19 April 2021, 05:00 WIB

Kolaborasi atau Mati


Khoiruddin Bashori Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma | Opini

SAAT ini, siswa dengan prestasi tinggi di sekolah, tidak lagi menjadi jaminan kesuksesan karier. Siswa, sebagai calon tenaga kerja terampil masa depan, perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan perubahan cepat di pasar global. Kompetensi dalam apa yang disebut 'keterampilan abad ke-21' seperti kemampuan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan harus dikuasai.

Keterampilan ini termasuk kemampuan memecahkan masalah, berpikir kreatif dan kritis, literasi informasi dan teknologi, kesadaran global, keterampilan komunikasi, dan kemampuan berkolaborasi. Abad 21 ialah era kolaborasi. Aliansi menjadi keniscayaan jika kita ingin berkembang dan menjadi pemenang di tengah persaingan yang sedemikian ketat.

Dalam dunia yang serbaterhubung, kemampuan kolaborasi perlu ditempatkan di urutan teratas. Kolaborasi tidak saja dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga akan membuka peluang-peluang baru di kemudian hari. Tanpa kemampuan ini siapa pun akan berada di pinggir peradaban; menjadi konsumen, bukan produsen. Menjadi penonton kesuksesan orang lain.

Tidak terbayang, bagaimana ojek pangkalan dengan penghasilan yang sangat terbatas, tiba-tiba berubah menjadi bisnis besar dengan omzet fantastis, hanya karena ada orang dengan kemampuan kolaborasi luar biasa mampu menyatukan semua potensi; pemilik kendaraan, penyedia sistem, dan investor. Hal yang sama terjadi pada bisnis bimbingan belajar. Guru les rumahan dengan bayaran ala kadarnya, dengan sentuhan kolaborasi yang mengesankan, dapat disulap menjadi entitas bisnis yang menyejahterakan semua pihak yang terlibat.

 

Kolaborasi dalam tim

Kolaborasi ialah keterlibatan timbal balik peserta dalam upaya terkoordinasi untuk memecahkan masalah bersama. Interaksi kolaboratif ditandai dengan tujuan bersama, struktur yang simetris, tingkat negosiasi, interaktivitas, dan saling ketergantungan yang tinggi. Interaksi yang menghasilkan hubungan yang saling mendukung sangat berharga untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Sebaliknya, umpan balik yang tidak responsif dapat merugikan pembelajaran siswa dalam situasi kolaboratif. Kolaborasi dapat memiliki efek kuat pada pembelajaran siswa, terutama untuk mereka yang berprestasi rendah.

Literatur tentang kerja tim dan pembelajaran kooperatif menawarkan wawasan yang bermanfaat tentang bagaimana cara membantu siswa belajar berkolaborasi. Kerja tim telah lama dianggap penting dalam dunia bisnis dan pelatihan kewirausahaan. Lancellotti dan Boyd (2008) menerangkan manfaat kerja kelompok untuk siswa. Dengan harapan manfaat yang sama dapat di transfer dari pengalaman belajar saat berlatih ke dunia nyata.

Siswa belajar bekerja dengan orang lain dan mengenal berbagai pendekatan dan ide. Kerja kelompok meningkatkan motivasi siswa dan menambah keterampilan dalam komunikasi, kerja sama, dan kepemimpinan. Kerja kelompok juga dapat menyelesaikan proyek yang lebih kompleks dalam jangka waktu lebih pendek. Kerja kelompok dapat menumbuhkan keterampilan berpikir kritis yang lebih besar, mungkin karena siswa dan guru harus mempertimbangkan sudut pandang alternatif selama proses interaksi dalam kelompok.

Lancellotti dan Boyd (2008) juga menyatakan manfaat kesiapan karier dan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi dan belajar tentang kekuatan dan kelemahan mereka sendiri lewat interaksi kelompok. Karena ini, mengurangi tugas individual dan menggantinya dengan tugas atau proyek yang harus diselesaikan dalam kelompok merupakan strategi yang disarankan.

Manakala kolaborasi dan pemikiran kritis tidak dapat tertanam dengan baik dalam proses pembelajaran, maka siswa tidak akan menganggapnya penting. Sudah barang tentu kemampuan bekerja dalam tim bersama dengan orang-orang dari latar belakang yang bervariasi tidak datang begitu saja. Ini ialah perilaku yang dipelajari. Robotika, misalnya, ialah salah satu alat pembelajaran yang kuat untuk dapat mengembangkan keterampilan sosial siswa, kemampuan untuk berkolaborasi dan bekerja secara efektif dalam tim (Carbonaro et al, 2004; Eguchi, 2012; Johnson, 2003).

Masuk akal, siswa dapat secara autentik mengembangkan keterampilan kolaborasi ketika bekerja dalam tim untuk menghasilkan solusi kreatif ketika menyelesaikan tantangan dalam kegiatan pembelajaran. Beberapa penelitian telah dilakukan secara khusus untuk memahami bagaimana siswa bekerja dalam tim dan mengembangkan kemampuan untuk berkolaborasi bersama ketika terlibat dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, hal bijak memberi siswa pengalaman berinteraksi dalam kelompok, baik dalam aktivitas intra atau ekstra kurikuler.

Koneksi interpersonal lebih intens dalam kerja kelompok. Di ruang kelas, perilaku yang menunjukkan siswa terkait secara interpersonal dan saling mendukung satu sama lain terlihat jelas. Bonding tampak ketika siswa saling menunjukkan kepedulian terhadap teman sebaya dalam menyelesaikan tugas bersama. Koneksi interpersonal juga dapat diamati manakala siswa saling memberikan pujian atau penguatan kepada teman yang dapat menyelesaikan tugas yang dibebankan. Saling memuji dan menghargai ialah cara alami untuk memompa motivasi.

Dalam aktivitas kelompok muncul perilaku membantu, peer assistance, dan knowledge sharing. Oleh karena guru memberi kesempatan siswa untuk menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapi kelompok, mereka cenderung berusaha mencari dan mendapatkan bantuan dari rekan-rekannya sendiri. Mungkin saja siswa mengalami kesulitan dan frustrasi dalam memecahkan tugas. Akan tetapi, ini justru akan memberikan stimulasi positif bagi setiap anggota untuk saling berdiskusi, mencoba mendapatkan pengetahuan, saran, dan solusi potensial dari dalam kelompok.

 

Kepemimpinan kolektif

Tradisi kolaborasi hanya dapat ditumbuhkan dalam kepemimpinan kolektif-kolegial. Kepemimpinan kolektif memiliki ciri setiap orang bertanggung jawab atas kesuksesan organisasi secara keseluruhan-bukan hanya untuk pekerjaan atau jabatannya sendiri. Kepemimpinan kolektif mendistribusikan dan mengalokasikan kekuatan kepemimpinan seperti keahlian, kemampuan, dan motivasi ke semua lini organisasi. Dalam konteks sekolah, pimpinan sekolah memikul tanggung jawab utama untuk mengembangkan strategi implementasi kepemimpinan kolektif yang koheren, efektif, dan berwawasan ke depan.

Pimpinan sekolah menciptakan lingkungan yang positif dan mendukung bagi staf, staf kemudian menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan diri siswa, memberikan pelayanan berkualitas tinggi. Dalam budaya kepemimpinan kolektif, semua staf cenderung melakukan upaya penyelesaian masalah untuk memastikan kualitas pelayanan prima dan untuk meningkatkan inovasi yang bertanggung jawab, dalam rangka memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk belajar berkolaborasi.

Kinerja sekolah tidak sekadar ditentukan oleh jumlah atau kualitas kepemimpinan orang perorang. Penelitian menunjukkan manakala hubungan antarpemangku kepentingan sekolah berkembang dengan baik, kepercayaan akan meningkat. Kepercayaan ialah modal utama untuk membangun ekosistem kepemimpinan kolektif yang harmonis, yang pada gilirannya dapat menjadi model baik bagi siswa bagaimana seharusnya bekerja dalam tim. Di sini pilihannya cuma satu, collab or collapse.

BERITA TERKAIT