14 June 2021, 05:00 WIB

Tak Perlu Peringkat


Azwar Anas Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe | Opini

“ANAK saya ranking berapa, Pak?” Pertanyaan seperti ini kerap kali muncul di setiap sesi pertemuan dengan orangtua saat pembagian laporan hasil belajar siswa. Bagaimana tidak, ranking atau peringkat dianggap menjadi begitu penting dan seakan satu-satunya indikator keberhasilan belajar siswa terhadap proses pembelajaran yang selama ini berlangsung.

Peringkat kelas atau pemeringkatan hasil belajar siswa masih dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting dalam masyarakat kita. Hal ini karena ada asumsi bahwa siswa yang memperoleh peringkat atas dianggap sebagai anak cerdas. Peringkat kelas merupakan data siswa yang menjelaskan urutan keberadaan mereka berdasarkan jumlah nilai yang tertera pada rapor. Peringkat dapat mendeskripsikan tingkat prestasi siswa berada di posisi mana jika dibandingkan dengan siswa lain pada kelas yang sama. Semakin atas peringkat yang diraih siswa, makin bagus pemahaman pembelajaran yang diraihnya. Sebaliknya, semakin rendah peringkat yang dicapai, makin lemah pula pemahaman akan pembelajaran yang diikutinya.

 

Anggapan

Peringkat kelas menjadi lebih bergengsi di kalangan orangtua karena menjadi tolok ukur dan pembanding keberhasilan belajar anaknya dengan siswa lain. Secara kasatmata agaknya peringkat kelas memang mendeskripsikan penguasaan akan hasil belajar oleh siswa. Namun, nyatanya hal tersebut tidaklah demikian. Peringkat kelas selama ini didapati dari hasil penilaian acuan kriteria (PAK) yang berpegang pada kriteria ketuntasan minimal (KKM).

KKM merupakan kriteria ketuntasan belajar minimal yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan karakteristik kompetensi dasar yang akan dicapai (Zuhera, dkk: 2017). Maka dari itu, KKM ini menjadi indikator tuntas atau tidaknya siswa dalam belajar. Sebaliknya peringkat kelas sama sekali tidak mengambil peran terhadap hal ini. Namun, persepsi yang agaknya masih keliru justru terjadi pada kita. Lazimnya orangtua hanya berfokus pada peringkat anak dan abai akan nilai mereka ditinjau dari KKM. Bisa saja siswa mendapatkan peringkat kelas. Akan tetapi, jika ditinjau dari nilai yang diperoleh, tak begitu jauh atau bahkan sangat mepet dengan KKM.

Berbeda halnya dengan pendidikan di negara maju seperti Finlandia. Sebagai salah satu negara dengan pendidikan terbaik, Finlandia tidak menganut sistem pemeringkatan. Hal itu karena pemeringkatan siswa dalam sebuah kelas dapat memberikan efek buruk terhadap berbagai aspek belajar siswa. Secara tidak langsung, sistem pemeringkatan telah mengklasifikasikan antara siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah dalam pembelajaran. Hal tersebut akan berdampak pada perkembangan mentalitas siswa dalam belajar.

 

Dampak buruk

Adanya pemeringkatan hasil belajar dalam sebuah kelas nyatanya semakin memperparah terjadinya inklusivitas dalam pendidikan kita. Sistem ini membuat jarak antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan rendah menjadi semakin mencuat. Kondisi itu semakin diperburuk oleh adanya pengelompokan siswa berdasarkan kepintaran atau prestasi akademik yang biasanya dikenal dengan ability grouping atau achievement grouping.

Pengelompokan ini masih begitu lazim dalam pendidikan saat ini. Siswa yang memiliki kemampuan dan prestasi akademik tinggi dikelompokkan sesamanya ke dalam satu kelas. Sebaliknya, siswa dengan kemampuan rendah juga disatukan sesama kategorinya. Hal itu dilakukan dengan asumsi bahwa siswa yang memiliki prestasi akademik memerlukan layanan pembelajaran berbeda dengan siswa yang kurang berprestasi. Padahal, keadaan ini tidak berpengaruh sama sekali.

Pengelompokan jenis ini jutru dipandang sangat tidak efektif. Akibat dari pengelompokan ini ialah memicu terjadinya konflik di antara siswa. Tak jarang terkadang siswa dari kategori kelas pintar merasa lebih hebat (over confidence) dan muncul konflik yang bersifat destruktif di antara teman sekelasnya disebabkan persaingan yang ada. Begitu pula dengan kelas kategori rendah. Mereka menjadi kelompok yang kehilangan identitasnya sebagai pelajar, emosi mudah mencuat dan tak terkendali, serta semangat belajar mereka semakin terkikis (Najamuddin: 2020).

Dampak lain dari adanya pemeringkatan kelas ialah memicu munculnya beban mental pada siswa. Hal tersebut disebabkan adanya tuntutan dari berbagai pihak—terutama orangtua—agar anak memperoleh peringkat terbaik. Kondisi ini menimbulkan beban pikiran bagi siswa. Belum lagi adanya pelabelan tertentu bagi siswa yang berkemampuan rendah, seperti bodoh, dungu, dan lainnya, yang menyebabkan mereka menjadi pribadi yang tidak percaya diri serta pasrah pada keadaan. Di sisi lain, beban mental juga dirasakan oleh siswa yang memperoleh peringkat atas.

Siswa dengan peringkat tinggi cenderung harus berusaha mempertahankan peringkat yang telah diraih. Selain biasanya karena tuntutan orangtua, hal ini juga dilakukan agar ia mampu membuktikan kecerdasannya di hadapan teman yang lain. Kondisi ini tak jarang menjadi beban bagi mereka. Bahkan saat akan menghadapi tes atau ujian, terkadang mereka harus memaksakan diri untuk belajar tanpa mengenal waktu.

Pemeringkatan dalam sebuah kelas terkadang juga memunculkan konflik yang tidak sehat di antara para siswa. Selain memicu terjadinya kecurangan seperti menyontek akibat siswa berusaha mempertahankan atau meraih nilai tinggi, pemeringkatan juga menyulut terjadinya persaingan yang tidak sehat antarsiswa. Hal tersebut karena setiap siswa akan berlomba meperoleh nilai tinggi untuk mendapatkan peringkat tinggi pula. Dengan begitu, tujuan mulia pendidikan untuk membentuk karakter yang baik pada setiap individu kian memudar.

Begitu pun pelaksanaan pembelajaran, yang harusnya bersifat kolaboratif, berubah menjadi suasana kompetitif yang tak berdampak baik. Dengan demikian, pemeringkatan kelas telah menyebabkan terjadinya pengklasifikasian siswa secara tidak manusiawi. Parahnya hal itu dilakukan oleh lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat membangun karakter bangsa. Oleh karena itu, sudah saatnya berhenti melakukan pemeringkatan agar tak lagi terjadi proses dehumanisasi dalam lembaga pendidikan kita. Karena setiap murid adalah unik dan masing-masing memiliki kelebihan yang dapat terus dikembangkan.

BERITA TERKAIT