22 February 2021, 12:00 WIB

Apa yang Sepatutnya Diperjuangkan dalam Pendidikan?


Suyoto Ketua Koordinator Isu Strategis dan Kebijakan Publik DPP Partai NasDem | Opini

DULU orang belajar mencari pengetahuan, cara, pengalaman, wisdom agar mampu hidup lebih baik. Berbagai sumber belajar diburu di mana pun tempatnya. Pembangunan manusia lewat pendidikan fokus pada bagaimana menciptakan keunggulan pusat pembelajaran. Para pendidik berbakat sangat dihargai, perpustakaan dibuat senyaman dan selengkap mungkin, lab untuk uji coba terus di-update, kelas dan asrama dibangun, termasuk berbagai fasilitas pendukungnya. Belum lama rasanya materi promosi suatu lembaga pendidikan menonjolkan hal-hal seperti ini.

Saat ini semua keunggulan tempat dan fisiknya seperti tidak ada arti, dengan atau tanpa covid 19. Informasi membanjiri calon murid di mana pun jua bahkan sejak bayi. Gedung perkantoran, asrama, kelas, dan perpustakaan megah tidak lagi sepenuhnya diperlukan. Para politisi harus berpikir ulang dalam menyusun kebijakan anggaran. Dulu dinggap pahlawan pada mereka yang berteriak saat ada kelas bocor, sekolah roboh, perpustakaan minim, dan guru kurang. 

Dulu belajar untuk mengisi ruang pekerjaan yang tersedia, kini ruang itu isinya terus berubah. Berbagai jenis bekerjaan lama hilang dan muncul jenis pekerjaan baru. Tantangan terbesar dalam kependudukan bukan hanya menyiapkan anak-anak dapat pekerjaan di usia produktif, namun juga bagaimana mempertahankan orang dewasa di usia produktif tetap dapat bekerja. Bagi negara seperti Indonesia keadaan ini memberi tekanan dua arah, supply dan demand. Dari sisi supply angka kelahiran bayi terus bertambah dan kurang efektifnya pendidikan melahirkan manusia unggul menambah jumlah manusia useless secara ekonomi. Dari sisi demand banyak jenis pekerjaan baru tidak lagi dapat diisi oleh produk pendidikan lama.

Dulu orang dianggap bodoh dan berpotensi tersesat hidup karena tidak memiliki informasi. Kini seseorang bisa tersesat hidupnya, tidak produktif sama sekali, bahkan seperti tidak paham apapun karena kebanjiran informasi. Pertanyaan mendasar dalam dunia pendidikan berubah menjadi bagaimana membantu seluruh manusia, tentu juga anak-anak dapat hidup mandiri, memiliki keunggulan dan kearifan ekologis sehingga menjadi bagian dari proses menciptakan better business and better world. Manusia tidak hanya bersaing dengan sesamanya namun juga bersaing ketat dengan artificial intellegent dan robot. Bekejar-kejaran dengan kecepatan kerusakan lingkungan yang siap melindasnya.

Pendidikan harus mampu menyiapkan manusia adaptif dengan segala situasi baru dan proaktif menciptakan perbaikan hidup. Inilah beberapa hal utama yang mendesak mendapatkan perhatian:

1. Memastikan bahwa hasil pembelajaran itu termasuk kemampuan untuk belajar terus menerus, seumur hidup.

2. Belajar bukan hanya untuk sukses tapi juga kesanggupan menghadapi kegagalan.

3. Belajar yang menghasilkan peta berpikir dan road map hidup yang keduanya dapat disempurnakan sepanjang waktu lewat interaksi produktif. Peta inilah yang akan menyelamatkan dari banjir informasi dan mengarahkan kebermaknaan hidup seseorang. Mengolah data menjadi informasi, pengetahuan, guidance, dan wisdom.

4. Belajar yang memastikan seseorang kelak dapat mengubah kesadarannya menjadi tekad dan karya untuk kebaikan kehidupan bersama.

Siapa yang harus bertanggungjawab atas tantangan ini: pendidik, orangtua, masyarakat, dan politisi. Mari berhenti sejenak menimang semua yang sedang dikerjakan, mempertanyakan kembali asumsi, mental model, dan semua paradigma yang tengah dianut. Bahkan pertanyakan apa saja yang sedang diperjuangkan. Berikan kemerdekaan diri, ujilah dengan tantangan baru ini, ucapkan selamat datang kepada semua inisiatif yang relevan, termasuk ruang Merdeka Belajar Kemendiknas. Mari menjadi bagian transformasi kehidupan lewat dunia pendidikan! Memperjuangkan masa depan bersama yang lebih baik. Menang memperjuangkan hal mendasar ini jauh lebih berat daripada memperjuangkan sarana fisik pembelajaran, termasuk adanya sinyal memadai!

BERITA TERKAIT