17 June 2021, 05:00 WIB

Invasi VoC Delta ke Kudus dan Bangkalan


Djoko Santoso Guru Besar Fakultas Kedokteran Unair, Ketua Badan Kesehatan MUI Jatim, serta penyintas covid-19 | Opini

VARIAN covid-19 dari India itu menginvasi dengan menunggangi kesembronoan kita. Akibatnya, pasien positif covid-19 Indonesia tiba-tiba melonjak drastis, berawal dari Kudus. Seperti diberitakan, penyebabnya ialah warga santai saja menjalani tradisi bakdo kupat (Lebaran ketupat), tujuh hari setelah Idul Fitri. Mereka berkerumun, bergerombol, dan saling mengunjungi. Di situlah varian delta covid-19 ikut ‘menari-nari’ di antara warga.

Maka, meledaklah kasus penularan di kota pusat rokok kretek itu. Rumah sakit menjadi penuh pasien, dan angka kematian melonjak. Lonjakan ini diperkuat hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diumumkan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi. Ia mengatakan dari 34 spesimen dari Kudus yang di periksa, 28 di antaranya positif varian delta.

Tragedi Kudus menjadikan Provinsi Jateng memecahkan rekor, melewati angka 10 ribu kasus positif covid-19, dengan penambahan kasus positif di atas 1.000 orang per hari. Sangat berat. Kejadian bakdo kupat tidak hanya di Kudus. Di Bangkalan, Madura, kejadiannya mirip. Warga Madura di perantauan toron berbondong mudik, melewati jembatan Suramadu. Petugas kewalahan mencegah, tidak kuasa menahan kepulangan warga. Dan hasilnya sama, Bangkalan langsung berubah menjadi episentrum pandemi di Madura.

Bangkalan juga terinvasi varian baru. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, varian baru virus korona dari India atau varian B1617 banyak ditemukan di DKI Jakarta, Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Bangkalan. Menurut analisis pakar, varian delta (B16172) ini di laporkan lebih menular 40%-90% jika dibandingkan dengan virus induknya, dan menyerang segala usia, remaja, dewasa, hingga lansia.

Seperti diberitakan, para pasien kritis covid- 19 di RS Syarifah Ambami Rato Ebu (Syamrabu) tidak bisa bertahan lama, meninggal dalam 24 jam. Sedihnya, ada 2-3 orang sekeluarga meninggal karena penularan di Bangkalan ini. Sementara itu, kapasitas fasilitas kesehatan di Kudus dan Bangkalan sangat terbatas. Akibatnya, banyak pasien terpaksa dipindah ke kota lain yang lebih kapasitas RS-nya belum penuh. Di Bangkalan bahkan sampai RS darurat yang menggunakan tenda di lapangan, juga penuh pasien.

Kejadian di Kudus dan Bangkalan ini menunjukkan masyarakat kita belum bisa sepenuhnya menyadari betapa pandemi covid-19 ini tetap mematikan. Kerinduan akan tradisi berkumpul, mengendurkan kewaspadaan dan pertimbangan nalar keselamatan. Kenekatan pun menebar maut.

 

 

Super-spreader voc delta

Tahun kedua pandemi covid-19 memang terus memberikan banyak kejutan. Dua bulan lalu kita diberi pelajaran ‘horor’, bagaimana India yang dipuji hampir berhasil mencapai herd immunity, tiba-tiba berubah menjadi tragedi yang sangat memilukan. Penyebabnya ialah jutaan warga India berbondong menjalani ritual tradisional Kumbh Mela, mandi kolosal dengan khusyuk di Sungai Gangga. Tapi dalam perspektif kesehatan, mereka bisa disebut nekat dan ngeyel (ignorance).

India, yang sebelumnya dipuji WHO karena kecepatan vaksinasi massalnya, langsung berubah menjadi tragedi memilukan. Dari puncak 6 Mei 2021, sebesar 414 ribu kasus, kasus harian India terus turun. Pada 13 Juni, dengan tambahan kasus 68 ribu. Namun, India tetap ‘juara dunia’ dalam tambahan kasus harian covid-19. Begitu pun dalam kematian harian, juga tetap ‘juara bertahan’ meskipun sudah turun dari puncak 4.896 meninggal (24 Mei) ke 1.761 meninggal (13 Juni).

Tak kurang, para dokter dan pakar menyerukan, agar kita taat prokes dan menghindari kerumunan. Sebaliknya, berbagai unggahan komentar dan video dari para ignorant, termasuk khotbah dari agamawan yang meremehkan, serta menganggap pandemi sebagai rekayasa untuk membatasi aktivitas ibadah, beredar di berbagai grup WA dan medsos, serta banyak yang percaya dan memviralkannya. Seolah mau membenturkan antara kalangan ahli medis dengan kalangan agamawan. Mayoritas agamawan yang berakal jernih pun bisa kalah menyaring.

WHO mencatat, sejauh ini sudah terdeteksi setidaknya ada 14 mutan atau varian mutasi baru yang tersebar di berbagai negara. Dari 14 mutan ini, ada 10 yang masuk kategori variant of interest (VoI), dianggap belum sangat membahayakan seperti varian epsilon (B1427/1429) yang muncul di AS, atau varian kappa (B16171) yang muncul di India.

Di luar itu, ada empat varian yang diyakini sangat membahayakan karena jauh lebih menular jika dibandingkan dengan induknya, dimasukkan ke kategori variant of concern (VoC) yang harus diwasadai. Keempatnya ialah varian alpha (B117) yang muncul pertama kali di Inggris, varian beta (B1351) yang muncul pertama kali di Afrika Selatan, varian gamma (P1) yang muncul di Brasil, dan terakhir varian delta (B16172) yang muncul di India.

Epidemiolog Inggris Neil Ferguson menyebut, varian delta ini sangat berbahaya, 60% lebih menular jika dibandingkan dengan varian B117 (alpha) sehingga disebut sebagai super-spreader. Bahkan, dapat menyebabkan peningkatan risiko rawat inap jika dibandingkan dengan varian alpha dan lainnya. Dengan demikian, India bisa disebut sudah menurunkan ‘cucu’ virus korona sebab varian delta (B16172) ialah ‘anak’ dari varian kappa (B16171), turunan dari ‘eyang’ virus yang pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok.

Varian delta inilah yang menyebabkan tsunami gelombang kedua di India, sudah menyebar di lebih dari 60 negara, dan sudah masuk ke Kudus, Jawa Tengah. Diberitakan, tim UGM yang meneliti kasus Kudus sudah mengambil spesimen dan menemukan ada 28 pasien yang terkonfirmasi tertular varian delta, pada akhir minggu kedua Juni (13/6). Beberapa epidemiolog memprediksi, akhir Juni bisa menjadi puncak lonjakan kasus sebagai imbas mudik Lebaran.

Kasus invasi varian delta ke Kudus dan Bangkalan serta daerah lain, bukan berarti pemerintah kecolongan karena ini bukan kejadian baru. Pada Lebaran tahun lalu sudah terjadi dan juga menghasilkan lonjakan penularan sehingga seharusnya bisa dijadikan pelajaran berharga.

Sebelum Lebaran 2021, semua pihak sudah tahu, para pakar juga sudah mengingatkan betapa berbahayanya mudik, dan pemerintah sudah menyatakan melarang mudik. Namun, memang sulit kalau sudah ngeyel. Tak peduli walau kengeyelan itu bisa memerosokkan ke lubang maut yang sama berkali-kali.

 

 

Prokes, mudah dan murah

Pascakejadian Kudus dan Bangkalan, para pakar tetap mengingatkan wajib setia pada tiga formula dasar pencegahan meluasnya pandemi: taat prokes, 3T, dan vaksinasi. Prosedur kesehatan (prokes) standar seperti memakai masker kesehatan, menjaga jarak, dan mencegah kerumunan, serta rajin mencuci tangan, ialah hal yang sangat sederhana, murah biayanya. Namun, terbukti sangat ampuh untuk meminimalkan penularan. Ini pengembangan respons standar karantina: kalau ada wabah jangan dekati, kalau sudah berada di daerah wabah jangan keluar.

Kemudian, 3T atau testing, tracing, treatment, ialah formula dasar penanganan, yang sebenarnya sudah dijalankan pemerintah dan Satgas. Masalahnya, jumlah yang di-testing (spesimen) dan skala tracing masih dianggap belum cukup. Seharusnya, makin hari pemerintah makin memperbanyak tes dan tracing, sebagai dasar pendataan dan pemetaan, untuk melakukan treatment. Janganlah sampai ada lelucon bodoh: untuk setop penambahan kasus, setop saja tesnya.

Langkah lainnya ialah vaksinasi. Dengan jumlah penduduk terbanyak nomor empat di dunia, dengan dukungan diplomasi, pemerintah terus berusaha mendapatkan pasokan vaksin dari berbagai produsen, sambil terus memacu pengembangan vaksin produk dalam negeri. Namun, menurut epidemiolog Dicky Budiman, dari semua vaksin yang sudah disuntikkan ke warga Indonesia, hanya Pfizer dan Moderna yang memiliki data dan laporan penggunaan yang relatif lengkap. Sementara itu, vaksin lainnya belum. Semoga ini menjadi catatan bagi pemerintah, agar mendorong pelaporan data pelaksanaan vaksinasi bagi vaksin yang lain.

 

 

Lockdown lokal

Kasus Kudus dan Bangkalan yang merembet ke daerah lain langsung membuat kurva naik lagi, penambahan kasus harian melesat. Cerita indah kurva melandai sampai menjelang Lebaran pun terganggu. Untuk memudahkan pengendalian masyarakat, sudah saatnya diperlukan langkah yang lebih tegas, yaitu memberlakukan lockdown lokal.

Pemerintah sudah memutuskan untuk memperpanjang program pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro mulai 15-28 Juni mendatang. PPKM ini perlu diberi ‘rasa lockdown’ agar efektif. Orang-orang yang positif, diisolasi, dan dijamin kebutuhannya, agar mereka benar-benar tak berpindah, dan di wilayah sasaran diperkuat testing-nya. Sampai betul-betul nol penambahan kasus baru.

Sudah saatnya pemerintah dan Satgas Covid- 19 bersikap lebih lugas. Ledakan penularan, melonjaknya pasien dan rumah sakit yang tak kewalahan menampung pasien, serta naiknya angka kematian bukanlah hal yang bisa ditoleransi siapa pun yang meremehkan dan nekat mengabaikan prokes. Warga dikawal untuk disiplin dan pemerintah juga konsisten ikut disiplin.

Keadaan masih berbahaya. Jangan sampai ‘virus jahat’ meremehkan covid-19 berkembang dan baru sadar setelah dipasangi ventilator di ruang ICU. Baru menyesal di tengah napas yang tersengal-sengal. Ingat, varian mutasi covid-19 ini makin ganas, terutama jenis VoC.

BERITA TERKAIT