22 February 2021, 22:15 WIB

Nafas Baru Masyarakat Via Media Sosial


Wildan Pradistya Putra, Pendidik di Thursina International Islamic Boarding School (IIBS) Malang | Opini

DARI tahun ke tahun pengonsumsi media sosial (medsos) selalu bertambah di Indonesia. Berdasarkan hasil riset Hootsuite dan We Are Social, hingga Januari 2021 Indonesia masuk 10 besar negara pengguna medsos di peringkat 7 dari 47 negara yang dianalisis. 

Pengguna medsos di Indonesia ada sekitar 170 juta. Jumlah pengguna pada 2021 naik sekitar 10 juta atau sekitar 6,3% dibanding 2020 yang hanya 160 juta pengguna. Dengan total penduduk 274,9 juta artinya ada sekitar 62% masyarakat pengonsumsi medsos di Indonesia. 

Berdasarkan riset tersebut juga diketahui pula bahwa rerata waktu penggunaan medsos di Indonesia mencapai 3 jam 14 menit. Bahkan penggunaan waktu itu lebih tinggi dari rata-rata global yang hanya 2 jam 25 menit. Sedangkan rata-rata per bulan penggunaan di Indonesia dengan capaian tertinggi ditempati oleh WhatsApps dengan 30,8 jam, diikuti Facebook dengan 17 jam, Instagram 17 jam, TikTok dengan 13,8 jam, dan Twitter 8,1 jam. Sementara itu YouTube menduduki posisi teratas untuk aplikasi video streaming dengan penggunaan sebesar 25,9 jam per bulan.

Nafas baru

Hasil riset tersebut seakan mengonfirmasi bahwa medsos sudah menjadi nafas baru masyarakat Indonesia. Kenaikan jumlah pengguna di Indonesia besar kemungkinan terjadi karena pandemi yang mengharuskan masyarakat malakukan psysical distancing. Sehingga mengubah pola komunikasi dan diskusi yang biasanya mengharuskan bertatap muka berubah manjadi lewat dunia maya. 

Masyarakat kini sudah sangat terbiasa menggunakan medsos. Namun, penggunaan medsos di masyarakat Indonesia ibarat dua jalan positif dan negatif yang berlawanan. Jalan pertama menuju taman yang indah, sedangkan jalan kedua menuju jurang yang begitu dalam. Pemilih dua jalan tersebut memiliki kesadaran dan karakteristiknya masing-masing. 

Di era teknologi sekarang ini medsos tidak hanya dimanfaatkan sebagai media komunikasi saja. Namun, dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan perekonomian. Hal ini terlihat dari kian menjamurnya pedagang yang berjualan daring dengan memanfaatkan medsos. Bahkan ada beberapa dari mereka yang tidak memerlukan toko luring. Mereka menggunakan medsos sebagai media publikasi untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat. Bahkan, sebagian besar rela mengeluarkan biaya tambahan agar produk yang ditawarkan dapat dilihat secara luas oleh masyarakat, misalnya melalui iklan berbayar di Instagram dan Facebook.
 
Jalan kedua ialah terkait jalan menuju jurang yang begitu dalam. Tidak dapat dipungkiri setiap pengguna medsos memiliki karakternya sendiri. Banyak yang belum bijak menggunakannya, sehingga tidak bisa membedakan informasi yang valid dan hoaks yang beredar. Sebagai contoh, di WhatsApps (WA) seringkali terdapat pesan berantai dari satu grup ke grup yang lainnya. Meskipun tidak ada sumber berita yang valid, banyak warganet tidak mempedulikan itu dan langsung meneruskan ke grup lainnya. Alhasil, informasi yang tanpa diketahui siapa yang bertanggung jawab itu menjamur dan menyebar di masyarakat.
 
Hal ini tentu sangat merugikan karena masyakat Indonesia memiliki tingkat literasi dan pemahaman terhadap informasi yang berbeda-beda. Masyarakat yang memiliki tingkat literasi tinggi akan merespons dengan bijaksana terkait informasi yang ada. Sedangkan yang tingkat literasi rendah akan emosional dan terprovokasi dengan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Bahkan hingga Agustus 2020 Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat sebanyak 1.028 berita hoaks tersebar di berbagai platform medsos. Padahal penyebar berita hoaks berpotensi terkena pidana lewat UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Jadi, semua berpulang kepada jari-jari kita. Jangan sampai kecepatan memencet tombol melebihi kecepatan berpikir.
 

BERITA TERKAIT