19 February 2021, 06:05 WIB

Mengarungi Pendidikan di Masa Pandemi


Anggi Afriansyah, Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI | Opini

ZHU dan Liu (2020) dalam Education in and After Covid-19: Immediate Responses and Long-Term Visions memberi catatan mengenai pendidikan di situasi saat ini berdasarkan pengalaman Tiongkok dalam menghadapi situasi pandemi. Zhu dan Liu (2020) berpendapat, mendekati akhir pandemi covid-19 di Tiongkok, terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan.

Keduanya mencatat poin penting yang dapat dijadikan perhatian oleh pembuat kebijakan di negeri ini. Pertama, perlu melanjutkan pengembangan platform pendidikan terbuka yang memungkinkan akses ke sumber belajar yang berkualitas tinggi. Kedua, perlu dilakukan penelitian kuantitatif dan kualitatif untuk mengevaluasi model pengajaran dan pembelajaran daring yang dilakukan dan fokus pada keberlanjutan jangka panjangnya.

Ketiga, perlu mengembangkan kapasitas  guru dan kapasitas staf pendukung untuk sistem pembelajaran daring. Keempat,  perlu didorong kerja sama antara perguruan tinggi, organisasi internasional, sektor swasta, masyarakat sipil, dan pemangku kepentingan lain untuk mempromosikan pembelajaran daring berkualitas tinggi ke seluruh masyarakat.

Catatan itu disampaikan dalam konteks pendidikan tinggi. Namun demikian, relevan untuk diterapkan di pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Perlu ada redefinisi dari proses pendidikan yang sedang atau akan dilakukan. Dunia pendidikan memerlukan transformasi, adaptasi, kolaborasi, perencanaan berbasis data, dan berbagai inovasi baru. Meski dalam konteks Indonesia, konteks disparitas akses perlu menjadi catatan utama. Jika orientasi, kebijakan, dan praktik pendidikan di Indonesia tidak berubah, akan lebih banyak anak yang tertinggal dalam proses pembelajaran, utamanya bagi kelompok ekonomi miskin.

Bergantung pada teknologi

Di saat sekolah ditutup dan belajar masih dilakukan di rumah pemanfaatan berbagai teknologi kemudian dilakukan. Teknologi muncul sebagai solusi. Kondisi itu, mau tidak mau harus dilakukan, hanya pada beberapa kasus kemudian ketimpangan semakin terlihat. Sebab, kemampuan setiap sekolah demikian juga dengan orangtua yang sangat bervariasi. Dunia pendidikan harus memanfaatkan berbagai teknologi agar tidak tertinggal. Mekanisme pembelajaran bagi siswa, pelatihan-pelatihan bagi guru, pertemuan guru dengan orangtua siswa dilakukan melalui tatap muka via layar.

Pemerintah juga bergerak melalui berbagai kebijakan di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk mengatasi problem pendidikan di masa pandemi. Bantuan pulsa, laman belajar.kemdikbud.go.id, dan belajar.id. Modul pembelajaran dapat diakses melalui laman belajar kemdikbud.go.id. Pun melalui belajar.id dapat diakses puluhan aplikasi pembelajaran. Namun, kemudian siapakah yang dapat mengakses ketiga hal itu? Tentu mereka yang memiliki akses kepada TIK secara memadai. Sementara itu, sekolah dan keluarga yang memiliki keterbatasan akses harus sabar menunggu, entah sampai kapan.

Prasyarat utama keberhasilan pendidikan yang mengedepankan teknologi ialah akses yang merata di seluruh wilayah Indonesia. Hal itu sulit untuk dipenuhi dalam waktu cepat sehingga dalam berbagai pemberitaan di berbagai tempat strategi lain ditempuh guru agar pembelajaran tetap berlangsung, seperti melalui guru kunjung ataupun pembelajaran berbasis komunitas. Semuanya dilakukan untuk mengatasi hambatan keterbatasan TIK.

Kritik kepada pengarusutamaan penggunaan teknologi yang disampaikan oleh Teras dkk. (2020) dalam Post-Covid-19 Education and Education Technology ‘Solutionism’: a Seller’s Market. Dalam paper disampaikan bahwa pandemi menghasilkan dorongan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk pembelajaran daring.

Oleh karena itu, pandemi covid-19 telah menciptakan pasar penjual di bidang ed-tech. Mereka mengkritisi ketika pembelajaran digital yang cenderung komersial dijadikan solusi. Kritik itu dilancarkan karena yang terjadi bukan praktik pedagogis yang mendukung anak-anak mendapatkan pembelajaran yang memadai. Namun, pemanfaatan data pengguna untuk menghasilkan keuntungan. Kondisi itu tentu patut diperhitungkan oleh pemangku kepentingan yang bergerak di dunia pendidikan. Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen dari berbagai produk edukasi digital.

Isu-isu lain

Selain fokus pada pendidikan yang berbasis TIK, terdapat berbagai isu yang perlu menjadi perhatian. Misal, jika merujuk Laporan UNICEF Europe and Central Asia (2020) bertajuk Building Resilient Education Systems beyond the Covid-19 Pandemic: Considerations for education decision-makers at national, local and school levels disampaikan bahwa krisis covid-19 telah meningkatkan ke­kerasan dalam rumah tangga dan kekerasan berbasis gender, yang secara tidak proporsional memengaruhi anak perempuan dan perempuan.

Laporan ini juga menunjukkan keluarga, orangtua, dan komunitas mencerminkan berbagai realitas dan bukan kelompok yang homogen. Rumah tangga dengan orangtua tunggal atau orangtua muda, misalnya, memiliki kebutuhan khusus dan memerlukan dukungan dan pendampingan.

Laporan itu juga merekomendasikan agar terdapat upaya nasional dan lokal untuk mendukung transformasi sekolah yang fokus pada dua aspek penting. Pertama, mengubah pedagogi dengan mengembangkan kurikulum dan praktik pengajaran yang lebih inklusif dan fleksibel, yang menanggapi kebutuhan individu setiap anak. Kedua, mengubah etos, struktur, dan organisasi sekolah sehingga lebih inklusif, perduli, respek, dan adanya dukungan holistik yang menjadi inti dari misi dan praktik sekolah. Kolaborasi dari berbagai pihak tentu saja menjadi kunci utama.

Belajar dari laporan itu, pemerintah pusat dan pemda harus memiliki ragam kebijakan lebih fleksibel dan berpihak kelompok yang paling rentan, seperti keluarga miskin ataupun mereka yang berada di wilayah yang tidak terakses berbagai perangkat telekomunikasi, informasi, dan komunikasi (TIK).

Di level yang paling mikro, di ruang pendidikan, catatan dari Toto Rahardjo (2020) pendiri Sanggar Anak Alam (Salam) perlu diperhatikan secara saksama. Pertama, siswa memegang kemudi pendidikan dirinya, dalam kerangka fleksibel agar mudah untuk beradaptasi.

Kedua, guru mulai bergerak menuju pemeranan di belakang layar dan menjadi figur yang memberdayakan. Ketiga, pendidikan yang didorong oleh rasa ingin tahu ialah metode yang meletakkan pembelajar di kursi kemudi. Keempat, memungkinkan mereka memiliki kontrol tujuan dan proses belajarnya sehingga tumbuh kemampuan merancang dan menetapkan tujuan dan menarik apa saja menjadi sumber daya belajar yang diperlukan.

Tentu saja, apa yang disampaikan Rahardjo itu bukan perkara mudah di level implementasi. Apalagi, menurutnya, di situasi pandemi ini, meski sudah posisi belajar di rumah, pusat kendali belajar tetap ada di sekolah. Di sisi lain, variasi kapasitas orangtua sangat mempengaruhi bagaimana kegiatan pembelajaran di lakukan.

Dengan memperhatikan berbagai catatan itu, perlu ada pendidikan yang responsif terhadap berbagai situasi aktual dan disparitas, yang ada di negeri ini. Mengarungi masa pandemi jelas tidak mudah. Oleh sebab itu, beragam pola baru dan juga inisiasi perlu dilakukan agar anak-anak menjadi tetap mendapatkan haknya di bidang pendidikan.

BERITA TERKAIT