14 January 2021, 03:00 WIB

Hijau, Warna Kerja Sama Ekonomi Pascapandemi


Francesca Manenti Analis Senior Centre for International Studies (Cesi/Centro Studi Internazionali) Italia | Opini

DI tahun penuh ketidakpastian seperti 2020, energi terbarukan (renewable energy) telah terbukti sebagai sumber daya ekonomi paling tangguh di antara sumber daya lainnya. Meskipun kebijakan karantina wilayah (lockdown) telah menurunkan konsumsi bahan bakar fosil secara global (batu bara -8%, minyak -5%, gas -2%), penggunaan energi hijau (green energy) menunjukkan peningkatan dan tidak begitu terpengaruh oleh ditutupnya sektor industri dan transportasi.

 

 

 

 

 

 

 

Peningkatan

Menurut laporan yang dirilis Badan Energi Internasional (IEA) pada November 2020, peningkatan energi terbarukan secara keseluruhan akan mencapai 1%, berkat penggunaannya untuk menghasilkan listrik. Khususnya tenaga surya, angin, pembangkit listrik tenaga air, yang menyumbang hampir 90%, dari peningkatan total kapasitas daya pada 2020.

Namun, seperti yang disampaikan IEA, energi terbarukan mampu menghadapi krisis akibat covid-19. Tetapi, mereka tidak dapat menanggung ketidakpastian politik yang diperlukan untuk menciptakan insentif dan kerangka kerja untuk mempercepat pengembangan dari energi ini.

Menurut laporan New Energy Outlook of Bloomberg (2019), pada 2050 permintaan energi akan meningkat sebesar 62%, dan hampir setengah dari konsumsi energi planet ini akan menggunakan tenaga surya dan angin. Hal ini dapat terjadi berkat berkembangnya teknologi baru pada sistem penyimpanan, manajemen jaringan, dan produksi.

Apabila energi terbarukan memang merupakan masa depan kita, penggunaan dari energi terbarukan akan bergantung pada kemampuan suatu negara dan komunitas internasional dalam pencapaian kemungkinan terbaik yang terjadi di masa depan.

Energi terbarukan telah menjadi isu penting dalam perdebatan internasional. Uni Eropa (EU) memainkan perannya, dengan menjadi salah satu pendukung paling vokal dari Perjanjian Paris (Paris Agreement) dan menetapkan target iklim dan energi yang spesifik di bawah Governance of the Energy Union and Climate Action, yang berupaya mendorong negara-negara anggota mereka untuk mengurangi setidaknya 55% emisi gas rumah kaca (dari standar pada 1990) serta mencapai setidaknya 32% bagian untuk energi terbarukan dan meningkatkan efisiensi energi sebesar 32,5%.

Dengan didorong Kesepakatan Hijau Eropa (European Green Deal), Uni Eropa bertekad untuk melawan perubahan iklim dan degradasi lingkungan sehingga dapat menjadi benua netral iklim pertama, dengan dekarbonisasi, investasi dalam teknologi, inovasi ramah lingkungan, dan efisiensi energi menjadi pendorong utama pembangunan sosioekonominya.

Di antara negara Uni Eropa, Italia merupakan pemain utama dalam pembangunan energi terbarukan. Untuk mencegah dampak negatif dari produksi listrik yang dihasilkan dari sumber daya hijau, akibat kebijakan lockdown atau kebijakan lain untuk melawan pandemi, pemerintah Italia baru-baru ini menyetujui insentif untuk mempertahankan dan meringankan efisiensi proyek energi hijau, termasuk kendaraan listrik.

Pada 2019, investasi pada energi terbarukan nilainya mencapai 5,4 miliar euro, dengan 49% di antaranya dialokasikan untuk tenaga surya dan 32% lainnya untuk tenaga angin yang sebagian besar didedikasikan untuk realisasi proyek infrastruktur baru.

Dalam hal ini, pendekatan Italia mengarah ke penerapan upaya komprehensif di tingkat sistem negara, untuk mengintegrasikan regulasi pemerintah dengan aktivitas komunitas bisnis dan kebutuhan masyarakat.

Studi kasus infrastruktur jaringan listrik merupakan contoh keberhasilan Italia dalam bidang energi hijau. Tantangan-tantangan baru dari transisi energi dan tujuan lain untuk pengurangan yang ditetapkan Uni Eropa telah mendorong model-model baru untuk produksi listrik, yang memungkinkan tidak hanya pemain besar, tetapi juga UKM untuk berproduksi dengan mekanisme ramah lingkungan.

Pada 2016, Italia menempati peringkat kedua di Eropa, dan keenam di dunia, dalam kemampuan menghasilkan daya dari energi terbarukan. Selain itu, Italia merupakan salah satu negara paling hijau dalam efisiensi jaringan listrik. Investasi dalam jaringan listrik cerdas, teknologi inovasi hijau, dan digitalisasi kini dianggap sebagai pendorong paling kuat untuk membawa Italia ke level berikutnya.

 

Peran komunitas bisnis

Energi terbarukan di Italia juga didorong peran komunitas bisnis, yang menaruh perhatian dan berinvestasi di sektor tersebut. Hal ini menjadi penting karena sinergi dibutuhkan untuk mencapai tujuan dari transisi energi yang berkelanjutan, yang mempertimbangkan aspek perlindungan dan pengelolaan terhadap lingkungan hidup, daur ulang limbah, dan circular economy.

Selain sumber energi terbarukan yang paling tradisional, Italia berkontribusi pada pembangunan teknologi untuk memanfaatkan energi dari sektor kelautan.

Potensi kelautan yang dimiliki Italia memberikan gambaran penting terkait dengan masa depan energi terbarukan di negara tersebut. Perusahaan Italia, UKM, start-up, dan pusat penelitian berkolaborasi dalam menciptakan teknologi baru untuk menggunakan gelombang, arus, pasang surut, dan meningkatkan tenaga surya serta angin di lepas pantai.

Perhatian Italia terkait dengan pengembangan energi hijau tidak sepenuhnya hanya berada dalam ruang lingkup domestik. Sebaliknya, peluang kerja sama terkait energi hijau sangat terbuka lebar khususnya yang terkait dengan energi terbarukan, baik secara bilateral, regional, maupun multilateral.

Italia merupakan negara terbesar kedua di Eropa dalam produksi tenaga listrik dan hal tersebut didukung sektor swasta di negara itu, yang memiliki keahlian di bidang teknologi hijau dan efisiensi energi. Berdasarkan hal tersebut, Italia dapat menjadi mitra strategis ASEAN dalam mendukung anggota mereka untuk mencapai tujuan terkait dengan peningkatan penggunaan energi hijau dan pembangunan yang berkelanjutan.

Secara lebih spesifik, dalam konteks bilateral, Italia dan Indonesia yang juga merupakan anggota dari G-20, dapat bekerja sama lebih intensif lagi untuk mendorong energi hijau, dan perlu ada kesinambungan di antara kedua negara. Khususnya, dalam konteks G-20 Troika. Italia akan menjadi Presiden/Ketua G-20 pada 2021 dan setahun kemudian, Indonesia akan menjadi Presiden G-20 pada 2022. Harapannya, penggunaan energi hijau akan menjadi tren global ke depannya dan juga sebagai warna baru kerja sama ekonomi pascapandemi.

BERITA TERKAIT