27 January 2021, 05:10 WIB

Ekonomi Digital Pascavaksin Covid-19


Rahma Sugihartati Dosen Masyarakat Digital Program S-3 Ilmu Sosial FISIP Universitas Airlangga | Opini

KETIKA pemberian vaksin covid-19 mulai digulirkan, optimisme dan harapan baru pun kembali merekah. Sejak pertengahan Januari 2021, vaksin covid-19 mulai didistribusikan ke berbagai daerah. Aktivitas perekonomian, yang selama setahun terakhir meredup, diharapkan mulai bangkit kembali. Vaksin covid-9 menjadi prasyarat bagi upaya revitalisasi aktivitas perekonomian.

Selama pandemi covid-19, aktivitas perkonomian boleh dikata seperti mati suri. Tidak sedikit pelaku ekonomi yang kolaps gara-gara imbas efek domino covid-19. Pelajaran terpenting selama pandemi covid-19, ialah, bagaimana terus berinovasi agar dapat tetap survive. Tanpa kreativitas, jangan harap aktivitas perekonomian mampu berkelit dari penurunan daya beli masyarakat.

Dengan penyebaran vaksin covid-19, memang optimisme akan menguat. Kondisi pasar yang semula lesu, bisa dipastikan akan menggeliat. Kegalauan masyarakat soal ketidakpastian situasi kini telah terjawab. Cuma, masalahnya, aktivitas perekonomian seperti apakah yang bakal bertahan dan berkembang setelah vaksin covid-19 diedarkan? Pelajaran apakah yang bisa dipetik selama pandemi covid-19 bagi para pelaku ekonomi di Tanah Air?

MI/Seno

Ilustrasi MI

 

Sejumlah faktor

Di balik semua efek negatif yang timbul selama pandemi covid-19, sebetulnya ada juga pelajaran berharga yang bisa dipetik. Kita bisa melihat, selama pandemi covid-19, masyarakat tidak hanya makin terbiasa menggunakan gawai dan internet, tetapi, juga makin piawai memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung kelangsungan usahanya. Di era revolusi industri 4.0, peran ekonomi digital menjadi makin penting dan strategis.

Pelaku ekonomi di semua level, yang tidak memanfaatkan perangkat digital untuk pemasaran umumnya kolaps. Hanya yang memanfaatkan teknologi informasi dan internet yang mampu bertahan, bahkan makin berkembang. Sebaliknya, pelaku ekonomi yang gagap dalam penggunaan teknologi informasi, mereka umumnya dengan cepat kalah bersaing. Digitalisasi perekonomian memperoleh momentum yang luar biasa untuk berkembang selama pandemi covid-19 berlangsung.

Ketika diberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan mobilitas sosial masyarakat dibatasi, mau tidak mau pelaku ekonomi harus mencari cara baru untuk bertahan. Pada saat kontak fisik dibatasi, dan masyarakat diharapkan WFH, pemanfaatan teknologi informasi dan internet menjadi sebuah keniscayaan.

Sejumlah faktor yang melatarbelakangi perkembangan perekonomian digital ialah, pertama, tidak hanya bermanfaat untuk mengeliminasi kontak fisik, pemanfaatan teknologi informasi dan internet ternyata juga terbukti efektif bagi proses produksi dan pemasaran. Transformasi digital yang berlangsung di berbagai kegiatan usaha terbukti bermanfaat menjadikan aktivitas perekonomian menjadi lebih efisien dan efektif.

Para pelaku ekonomi berskala kecil, yang sebelumnya dibayang-bayangi keterbatasan modal untuk mendongkrak pemasaran, kini tidak lagi terjadi. Sepanjang mereka mampu memanfaatkan teknologi digital, pasar yang bisa dijangkau pun menjadi tanpa batas. Kehadiran dan pemanfaatan teknologi digital memungkinkan pelaku ekonomi menjual produknya tanpa dibatasi ruang geografis melalui jaringan e-commerce dan pasar virtual.

Kedua, adalah makin meluasnya penggunaan gawai di masyarakat. Di era digital seperti sekarang, masyarakat makin familiar menggunakan gadget untuk berinteraksi, maupun untuk mendukung aktivitas konsumsi. Tidak hanya membeli barang sekunder dan tersier, bahkan untuk barang primer pun kini bisa dilakukan secara daring.

Mulai dari bakul mlijo, pedagang pasar, toko kelontong dan lain-lain, kini semua bisa diakses melalui gadget. Penjualan mobile devices seperti handphone, iPad, laptop, dan lain-lain, yang terus meningkat, menjadikan masyarakat dan pelaku ekonomi dapat meningkatkan intensitas interaksi. Nyaris tidak ada barang dan jasa kebutuhan masyarakat yang tidak bisa diakses melalui gadget dan internet.

Ketiga, dukungan pemerintah melalui keputusan Bank Indonesia yang mempermudah transaksi daring melalui fasilitas QRIS. Masyarakat di era digital tidak lagi menggunakan uang tunai. Dengan fasilitas pembayaran nontunai dengan memanfaatkan aplikasi di smartphone atau QR Code, masyarakat kini dengan mudah bisa membayar apa pun produk yang mereka butuhkan.

Tawaran diskon khusus dan kemudahan mekanisme pembayaran yang ditawarkan melalui QRIS, membuat perekonomian digital seolah mendapatkan siraman pupuk untuk makin berkembang.

 

Meritokratis

Setelah pemberian vaksin covid-19 ke masyarakat dilaksanakan, perkembangan perekonomian digital bisa dipastikan akan makin massif. Belajar dari pengalaman selama pandemi covid-19, digitalisasi dan pemanfaatan internet tidak lagi terhindarkan.

Di Indonesia, kontribusi ekonomi digital terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat telah mencapai 3,5% (2019). Di tahun 2021, bisa dipastikan kontribusi ekonomi digital akan meningkat cukup pesat. Namun, yang menjadi masalah, apakah perkembangan ekonomi digital ini akan berdampak pada pemerataan kesejahteraan masyarakat, ataukah malah meningkatkan polarisasi sosial-ekonomi masyarakat?

Pertanyaan di atas perlu dikaji secara saksama. Karena, menyampirkan harapan pada perekonomian digital mungkin fungsional mendongrak produksi, dan memperluas pangsa pasar. Tetapi, ketika di masyarakat masih terjadi digital divide (kesenjangan digital), bukan tidak mungkin hasilnya akan menjadi kebijakan yang meritokratis. Kebijakan meritokratis, adalah kebijakan yang sepintas tampak adil. Namun, hasil akhirnya malah melahirkan disparitas yang makin lebar karena ketidaksamaan basis sosial masyarakat.

Digitalisasi memang membuat aktivitas perekonomian menjadi lebih efisien dan produktif. Namun, perlu dipahami bahwa untuk memastikan agar perkembangan perekonomian pascavaksinasi covid-19 tidak makin terpolarisasi. Yang dibutuhkan adalah kesiapan dan perbaikan kualitas sumber daya manusia.

Pengenalan dan penggunaan teknologi digital, perlu dipersiapkan sejak dini. Tidak hanya bagi siswa, pengembangan ekosistem masyarakat yang siap beradaptasi terhadap digitalisasi perekonomian, perlu pula disosialisasikan kepada pelaku UMKM, masyarakat marginal, dan masyarakat dari golongan menengah ke bawah secara praktis.

BERITA TERKAIT