04 March 2021, 14:00 WIB

Kompetensi dan Komitmen Guru Saat Pandemi


Aziz, Kepala MIN 1 Tanjung Jabung Timur, Jambi, Fasilitator Pembelajaran Tanoto Foundation | Opini

MASA pandemi covid-19 berdampak luas ke semua sektor termasuk dunia pendidikan yang ada di Indonesia. Tidak hanya di kota-kota bahkan sampai ke pelosok daerah pun mengalami hal serupa, seperti di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. 

Adanya wabah virus korona ini pasti kita sadari akan menghambat kegiatan belajar mengajar. Kondisi yang sebelumnya berlangsung secara tatap muka kini harus dilaksanakan di rumah secara jarak jauh. Meskipun demikian, pandemi ini mampu mengakselerasi pendidikan 4.0. Sistem pembelajaran dilakukan jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Dalam bahasa Prof Dr Gerhad Fortwengel, Guru Besar University of Applied Science and Arts, Hannover, Germany and Senior Experten Services (SES) Germany, wabah korona ini justru menjadi katalis hebat yang memacu dunia pendidikan. Seperti mendorong lebih banyak pemanfaatan teknologi informasi dalam aktivitas pembelajaran jarak jauh. 

Kompetensi guru

Belajar dari rumah (BDR) sudah berjalan hampir satu tahun. Selama itu, para murid dari berbagai tingkat pendidikan menjalani belajar dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring), yang diatur di surat edaran (SE) Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali menerbitkan SE Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Dalam surat edaran ini disebutkan tujuan dari pelaksanaan BDR adalah memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat covid-19.

Profesionalisme seorang guru sangat diperlukan dalam bidang pendidikan di masa pandemi karena di tangan merekalah pembelajaran dan hasil belajar siswa dipertaruhkan demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk menjadi guru profesional pada era pandemi ini, mau tidak mau harus mampu bisa menggunakan perangkat elektronik yang terhubung dengan internet. Sehingga bisa tetap melakukan kegiatan belajar mengajar kapanpun dan di manapun. 

Kondisi seperti ini menjadikan guru dan siswa dalam sebuah dilema yang harus dihadapi. Era baru dalam kenormalan yang mengharuskan para guru dan siswa tetap belajar, meski harus tetap di rumah saja. Home schooling atau belajar dari rumah dan menggunakan fasilitas elektronik yang terhubung dengan sambungan internet, menjadi jalan untuk dapat mewujudkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini. 

Berbagai masalah awal yang dihadapi dalam kenormalan baru ini. Antara lain adalah Tidak semua guru memiliki kompetensi yang memadai dalam menjalankan tugasnya untuk melaksanakan pembelajaran dari rumah. Terutama bagi mereka yang sudah berusia lanjut yang belum terbiasa berhubungan dengan internet.
 
Selain itu, kesiapan para siswa dalam menerima pembelajaran dengan menggunakan perangkat canggih juga menjadi hambatan, seperti yang terjadi di madrasah kami. Tidak semua siswa memiliki perangkat canggih yang bisa digunakan untuk menjalankan pembelajaran. Sehingga para guru harus bisa menyiasati bagaimana caranya agar materi bisa disampaikan. Caranya, dengan mendatangi siswa ke rumah masing-masing. Kegiatan ini membuat pekerjaan guru lebih banyak karena harus melakukan pembelajaran dua cara yaitu secara daring dan luring.

Menurut Prof Dr Arief Rachman, M.Pd., Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, selain siswa dan orang tua, guru juga sangat terdampak pandemi. Ada 51 juta siswa dan hampir 3 juta guru yang terdampak pandemi, karena itu pandemi menciptakan suatu tantangan tersendiri.

"Tapi diharapkan, guru tetap menjadi cambuk dan pembina yang memiliki kemampuan luar biasa untuk melakukan pembelajaran jarak jauh," ujar Arief dalam Webinar Peringatan Hari Guru Sedunia gelaran Kemendikbud di kanal Youtube Kemendikbud RI, Kamis (8/10/2020). 

Selain itu juga diungkapkan, kompetensi yang diharapkan dari para guru adalah; pertama, kemampuan berinovasi, memanfaatkan bermacam digital tools, menyelenggarakan kelas online, penerapan kurikulum yang memperkuat model multidisiplin dan kolaboratif dalam belajar mengajar. Kedua, kemampuan menata ulang akuntabilitas, menentukan metode dalam proses assesment

Ketiga, kemampuan menyelenggarakan pendidikan yang membantu siswa berkembang secara akademis, fisik dan psikis. Keempat, kemampuan menyajikan pendidikan dan pengajaran yang merata termasuk bagi yang paling rentan. Kelima, kemampuan komunikasi untuk mensinergikan pandangan dan visi proses pendidikan anak dengan kepala madrasah termasuk orang tua/keluarga. Menuju masa depan dengan membangun sistem dan madrasah yang tangguh pascapandemi. 

Komitmen guru 

Dalam kondisi pendemi saat ini, tantangan guru tidak hanya dituntut menguasai TI. Namun, bagaimana komitmen dalam meramu persiapan dan melaksanakan pembelajaran bisa terlaksana dengan baik. Sehingga pembelajaran baik dalam luring dan daring selama pandemi terlaksana dengan efektif.

Guru berkomitmen dalam memantapkan diri. Secara tidak langsung tiket kesuksesan sebagai seorang guru telah dimiliki. Sukses itu hanya milik orang yang siap dan siaga bukan milik orang yang hanya menunggu bola. Komitmen guru yang terpenting adalah bagiamana melayani siswa dan wali murid dalam melaksanakan pembelajaran dengan penuh kedisplinan, keikhlasan dan tanggung jawab.

Guru yang mampu menjadi inspirasi bagi siswa maupun rekan guru lainnya. Guru menjadi inspirasi bagi siswanya untuk cerdas dalam menghadapi kondisi saat ini. Guru inspiratif bukanlah seorang guru yang hanya sekadar mengejar kurikulum, akan tetapi ia mampu mengajak siswanya berpikir kreatif. Ia juga mengajak siswanya melihat sesuatu dari luar lalu mengubahnya ke dalam lalu membawanya kembali ke luar, yaitu kepada masyarakat luas. 

Dengan membuat berbagai inovasi dan kreativitas yang bervariasi dalam menyiapkan media pembelajaran akan mengurangi kemungkinan merosotnya dunia pendidikan di negara ini. Guru dapat melakukan inovasi seperti membuat video pembelajaran, melakukan via daring, mencari sumber belajar online yang menarik dan lainnya. Komitmen yang tinggi menjadi pegangan guru untuk mewujudkan anak yang cerdas.

Glickman menggambarkan ciri-ciri komitmen guru profesional, antara lain tingginya perhatian terhadap siswa-siswi. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seoarang guru agar murid merasa bahwa dirinya diperhatikan ketika proses belajar berlangsung, antara lain sebagai berikut; pertama, memberikan bimbingan. Salah satu tugas guru adalah membimbing seorang murid. Membimbing berarti mengarahkan siswa-siswi yang mempunyai kemampuan kurang, sedang dan tinggi. Guru harus memahami masing-masing siswa-siswinya dari kondisi fisik dan psikisnya agar mampu melaksanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya.  

Dalam proses bimbingan, guru menyatu dalam jiwa siswa-siswinya. Tidak boleh ada sifat egois atau memaksakan kehendak dengan tujuan agar pengajaran cepat sesuai dengan target waktu. Akan tetapi guru dituntut untuk mengahrgai kemampuan siswa siswinya dengan tidak melupakan batasan waktu.

Kedua, mengadakan komunikasi yang intensif untuk memperoleh infomasi tentang anak didik. Komunikasi dalam segala hal sangat dibutuhkan, apalagi berkaitan dengan aktivitas sebagi guru. Guru yang bijaksana adalah yang peduli terhadap keadaan siswa-siswinya. Perbedaan-perbedaan pada peserta didik hendaknya dijadikan landasan dalam memberikan pengajaran. Oleh karena itu, guru harus selalu menjalin komunikasi intensif dengan orang tua dan masyarakat terkait dengan keadaan keluarga, lingkungan dan pergaulan peserta didiknya. Di sinilah peran guru sebagai pengganti orang tua didalam menyiapkan siswa-siswinya menjadi anggota masyarakat.

Banyaknya tenaga yang dikeluarkan
 
Tugas guru merupakan tugas yang kompleks mulai dari mendidik, mengajar, melatih, membimbing dan sebagainya. Oleh karena itu guru harus memiliki banyak waktu dan tenaga untuk menunaikan kewajiban di antaranya; tidak hanya pendidik di dalam kelas, tetapi juga disela-sela waktu di luar jam mengajar. Guru bisa memberikan pengarahan kepada siswa di luar kelas, jika jam pelajaran telah selesai bukan berarti tugas sebagai pendidik ikut selesai. Guru sebagai penghubung antara sekolah/madrasah, wali murid, dan masyarakat.

Sesuai dengan uraian di atas, bisa dikatakan ciri-ciri komitmen guru yang rendah; kurang peduli masalah-masalah siswa, kurang menyediakan waktu dan tenaga untuk memikirkan masalah yang berhubungan dengan tugasnya, hanya peduli tugas-tugas rutin, kurang peduli tugas-tugas pokok.

Sedangkan ciri-ciri komitmen guru yang tinggi; Punya kepedulian untuk siswa dan rekan sejawat, selalu menyediakan waktu dan tenaga yang cukup untuk membantu siswa, dapat mempedulikan rekan sejawat dan atasan langsung, selalu mempedulikan tugas-tugas pokok.

Di masa pandemi ini guru harus mampu melaksanakan pembelajaran baik secara luring dan daring. Seorang guru yang profesional selalu punya kemampuan mengembangkan dirinya secara kontinyu.

Aziz, Peserta Peningkatan Skill Menulis bagi Tenaga Pengajar Se-Indonesia
 

BERITA TERKAIT