04 June 2021, 06:00 WIB

Ruang Lobi Nonformal Olahraga


Jamal Wiwoho, Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) dan Agus Kristiyanto, Wadek 1 Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Pengurus Pusat Asosiasi Profesor Keolahr | Opini

MEMBANGUN komunikasi nonformal, terutama dalam situasi pandemi covid-19 yang masih berlangsung, relatif menjadi kebutuhan utama, terutama bagi para decision maker. Pilihan komunikasi nonformal tidak untuk menggantikan komunikasi yang bersifat formal, tetapi hadir dan dipilih untuk lebih melengkapi dan memberi penguatan kesepakatan aksi bersama. Pada saat segalanya dilakukan serbavirtual-daring, interaksi formal seolah kini ‘bertambah kaku’.

Ekspresi tertulis dan lisan-verbal pun acapkali kurang efektif karena kehilangan ‘magnet sosio-emosional’ dalam berinteraksi. Sebuah magnet absolut yang diperlukan dalam komunikasi lobi-lobi, tiba-tiba perlahan, tetapi pasti semakin ‘menguap’ dalam komunikasi yang serbavirtual berkepanjangan.

Berkomunikasi nonformal melalui olahraga menjadi sebuah pilihan aktivitas sehat, cerdas, dan dinamis selama masa pandemi covid-19. Tatkala adaptasi kebiasaan baru menjadi pilihan, berolahraga menjadi ‘solusi khusus’ untuk kesehatan, kegembiraan, relasi sosial, ekonomi, hingga untuk tools berinteraksi. Bahkan, tujuan-tujuan lain yang berkembang sangat dinamis.

Olahraga sebenarnya ialah sebuah ekspresi dan aksentuasi fisik, mental, dan sosial, yang hasilnya akan diperoleh berdasarkan tujuan khas si pengolahraga. Definisi yuridis kekinian tentang olahraga pun telah jelas diatur dalam UU No 3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, termasuk perubahan RUU itu, yang tengah bergulir. Olahraga ialah segala kegiatan yang melibatkan pikiran, raga, dan jiwa secara terintegrasi dan sistematis untuk mendorong, membina, dan mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial.

Narasi tentang pilar olahraga secara bebas dan konsisten dirumuskan dalam perspektif sesuai tujuan berolahraga. Artinya, tidak boleh ada lagi pemahaman tunggal atas tujuan berolahraga. Pertama, pilar olahraga pendidikan, yakni olahraga yang bertujuan untuk mendidik yang menjadi alat mencapai tujuan pendidikan. Bentuk aktivitas olahraga ‘dipinjam’ sebagai alat untuk mendidik dan dijadikan sebagai mata pelajaran formal di sekolah.

Kedua, pilar olahraga rekreasi, yakni olahraga berdasarkan ke­gemaran dan kemampuan yang tumbuh dan berkembang, dilakukan secara terus-menerus untuk pemulihan, kesehatan, kebugaran, kegembiraan, kesejahteraan mental, dan relasi sosial.

Ketiga, pilar olahraga prestasi, yakni olahraga yang diselenggarakan dalam rangka membina, mengembangkan, dan meningkatkan kemampuan olahragawan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan, melalui kompetisi untuk mencapai prestasi. Kata kunci pilar ini ialah pada performa dan pe­nguatan daya saing dalam kompetisi, baik dalam bentuk pertandingan maupun perlombaan.

Di manakah letak ruang lobi nonformal olahraga? Sebagai sebuah tools untuk berinteraksi dengan pihak-pihak lain, ruang lobi nonformal tersedia di ketiga pilar olahraga itu. Namun, jika persoalan lobi nonformal diartikan sebagai bagian dari relasi sosial, olahraga rekreasilah yang bersinggungan paling erat. Olahraga rekreasi sebagai aktivitas pengisian waktu luang memiliki keluwesan dan keleluasaan  dengan berbagai pihak dan berbagai kepentingan tertentu.

Relasi sosial di ranah olahraga bersifat nonformal, alamiah, relaksasi, kosmopolit menampung berbagai kepentingan positif, serta, berbagai pintu kesepakatan yang mungkin terasa sangat alot dalam suasana meeting formal. Banyak eksekusi yang menghasilkan deal strategis, ketika di lapangan tenis, futsal, bolavoli, panahan, hingga padang golf. Berbagai persoalan urgent yang bernilai positif, sering disepakati di lapangan olahraga yang memang bisa berfungsi lain sebagai ruang lobi sangat luas tapi eksklusif. Karena memadukan kekhasan suasana fisik dan suasana ‘kebatinannya’.

Ruang lobi olahraga

Tidak sedikit pula kebuntuan yang terjadi di pertemuan formal mencair saat seorang top leader berteriak, “Wow, saya tambah happy hari ini karena berhasil melakukan pukulan over head yang mematikan lebih dari tiga kali!” Konon, Presiden Soeharto pun sering mendapat inspirasi perjanjian relasi perdagangan, bisnis, serta bentuk kerja sama bilateral, maupun multilateral, dalam suasana nonformal di lapangan. Golf sebagai tools memediatori antartokoh kunci mengambil keputusan penting dalam suasana relaksasi nonformal, termasuk para aktor Hollywood, seperti Sylvester ‘Rambo’ Stallone.

Presiden SBY juga sering menyalurkan hobi bermain voli untuk relaksasi dan berkomunikasi nonformal dengan berbagai pihak. Pun Presiden Jokowi yang ternyata hobi olahraga memanah. Ketika ditanya media, Presiden menjelaskan bahwa panahan itu mengajari kita tentang target. Bekerja apa pun, intinya ialah fokus pada target atau capaian.   
 
Pada saat yang lain, Presiden Jokowi juga menyampaikan prinsip kecepatan dan keseimbangan hidup melalui filosofi bersepeda. Berbagai pesan moral itu efeknya ‘lebih nendang’. Karena disampaikan relevan dengan tools olahraga yang sedang dilakukan.

Terdapat setidaknya tiga sudut pandang untuk menarasikan justifikasi olahraga sebagai ruang lobi nonformal. Pertama, dorongan kuat dalam kapasitas sebagai makhluk individu, sekaligus makhluk sosial. Hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai manfaat bagi individu, akan menjadi pilihan yang akan dilakukan.

Mendapatkan kesehatan, kesenang­an, kegembiraan, kese­imbangan adalah reward urusan-urusan pribadi yang melekat sebagai manfaat olahraga bagi individu. Berolahraga, artinya menghadirkan diri bermain bersama orang lain. Inilah reward yang terbentuk melalui mekanisme secara sosial.

Kedua, olahraga memiliki nilai rekreatif sebagai bentuk perilaku positif dalam gerak aktif. Mereka berkontraksi, tetapi sebenarnya relaksasi dalam bergerak. Tidak ada target saling mengalahkan dalam olahraga rekreasi, kecuali sekadar saling merespons hadirnya kegembiraan bersama seiring meningkatnya hormon endorphine (hormon kebahagiaan) pada setiap pelaku olahraga.

Ketiga, ketegangan antarindividu terjadi karena dua hal, yakni karena keduanya takut kalah, dan karena keduanya memaksa diri harus menang. Dalam olahraga rekreasi tidak ada ketegangan itu. Pertandingan persahabatan itu, pertandingan yang mempertemukan dua sahabat dalam sebuah kompetisi. Di balik tanding, ada negosiasi antarsahabat yang sedang ditumbuhkan untuk saling membesarkan.

Kemasan pertandingan persahabatan olahraga harus ‘naik kelas’, bukan hanya persahabatan antardua sekolah, melainkan persahabatan yang akan menghasilkan eksekusi besar yang berguna untuk saling membesarkan berbagai pihak. Perguruan Tinggi yang bercita-cita mengakselerasi kemajuanpun seyogianya menggunakan tools olahraga sebagai ruang lobi nonformal.

Olahraga ibarat ‘detonator’ yang akan menjadi pemantik ‘ledakan besar’ dalam proses kerja sama Pentahelix. Bukan sebatas dengan dunia usaha dan dunia industri, tetapi juga menciptakan jaringan kerja sama yang menggurita dengan seluruh komponen helix, mulai birokrat, akademisi institusi lain, pengusaha, komunitas, hingga media.

Di samping itu, olahraga sebagai sarana komunikasi nonformal juga berguna untuk kampanye olahraga untuk semua. Persahabatan olahraga, misalnya laga tenis antara decision maker, pasti akan memberikan efek role model yang sangat kuat, bagi penguatan daya tarik olahraga bersangkutan.

BERITA TERKAIT