28 April 2021, 21:00 WIB

Merenungi Semangat Bandung


Frial Ramadhan Supratman, Pustakawan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia | Opini

SEPULUH hari lalu di 1955 para delegasi dari negara Asia Afrika berkumpul di Kota Bandung, Jawa Barat. Kemudian pukul 08.30 mereka berjalan kaki meninggalkan Hotel Homman dan Hotel Preanger menuju Gedung Merdeka untuk menghadiri pembukaan Konferensi Asia Afrika (KAA), salah satu pertemuan paling bersejarah pada abad ke-20. Acara berjalan kaki para pemimpin dan delegasi Asia Afrika itu kemudian dikenal dengan The Bandung Walks. 

Ditemani udara Bandung yang sejuk, para delegasi tersebut mendiskusikan, menganalisis dan mencari solusi bagi masalah pelik yang dihadapi dunia. Takut oleh bayang-bayang Perang Dunia ke-3, para pemimpin Asia Afrika ketika itu menyerukan perdamaian dan tidak mau turut campur dalam persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Buah pikir para pemimpin Asia Afrika kemudian dituangkan dalam Dasasila Bandung yang masih terus dikenang hingga hari ini. 

Semangat Bandung yang dihasilkan pada KAA 1955 merupakan semangat perdamaian. Para pemimpin Asia Afrika yang hadir pada konferensi tersebut nuraninya telah terpanggil untuk menyelesaikan masalah imperialisme dan persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur. Mereka tidak ingin didikte dan dikuasai oleh imperialisme. 

Mereka juga menginginkan perdamaian. Kebanyakan dari para pemimpin Asia Afrika saat itu telah mengecap pahitnya penjajahan dan zaman perang. Sebelum Indonesia merdeka, misalnya, Presiden Sukarno sendiri sudah merasakan dinginnya jeruji besi dan pahitnya pengasingan.

Secara berkala, KAA selalu diperingati dengan gegap gempita. Seruan untuk menggelorakan 'Semangat Bandung' terus dikobarkan. Namun pertanyaan besarnya, bagaimana menjaga api semangat yang dibakar 66 tahun lalu tersebut tetap hidup dan bahkan relevan di abad ke-21?

Jika melihat Asia Afrika hari ini, keadaannya sangat jauh berbeda dengan ketika KAA digelar 66 tahun silam. Hari ini imperialisme Barat sudah hampir lenyap dari bumi. Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), sebagai organisasi internasional yang terpandang, sudah lebih baik dalam menjaga perdamaian dibandingkan pada 1950’an, meskipun hari ini konflik pun masih berkobar di beberapa belahan dunia, seperti Timur Tengah. Selain itu, yang jauh lebih penting, sekarang banyak dari negara-negara peserta KAA 1955 sudah lebih baik keadaannya. Kita bisa tengok bagaimana kemajuan yang terjadi di Tiongkok, India, Arab Saudi, hingga Indonesia.

Hari ini Asia Afrika tidak lagi dipandang sebelah mata. Dalam bukunya yang berjudul The Future is Asian, Parag Khanna menyatakan bahwa “Asia hari ini sedang membangkitkan etos yang mendukung kebesaran pada era awal, yaitu kepercayaan diri pada nilai-nilainya dan keterbukaan terhadap pengetahuan”. Bahkan Khanna menyebut bahwa “kita berada pada fase awal Asianisasi global.” Pendapat Khanna tidak mengejutkan jika kita mengikuti perkembangan Asia hari ini. 

Kemajuan Asia dapat terlihat dari zona ekonomi Asia yang merepresentasikan 50% dari PDB global dan dua per tiga dari pertumbuhan ekonomi global. Sementara itu, diperkirakan antara 2015 dan 2030, pertumbuhan konsumsi kelas menengah mencapai US$30 triliun. Di antara itu, ekonomi Barat hanya menyumbang US$1 triliun saja. Sisanya tentu saja berasal dari Asia. 

Dalam bidang pendidikan juga, misalnya, banyak kampus-kampus dari India, Singapura, Jepang, Tiongkok yang telah menjadi pesaing bagi kampus-kampus ternama Barat. Melihat fakta tersebut, tidak diragukan lagi bahwa Asia sudah beranjak dari masa lalunya. Barat sudah tidak dapat memandang Asia sebelah mata lagi.

Kendati demikian, perkembangan yang pesat dari Asia juga telah memicu adanya kegelisahan dari Barat itu sendiri. Persaingan dan gesekan antara Asia, yang seringkali diwakili oleh Tiongkok, dengan Barat, khususnya Amerika Serikat, telah mengingatkan kita akan bahaya yang dapat mengancam perdamaian. Akhir-akhir ini gelombang anti-Asia yang mengemuka di Eropa dan Amerika Serikat pun merupakan salah satu efek dari kesalahan dalam memahami peradaban. Begitu juga ketegangan di Laut China Selatan antara Tiongkok dan Amerika Serikat adalah masalah yang harus disikapi dengan hati-hati demi tetap menjaga perdamaian regional dan global. 

Melihat hal ini, Semangat Bandung masih sangat relevan untuk ditinjau kembali melalui perspektif abad ke-21. Keinginan para pemimpin dan delegasi Asia Afrika yang berkumpul di Bandung 66 tahun silam adalah semangat perdamaian, bukan keinginan untuk menggelar 'pertandingan' antara satu kekuatan dengan kekuatan lain. Semangat Bandung seharusnya dipahami bukan untuk menunjukkan dan menekankan keunggulan satu bangsa, negara atau peradaban, tetapi untuk menciptakan keamanan yang didasari oeh kolaborasi, kerja sama dan saling memahami antarperadaban.

BERITA TERKAIT