merupakan yang tertinggi, yaitu 12,5% (Media Indonesia, 21/6).

Untuk konteks pendidikan, pertanyaan yang kemudian diajukan ialah siapkah pembelajaran tatap muka (PTM) dilakukan di tahun ajaran baru nanti? Itu karena tingginya kasus tentu harus jadi variabel yang perlu diperhatikan. Beberapa daerah, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bogor, dan Bandung kemudian menghentikan uji coba tatap muka.

Terdapat banyak faktor yang mengakibatkan kasus covid-19 di beberapa kota besar kembali melonjak. Dari berbagai sumber disebut salah satu yang paling mudah dideteksi ialah mengenai pelaksanaan protokol kesehatan yang tidak presisi dilaksanakan.

 

Wajah pendidikan

 

Kondisi pandemi yang masih terus berlanjut semakin membuat wajah pendidikan di negeri ini babak belur. Di pemberitaan, banyak orangtua terutama dari keluarga miskin, yang mengeluh karena harus tetap membiayai pendidikan anak, tapi kesulitan mendapatkan penghidupan karena bekerja semakin sulit.

Keluarga miskin harus rela tidak mendapat pendidikan secara optimal karena mereka tidak memiliki akses yang memadai. Sementara itu, keluarga yang berkecukupan masih memiliki pilihan. Investasi untuk membiayai pendidikan saat pandemi berlangsung jelas tak murah. Ada banyak yang dipersiapkan sekolah-sekolah agar pendidikan di awal tahun ajaran baru nanti tetap berjalan optimal. Banyak sekolah putar otak untuk membuat proses pendidikan berjalan dengan lancar.

Otoritas pendidikan di pusat maupun daerah putar akal agar setiap anak mendapatkan pendidikan sesuai dengan haknya. Sekolah-sekolah memperbaiki diri agar siap melaksanakan pembelajaran tatap muka sebab tahun ajaran baru segera tiba dan keinginan untuk membuka sekolah semakin menggelora. Orangtua sudah kesulitan menemani anak di rumah, guru kehabisan akal mencari metode baru agar anak semangat mengajar, serta kekhawatiran adanya learning loss.

 

Beberapa catatan

 

Dalam konteks uji coba PTM yang sudah diselenggarakan, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Pertama, meski secara prosedur di sekolah disampaikan pentingnya 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan memakai sabun dan air mengalir ataupun hand sanitizer, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilisasi serta interaksi, pada praktiknya hal tersebut tidak mudah untuk dipatuhi.

Kedua, perlunya perhatian lebih terhadap peningkatan imun tubuh guru dan siswa, dengan memberi bantuan vitamin atau suplemen juga sisi kesehatan lainnya. Sekolah yang memiliki kapital ekonomi, memang sudah melakukan hal tersebut. Lalu, bagaimana dengan sekolah yang memiliki banyak keterbatasan? Di sini peran pemerintah menjadi utama.

Ketiga, kerinduan terhadap sekolah maupun keguyuban sering kali membuat siswa maupun guru terlena, terutama pada soal menjauhi kerumunan, mobilisasi, interaksi, dan menjaga jarak. Observasi penulis di status media sosial para guru, misalnya, masih terdapat teladan yang kurang baik soal mematuhi protokol kesehatan.

Penulis dengan mudah mendapatkan foto-foto guru yang berdekatan seperti kumpul-kumpul, entah dalam acara makan bersama maupun aktivitas lain. Tentu hal tersebut tidak dapat digeneralisasi, tapi menjadi indikasi betapa meniadakan aktivitas berkumpul sulit untuk dilakukan sebagian pihak.

Keempat, dari segi ketaatan memakai masker pun masih perlu menjadi perhatian. Dalam beberapa kesempatan, penulis melihat para guru yang melepas masker ketika menjelaskan materi. Peluang menyebarkan covid-19 terbuka di sini. Budaya menggunakan masker di mana pun dan kapan pun menjadi sangat penting. Dari sini anak-anak belajar untuk terus menggunakan masker di mana pun dan kapan pun. Jika guru masih sulit meniadakan aktivitas berkumpul maupun tidak memakai masker secara tertib, tentu ini akan menjadi ‘pendidikan’ kurang baik bagi para siswanya. Itu karena para guru ialah teladan bagi anak-anak didiknya.

Kelima, budaya sekolah yang menguatkan prokes menjadi sangat penting. Contoh utamanya, tentu para guru dan kemudian akan terinternalisasi kepada para siswa. Terdapat beberapa sekolah sudah menjadi contoh baik dengan mengawasi secara ketat, aktivitas para guru di sekolah. Misalnya, membatasi aktivitas makan bersama, memberi guru ruangan yang terpisah sehingga aktivitas mengobrol dibatasi, dan tetap melakukan kegiatan rapat secara online. Intinya sekolah berupaya untuk membatasi ruang interaksi. Semuanya dilakukan agar persebaran covid-19 dapat dibatasi.

Keenam, membangun budaya sadar 5M menjadi penting dilakukan dan teladan terbaik di level mikro persekolahan ialah para guru. Tidak bermaksud untuk membebani guru, tapi memang para guru menjadi garda terdepan dalam mencontohkan bagaimana penerapan 5M dilaksanakan. Jika 5M tidak dilaksanakan secara disiplin, jangan harap PTM dapat dilakukan secara optimal. Ada risiko membayangi jika ekosistem di sekolah tidak menerapkan prokes secara disiplin.

Ketujuh, program vaksinasi bagi guru maupun masyarakat belum mencapai target. Ini juga tentu menjadi catatan yang perlu diperhatikan. Di tengah melonjak kembali kasus, varian baru covid-19, dan vaksinasi bagi guru atau masyarakat yang belum sesuai target, disiplin menjaga protokol kesehatan menjadi kata kunci utama.

Kedelapan, di beberapa sekolah yang sudah menjalankan uji coba PTM, masih banyak orangtua yang belum mengizinkan anak-anak untuk belajar di sekolah. Kondisi terdapat anak-anak yang belajar di rumah dan di sekolah tentu membuat guru harus berjibaku untuk menyusun kegiatan. Pembelajaran yang mengakomodasi kedua kegiatan pembelajaran tersebut.

Beberapa catatan tersebut perlu diperhatikan, jangan sampai jantung selalu berdebar kencang setelah PTM terbatas dilakukan karena khawatir sekolah menjadi klaster penyebar covid-19. Semoga tidak.

BERITA TERKAIT