27 May 2021, 16:20 WIB

Refleksi Mudik, Sarana Komunikasi Budaya Digital


Diah Ayu Candraningrum, Pengajar di Fikom Universitas Tarumanagara, kandidat doktor Universitas Indonesia | Opini

BELAKANGAN ini ramai berita di berbagai media mengenai aturan larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah. Tujuan utama dikeluarkannya aturan ini sebetulnya baik; pemerintah berusaha mencegah naiknya jumlah penderita positif covid-19 di tingkat nasional. Terlebih setelah sempat turun di beberapa waktu sebelumnya.

Namun ternyata, masyarakat menyikapi aturan tersebut secara berbeda-beda. Ada yang menurut dan tetap tinggal di rumah selama Lebaran, ada pula yang nekat pulang kampung sebelum waktu larangan tiba, dan ada pula yang tetap nekat pulang kampung meski dalam periode waktu larangan tersebut.

Menarik sekali mengupas salah satu budaya masyarakat Indonesia yang telah dilaksanakan secara turun-temurun adalah budaya mudik saat momen Idul Fitri. Setiap tahun, masyarakat tak lelah untuk pulang ke kampung halaman untuk bertemu dengan orang tua dan keluarga besar tercinta. Padahal, untuk bisa mencapai kota asalnya mereka harus berjuang keras melawan kemacetan.

Pernah, suatu perjalanan mudik dari Jakarta ke Tegal, Jawa Tengah, pada medio sebelum 2010 ditempuh hampir 24 jam perjalanan darat menggunakan mobil pribadi. Saat itu, rombongan berangkat dari Jakarta setelah waktu sahur dan sampai di di tujuan waktu sahur berikutnya. Padahal pada kondisi normal, perjalanan darat dengan tujuan sama dapat ditempuh paling cepat 7 jam. Bandingkan dengan jarak tempuh saat ini, setelah Presiden Joko Widodo meresmikan ruas jalan tol Cipali pada 13 Juni 2015. Waktu tempuh Jakarta-Tegal dipangkas hingga menjadi 4 jam perjalanan saja. 

Namun keberadaan infrastruktur tidak serta-merta menjamin lancarnya ritual mudik. Tetap saja ada cerita bahwa mau sebaik apapun kualitas dan fasilitas umum penunjang kegiatan pulang kampung, tetap tak kuasa menahan jumlah kendaraan yang berlalu lalang di atasnya. Buktinya cerita mudik di saat libur Natal 2015 lalu saat jalan tol Cipali baru saja dibuka. Perjalanan mudik dari Bogor ke Kuningan, Jawa Barat menggunakan mobil pribadi biasanya ditempuh dalam 7 jam perjalanan. Namun padatnya pemudik saat itu, membuat sebuah keluarga masih melaju di atas tol Cikunir meski sudah 4 jam berlalu dari kediamannya di Bogor. (Tempo, 2015).

Itu baru seputar perjuangan mudik di jalan. Bayangkan juga ‘modal kapital’ yang harus disediakan untuk sebuah perjalanan pulang kampung. Ada komponen sewa mobil untuk mereka yang tidak memiliki kendaraan pribadi yakni sekitar Rp3,5 juta–Rp4 juta untuk sewa mobil sepekan. Lalu komponen biaya tol yang berbeda-beda tiap ruasnya. Misal mudik dari Jakarta hingga Pasuruan, Jawa Timur menggunakan tol Trans Jawa harus merogoh kocek sekitar Rp700 ribu untuk sekali perjalanan. Belum lagi biaya bahan bakar yang juga tidak kecil. Ada juga komponen biaya makan dan minum selama di perjalanan. 

Gambaran di atas sejalan dengan hasil survei potensi pemudik Kementerian Perhubungan (Kemhub) 2019, yang menunjukkan, dana pemudik asal Jabodetabek saja yang mengalir ke daerah-daerah tujuan total mencapai Rp10,3 triliun. Uang itu paling banyak bergerak ke Jawa Tengah sebesar Rp3,8 triliun, Jawa Barat Rp2,05 triliun, Jawa Timur Rp1,3 triliun (Kontan, 2019).

Perjuangan keras

Penjelasan di atas merupakan salah satu bentuk kerasnya perjuangan masyarakat di perantauan untuk menjalin tali silaturahmi dengan keluarga. Inilah bentuk kearifan lokal atau local wisdom yang sebetulnya, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari kata kearifan (wisdom) dan lokal (local). Lokal diartikan setempat, sedangkan kearifan berarti kebijaksanan. Dapat diartikan kearifan lolal adalah aneka gagasan sempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan dan berniat baik, yang tertanam dan dipatuhi anggota masyarakat. 

Sebuah budaya lahir dari keluhuran nilai, kemuliaan sikap dan keagungan tradisi masyarakat yang berjalan secara berkelanjutan dan mengakar. Proses terjadinya budaya pun lahir dari adanya interaksi dan akulturasi antara keyakinan religi, sosial dan tradisi masyarakat.

Persinggungan tadi melahirkan cara pandang, keyakinan, sikap dan ideologi yang heterogen dan dinamis. Karena itu penting sekali memahami budaya dalam komunitas tertentu dengan cara memahami juga cara pandang, sikap dan ideologi di mana komunitas masyarakat itu berada. (Mujahidin, 2016).

Kearifan lokal adalah kearifan, kebijaksanaan atau kebiasaan-kebiasaan adiluhung yang dibangun atas tradisi-tradisi luhur yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur dari generasi ke generasi berikutnya. Oleh sebab itu, kearifan lokal menjadi sesuatu yang sangat signifikan dalam suatu masyarakat. Sebut saja masyarakat Bali yang memiliki kearifan lokal yang tak terhingga yang meliputi berbagai aspek kehidupan terkait dengan ekonomi, politik, sosial, teologis, filosofi, budaya dan pertahanan keamanan. 

Kearifan lokal ini juga didukung filosofis agama Hindu yang menekankan pada umatnya untuk senantiasa menghargai dan melestarikan tradisi atau kearifan lokal. Pustaka suci Hindu memberikan jaminan bahwa orang yang mengikuti dengan seksama adat-istiadat yang baik akan terbebas dari segala bencana.

Terkait dengan mudik sebagai budaya dan bagian dari kearifan lokal, hal ini dapat diketahui dari sejak kapan budaya mudik ini dimulai di masyarakat. Menurut Irianto (2012), fenomena mudik didahului dengan fenomena masyarakat berpindah (migrasi) dari desa ke kota. Penyebabnya, kota selalu identik dengan peradaban dan kebudayaan, sedangkan kata 'udik' (yang seakar dengan kata 'mudik') merujuk pada desa yang kurang beradab. 

Perbedaan nilai yang menonjol antara desa dan kota ini terletak pada intensitas respons daya-daya manusiawi, di mana kota dipandang memiliki daya tarik, lebih beradab dan berbudaya ketimbang desa. Seakan-akan kota dianggap sebagai ruang ideal bagi manusia.

Namun dengan adanya industrialisasi di perkotaan, muncullah logika akan hilangnya identitas objektif manusia kota atas dirinya. Manusia kota cenderung terkonsentrasi kepada pekerjaannya secara mekanis sehingga muncullah anonimitas. Akibatnya, manusia kota menjadi sosok yang kering-kerontang dan berorientasi pada nilai dan profit.

Karena itu dengan mudik, manusia kota tadi mendapatkan siraman nilai-nilai desa untuk meredakan kegersangan yang dialaminya di kota. Ini tentu saja berpengaruh positif. Karena secar hermeneutis, mudik menjadi penyeimbang nilai-nilai kaum migran. Mudik juga merupakan proses pengembalian diri ke arah kebeningan hati, kedamaian laku dan kepedulian terhadap kemiskinan. 

Modernitas, akan melahirkan keterasingan diri sebagai dampak kapitalisme, dimana pekerja menghadapi raksasa impersonal di lingkungan perkotaan. Hal ini mengakibatkan munculnya ketidakberdayaan, perasaan terpencil dan tidak bermakna pada jiwa manusia modern ketika mereka berada dalam kuasa pemilik modal. Individualisme pun menguat karena di kota, sekumpulan hari adalah waktu untuk bekerja, “I Only Work Here” (Kuntowijoyo, 2006).

Gaya urban

Dapat dibayangkan betapa bahagianya kaum urban ketika mempersiapkan kegiatan mudiknya. Ini tak sekadar bertemu keluarga yang lama tak berjumpa, namun juga mengisi ulang jiwa dan refleksi hidup. Bagi pemudik dari daerah, mudik adalah pesan kemanusiaan untuk mengingat kembali penderitaan warga miskin. Mudik seakan menumbuhkan kembali sense of crisis untuk membentuk harapan korban bencana sehingga kembali menguat dan menemukan optimisme.

Hal ini pula yang dilakukan oleh sebuah komunitas penjaga kerukunan warga dengan mengedepankan toleransi dan pluralisme bernama GooYoobs Indonesia (Ig:@gooyoobsindonesia). Komunitas yang terdiri dari puluhan cabang yang beranggotakan anak-anak muda di seluruh nusantara ini bertugas untuk menjadi guide of crisis dalam melestarikan budaya dan kearifan lokal di Indonesia. Bagi mereka, budaya bisa banyak wujudnya, termasuk budaya mudik. Adalah tanggung jawab mereka untuk tetap bisa mempertahakan budaya mudik namun juga tetap bisa mematuhi peraturan pemerintah.

Pemerintah telah mengeluarkan peraturan larangan mudik bagi seluruh masyarakat karena peningkatan jumlah penderita covid-19. Apalagi dengan ditemukannya varian baru diprediksi jumlah penderitanya akan semakin banyak pascaliburan Idul Fitri 2021. Selama kurun waktu tertentu, hanya beberapa kalangan yang diperbolehkan melakukan perjalanan antar kota. Itupun dengan menunjukkan dokumen resmi persyaratan yang banyak.

Dilansir dari Kompas.com (10/5), hasil tes swab antigen di 381 lokasi penyekatan menyebutkan, dari 6.742 pemudik random testing, terdapat 4.123 kasus positif covid-19. Artinya, mereka membawa sumber penyakit bagi orang tua dan keluarga di daerah asal. Dikhawatirkan, mereka masih akan membawanya juga saat kembali ke ibukota nanti. Akibatnya, kekhawatiran pemerintah pun dapat terbukti, yakni prediksi jumlah penderita positif covid-19 akan meningkat paska liburan Idul Fitri 2021.

Sebetulnya dalam situasi diliputi covid-19 saat ini, mudik yang aman bisa tetap dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Memang, kehadiran secara fisik sangat tidak memungkinkan. Namun di era digital seperti sekarang, kehadiran tidak harus diterjemahkan secara kaku melalui kehadiran fisik. Banyak cara bisa dilakukan untuk menghadirkan diri kita di tengah-tengah keluarga di kampung halaman.

Banyak cara dapat dilakukan; pertama, gunakan aplikasi rapat daring atau media sosial yang saat ini sudah banyak jenisnya. Kedua, menggunakan aplikasi layanan antaran paket atau pemesanan makanan minuman lintas kota. Kini, bukan hal yang sulit jika kita berada di Jakarta ingin memesankan sajian istimewa Lebaran untuk orang tua yang tinggal di Yogyakarta. Ketiga, kita dapat melakukan perjalanan mudik di luar waktu larangan mudik oleh pemerintah. 

BERITA TERKAIT