27 February 2021, 04:00 WIB

Tiktok, Instrumen Media Sosial Baru dalam Politik


Irwansyah Kepala Litbang Media Indonesia Dosen Pascasarjana Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia | Opini

TIKTOK adalah platform sosial video pendek yang dipadukan dengan musik. Musik untuk tarian, gaya kreatif, ataupun unjuk bakat, para pengguna didorong untuk berimajinasi sebebas-bebasnya dan meluapkan ekspresi mereka dengan bebas.

Dirancang untuk generasi kekinian, melalui Tiktok, seseorang, kelompok, atau komunitas dapat membuat video pendek yang unik, dengan cepat dan mudah untuk dibagikan dengan teman dan ke seluruh dunia.

Tiktok ialah gudangnya video viral yang cocok untuk masyarakat yang berjiwa muda. Tiktok berusaha untuk memberdayakan lebih banyak pembuat konten kreatif dan berkualitas untuk menjadi bagian dari revolusi konten.

Tiktok memiliki tiga keunggulan. Pertama, kualitas konten yang tajam dan nyata sebagai kolaborasi sempurna antara kecerdasan buatan dan jepretan gambar. Kedua, Tiktok memiliki kemampuan menyempurnakan keunggulan produk melalui sinkronisasi musik, efek spesial, dan teknologi canggih sehingga menjadi studio video kreatif yang menakjubkan di genggaman setiap penggunanya. Ketiga, daftar musik kekinian yang sangat lengkap. Tiktok membawa imajinasi dan kreativitas penggunanya ke tingkat yang lebih tinggi dan memasuki dunia baru yang tak terbatas.

Tiktok yang berpusat di Beijing dikenal Bytedance, telah tumbuh secara dramatis di sebagian besar negara Asia, termasuk Indonesia. Per 26 Februari 2021, Google Play Indonesia mencatat terdapat 9.031.265 pengunduh, sedangkan pada akun resmi Tiktok tiktokofficialindonesia memiliki 3 juta pengikut. Menurut Selular.id, dengan total unduhan 8,5% pada Juli 2020, Indonesia memperkuat posisi sebagai negara pengguna Tiktok terbesar keempat di dunia dengan sekitar 30,7 juta pengguna.

Sekitar 49% remaja mengaku menggunakan platform Tiktok. Tiktok digunakan 2 juta lebih banyak perempuan (8,2 juta) usia 18-24 tahun (diadopsi 14,9%) jika dibandingkan dengan pria (6,1 juta) di Amerika Serikat. Tiktok menjadi sangat populer di antara Gen Z dan milenial.

Menariknya, orangtua juga sudah mulai bergabung dan menggunakan Tiktok selama pandemi covid-19. Tiktok telah mengubah dan menghubungkan orang-orang yang baru kenal di seluruh dunia. Orangtua seperti pengguna @charlesmallet berusia 82 tahun memiliki lebih dari 4 juta pengikut. Akun ini pernah berbagi rasa terima kasihnya untuk Tiktok, dan dampak positif yang dialaminya dalam kehidupannya. Atau seperti pengguna @grandma_droniak berusia 90 tahun, dengan lebih dari 1,5 juta pengikut. Salah satu video lucu dari pakaiannya ditonton lebih dari 20 juta kali.

Bahkan, politikus senior seperti mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad, membuat akun Tiktok untuk berkomunikasi dengan kaum muda (The Star, 5 Agustus 2020), sedangkan di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah membuat akun Tiktok pada Maret 2019, dengan tujuan yang sama (The Jakarta Post, 20 Februari 2020).

Tiktok berpeluang jadi ruang diskusi dan wadah bagi aktivitas politik oleh negara lain di dunia, seperti kasus heboh antara pendukung K-Pop dan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2020. Ratusan remaja pengguna Tiktok dan penggemar K-Pop mengatakan bertanggung jawab sebagian terhadap kegagalan kampanye Donald Trump di BOK Center, Tulsa, Okla (New York Times, 21 Juni 2020).

Pengguna Tiktok dan penggemar grup musik pop Korea mengklaim telah mendaftarkan ratusan ribu tiket potensial untuk kampanye Trump sebagai lelucon (prank). Setelah akun resmi kampanye Trump @TeamTrump mem-posting twit yang meminta pendukung untuk mendaftar tiket gratis menggunakan ponsel mereka pada 11 Juni, akun penggemar K-Pop mulai membagikan informasi dengan pengikut, mendorong mereka untuk mendaftar ke rapat umum, tetapi kemudian tidak muncul.

Kasus yang pernah dialami Trump menunjukkan, bila digunakan secara tepat, Tiktok punya kemampuan sebagai ‘batu loncatan’ bagi aktivitas politik berskala kecil. Terutama ketika berada di negara dengan kebebasan berekspresi yang dibatasi. Media arus utama, seperti media cetak dan daring, juga mulai melirik konten Tiktok sebagai materi berita. Algoritma unik Tiktok yang mendukung konten berdasarkan interaksi, ketertarikan, dan eksplorasi pengguna di aplikasi, membuatnya bisa lebih viral jika dibandingkan dengan media sosial yang lain.

Menurut Nuurrianti Jalli (2021), dengan popularitas Tiktok yang luar biasa di Asia Tenggara, platform tersebut menjadi wadah terkini bagi anak muda, untuk menyuarakan aspirasi politik mereka. Hasil risetnya menemukan keunikan pada algoritma Tiktok yang memungkinkan naiknya jumlah view melalui promosi organik.

Teknik ini membuat Tiktok mampu menjadi alat aktivitas politik yang strategis. Algoritmanya membuat audiensi di luar Asia Tenggara untuk ikut aktif di konten tertentu, melalui berbagai interaksi dan likes melalui for you page (fyp).

Dengan algoritma ini, konten politis yang disebar pengguna Tiktok dapat membuka diskusi komentar, bukan hanya untuk pengguna lokal, melainkan juga bisa sampai ke negara di Eropa dan Amerika Serikat. Misalnya, dengan melihat komentar seperti, ‘Ada apa sih di Thailand?’ atau ‘Ada apa di Indonesia?’, video protes tersebar di Tiktok dan muncul di fyp pengguna. Melalui fyp, pengguna Tiktok mengikuti ‘pola’ unik terkait dengan tren apa yang dilihat dan disukai di Tiktok, pola ini memungkinkan konten politis di Asia Tenggara bisa semakin dilihat lebih banyak oleh pengguna Tiktok di mana pun mereka berada, selama pengguna telah melihat atau menyukai konten serupa sebelumnya.

Studi Jalli (2021) juga memperlihatkan di Indonesia, kaum muda pengguna Tiktok secara strategis memakai media sosial ini untuk menyatakan sikap protes terhadap undang-undang yang kontroversial UU Cipta Kerja. Sebuah video konten yang menunjukkan protes warga di Semarang, Jawa Tengah, viral di Tiktok dengan mengantongi jumlah like sebanyak 1,2 juta dan telah dilihat 8,6 juta kali.

Video tersebut juga sudah mendapat 11.000 komentar dukungan pada aksi tersebut, termasuk dari pengguna Tiktok Malaysia. Konten serupa juga ada di Thailand dan Myanmar. Tiktok membantu para pengunjuk rasa dengan memperkuat aspirasi mereka yang menuntut demokrasi dan mengakhiri kepemimpinan diktator militer.

Studi tentang Tiktok dalam politik memang masih terbatas. Namun, Tiktok memiliki peran dalam memfasilitasi penyebaran konten isu politik serta menyebarkannya ke para pengguna Tiktok global terhadap apa yang sedang terjadi di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, sudah saatnya politisi mulai melirik platform media sosial baru Tiktok ini untuk terlibat dekat dengan generasi pemilih mereka ke depan, sebelum tergerus partisipasi politik, khususnya perempuan dari kaum milenial dan gen Z.

Kemudian, lembaga pemerintah juga sebaiknya mulai mempertimbangkan penggunaan platform Tiktok ini untuk terlibat berkomunikasi interaktif dengan generasi muda saat ini, asal tidak seperti platform media sosial lainnya yang hanya menjadi proses komunikasi asinkronus atau sekadar papan informasi baru yang tidak responsif.

BERITA TERKAIT