03 January 2021, 23:55 WIB

Manajemen Stres di Dunia Pendidikan


Diah Ayu Candraningrum, Dosen Komunikasi Digital Fikom Universitas Tarumanagara, Mahasiswa Doktoral Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UI  |

MASA pembelajaran daring (online learning) atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) telah mencapai 10 bulan sejak diberlakukan April 2020. Banyak sekali kisah negatif yang melingkupinya. Salah satunya soal gangguan kesehatan mental dan stres pada pelajar dan mahasiswa, yang harus menjalani kegiatan belajar secara daring dalam proses tersebut. Bayangkan, para pelajar dan mahasiswa yang dalam kondisi normal biasanya saling bertemu dan berinteraksi di dalam dan di luar kelas, kini hampir setahun lamanya hanya bisa melakukan video call atau chatting di kediaman masing-masing. 

Dampak dari karantina ini membuat mereka terpisah secara emosional dari teman serta menurunnya kinerja dan waktu belajar. Salah satu contoh, pandemi covid-19 membawa dampak nyata terhadap mahasiswa fakultas kedokteran yang harus melakukan PJJ. Menurut penelitian M Czeisler dan kawan-kawan tentang dampak karantina pada kesehatan mental dan perilaku belajar mahasiswa kedokteran (mental health, substance use, and suicidal ideation during the covid-19 pandemic) di Amerika Serikat, 24-30 Juni 2020, ditemukan sebanyak 23,5% mahasiswa kedokteran merasa depresi dan putus asa (Media Indonesia, 2020).

Ada juga beberapa contoh kasus lain yang lebih ekstrim. Oktober lalu terjadi kasus bunuh diri siswa SMP di Tarakan, Kalimantan Timur, akibat stres karena banyak tugas dari sekolah daring yang dijalaninya (suara.com, 2020). Masih di bulan yang sama, terjadi kasus bunuh diri yang dilakukan siswa SMA berusia 16 tahun di Gowa, Sulawesi Selatan. Ironisnya, korban merekam aksi bunuh dirinya saat menenggak racun dan mengatakan bahwa dirinya mengalami depresi dengan beban tugas daring dari sekolahnya (Tribunnews.com, 2020). Tak hanya siswanya, stres juga melanda orang tua dan keluarga siswa yang bersekolah daring. Pada Agustus lalu, terjadi pembunuhan anak berusia 8 tahun yang dilakukan oleh ibu kandungnya karena kesal lantaran korban susah diajar saat belajar daring (Kompas.com, 2020). 

Dari gambaran di atas, sepertinya covid-19 telah meningkatkan kecemasan banyak siswa dan mahasiswa yang menjalani kegiatan belajar daring. Bahkan para ahli memperingatkan bahwa sebagian kecil orang bisa mengalami masalah kesehatan mental yang berkepanjangan, lebih lama dari pandemi itu sendiri. Apakah benar separah itu kegiatan belajar daring hingga tidak ditemukan efek positifnya bagi siswa/siswi maupun mahasiswa? Penulis mencoba membuat perbandingan antara efek positif dan negatif dari kegiatan pembelajaran daring selama masa pandemi ini. 

Adaptasi

Dari hasil publikasi yang diterbitkan oleh Joint Research Centre (JRC) dari layanan Sains dan Ilmu Pengetahuan Komisi Uni Eropa akhir 2020 tentang sistem pembelajaran daring di seluruh kawasan Uni Eropa, diketahui bahwa peralihan dari pembelajaran luring ke daring yang disebabkan karena covid-19, berdampak negatif bagi anak di sekolah dasar dan menengah pertama. Hal ini disebabkan mereka masih memiliki kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru. Peralihan tersebut juga dikhawatirkan dapat memperburuk ketimpangan pendidikan yang ada. 

Bagi siswa yang datang dari kalangan bawah, kemungkinan besar akan tertinggal selama periode darurat ini. Yang masuk dalam kelompok ini adalah mereka yang cenderung tidak memiliki akses ke sumber daya digital pembelajaran yang relevan (seperti laptop, komputer, koneksi internet) dan cenderung tidak memiliki lingkungan belajar di rumah yang sesuai (seperti ruang belajar khusus, meja belajar pribadi). Sedangkan kelompok yang sedikit lebih beruntung adalah kelompok siswa yang berasal dari keluarga yang lebih makmur, orang tua yang cenderung dapat bekerja dari rumah dan juga memiliki kemampuan membayar biaya kuliah atau sekolah daring dengan lancar. Anak-anak dari orang tua tunggal atau keluarga besar serta siswa berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas juga cenderung menderita karena peralihan ini. Karena itu, dibutuhkan teknologi yang bisa membantu serta disesuaikan dengan lingkungan belajar yang baru ini.
    
Dalam laporan ini, disimpulkan bahwa penutupan sekolah fisik dan pelaksanaan pendidikan jarak jauh memiliki efek merugikan pada pembelajaran siswa melalui empat saluran utama. Keempatnya adalah (1) Kurangnya waktu belajar; (2) Stres yang meningkat; (3) Perubahan pada cara interaksi siswa; dan (4) Berkurangnya motivasi belajar. 

Laporan ini juga membahas mengenai adanya kesenjangan pembelajaran dari sisi latar belakang sosio-ekonomi siswa. Kesenjangan tersebut antara lain; (1) Tidak ada dukungan keuangan dari orang tua (akan berpengaruh pada kemampuan kognitif, kemampuan non kognitif dan waktu yang dihabiskan bersama anak di rumah); (2) Sumber daya keuangan orang tua (akan berpengaruh pada kesiapan digital di rumah, ukuran luas dan situasi rumah yang mendukung, kecukupan gizi dan keleluasaan dalam melakukan kegiatan pembelajaran); (3) Kehadiran di sekolah daring (dipengaruhi oleh faktor kesiapan sumber daya digital dan kemampuan digital para guru); dan (4) Kemampuan digital siswa.   
  
Sistem pembelajaran

Jika para peneliti dari Uni Eropa menganggap kegiatan belajar daring kurang bermanfaat bagi siswa/siswi peserta pendidikan dasar, tidak demikian halnya dengan peserta pendidikan tinggi. Menurut Vishal Dineshkumar Soni dalam publikasi ilmiahnya berjudul Global Impact of E-learning during COVID 19 yang terbit di SSRN Journal dipublikasikan pada 18 Juni 2020, dijelaskan bahwa kegiatan pembelajaran daring telah membuka kesempatan bagi para pengajar untuk memanfaatkan platform e-learning untuk menyebarkan pendidikan kepada siswanya. 

E-learning sendiri mengacu pada sistem pembelajaran yang dilakukan melalui media elektronik. Dengan platform ini, guru dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan ketrampilan belajarnya melalui cara-cara yang inovatif. Hal ini dapat diartikan, konsep e-learning telah berhasil membawa perubahan besar dalam metode pengajaran dan pembelajaran tradisional. 

Banyak perusahaan besar seperti Google, Microsoft, Zoom dan Slack juga telah menawarkan fitur produk mereka yang dapat bermanfaat di bidang pendidikan secara gratis kepada lembaga pendidikan. Diketahui pengguna Microsoft Teams pada 10 Maret 2020 tercatat 750 orang. Namun pada 24 Maret 2020, jumlah user-nya meningkat signifikan hingga 138 ribu orang (OECD, 2020) dalam Soni (2020). Zoom juga telah menaikkan batas waktu panggilan video di Italia, Jepang, Amerika Serikat dan Tiongkok berdasarkan permintaan (Molla, 2020) dalam Soni (2020). Dunia juga masih menuntut lebih banyak akses ke fasilitas komunikasi Zoom dan Google Meet. Dapat disimpulkan, dengan penyebaran virus covid-19 saat ini, telah terjadi transisi global di bidang akademis lewat perubahan metode pengajaran dan pembelajaran daring dengan menggunakan berbagai platform teknologi. 

Manfaat dari kegiatan belajar daring pun disampaikan oleh Director of Studies Yayasan Pendidikan Mulia Bakti (YPMP) Kristina. Menurutnya, terdapat 3 manfaat belajar daring, antara lain; (1) Sistem belajar daring dapat menjaga perilaku anak tetap disiplin dan teratur, karena ada kegiatan rutin yang tetap dilakukan di rumah, dari mulai belajar daring hingga mengerjakan tugas; (2) Kegiatan belajar di rumah dapat menjaga perkembangan otak anak serta tetap produktif menciptakan akar-akar di sel otak; dan (3) Belajar daring mampu membuat anak dan orang tua semakin dekat karena orang tua yang paling bisa membantu anak saat belajar di rumah (Tribunnews, 2020).

Jika kegiatan belajar daring memiliki sisi positif dan negatif, yang menarik untuk ditanyakan adalah sejauh mana siswa/siswi dan mahasiswa paham bahwa dirinya stres? Hal ini menarik untuk dikaji, karena ketika ditanyakan kepada sekelompok siswa SMA, mereka justru mempertanyakan konsep stres itu sendiri. Dalam sebuah webinar, penulis berkesempatan berdiskusi dengan siswa/siswi kelas X SMA Strada St Thomas Aquino di Pabuaran, Kota Tangerang. Banyak pertanyaan yang muncul dari peserta, di antaranya; (1) Bagaimana cara mengatasi stres karena diri sendiri? (Stres yang berakar dari diri sendiri), (2) Bagaimana saya bisa tahu saya mengalami stres atau tidak? Ciri-ciri orang yang mengalami stres seperti apa?, (3) Apa bedanya berfikir negatif dan berfikir realistis?, (4) Kalau merasa tidak ingin ngobrol dengan orang atau merasa marah seharian, apakah itu tergolong stres?, (5)  Bagaimana cara menaruh target tinggi tetapi tetap tidak stres untuk mencapainya?

Jika menilik pada jenis pertanyaan yang diajukan, tampaknya cukup mewakili kegalauan anak-anak muda ini terhadap stres. Menurut dokter spesialis kejiwaan dari Divisi Psikiater Anak dan Remaja Departemen Psikiatri FKUI/RSCM Tjhin Wiguna, definisi stres sendiri merupakan kemampuan beradaptasi dalam sebuah kondisi. Jika seseorang dapat beradaptasi, artinya dia bisa mengelola stres dengan baik. Namun jika kesulitan beradaptasi, akan memicu gangguan jiwa yang jenisnya bervariasi. Jadi, stres bukan merupakan gangguan jiwa, seperti yang dimaksudkan banyak orang (Kompas.com, 2014).
 
Jadi dalam kondisi apapun, tingkat stres dalam diri akan meningkat atau jauh berkurang, sangat tergantung pada kemampuan diri sebagai pengatur pikiran, baik dalam kondisi sadar maupun alam bawah sadar. Hal ini tertuang dalam teori psikoanalisis yang dipopulerkan oleh Sigmund Freud, seorang psikolog dan filosof terkenal yang pernah meraih Goethe Prize. 

Manusia, menurut Freud, dipandang sebagai realitas alamiah materialistik yang memiliki daya psiko-fisik yang bersumber dari dorongan libido seksualitas, yang berpusat dalam jiwa yang tak sadar. Dengan asumsi seperti itu, manusia yang sehat adalah manusia yang mekanisme psikisnya berjalan secara harmonis. Sebaliknya, manusia yang sakit adalah manusia yang dalam dirinya terdapat konflik- konflik internal, seperti gejala neurosis atau fobia. 

Dalam teorinya itu Freud menjelaskan secara detail struktur kejiwaan manusia yang terdiri dari; id (das es), ego (das ich), dan superego (das uber ich). Id merupakan sumber energi psikis yang berwujud aneka insting manusia, di mana paling dominan adalah insting seksual dan agresifitas. Kedua insting itu berprinsip pada tuntutan pleasure yaitu rasa puas, kenikmatan dan kesenangan. Ego adalah sub sistem kepribadian yang menghubungkan subyek atau person dengan lingkungan sosialnya di luar. 

Sedangkan superego adalah suatu konsep tentang aparat psikis yang merupakan hasil internalisasi nilai-nilai dari orang tua pada diri anak yang berupa sanksi dan ganjaran terhadap satu perilaku tertentu. Dianalogikan bila lapar, id membayangkan makanan, sedangkan ego dapat membedakan khayalan dengan realita atau objektif dan superego bereaksi dengan proses sekunder dan mencari objek yang tepat. 

Teori psikoanalitik tentang kepribadian menyatakan bahwa dalam setiap individu terdapat kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan (id, ego, dan superego) yang menyebabkan konflik internal. Asumsi penting dari psikoanalisis adalah bahwa masalah yang dialami seseorang pada saat ini, tidak dapat dipecahkan dengan baik tanpa memahami sepenuhnya alam bawah sadarnya dalam hubungan awal dengan keluarganya. Tujuan psikoanalisis adalah mengangkat konflik (emosi dan motif yang direpresi) kepada kesadaran sehingga dapat ditangani dengan cara yang lebih rasional dan realistik (Nurhayati, 2016). 

Dari fenomena dan kajian di atas, bagaimana manajemen stres yang baik supaya siswa/siswi lancar dalam mengikuti kegiatan belajar daring? Jawabannya singkat, yakni dengan cara menjaga supaya mekanisme psikisnya berjalan harmonis. Caranya, dengan melakukan kegiatan yang disukai (berkebun, melukis, memasak, dll), mengubah jadwal rutinitas, batasi kegiatan yang dapat memicu stres dan jangan lupa berolahraga. Semoga kita semua bisa hidup sehat tanpa stres di masa datang.

BERITA TERKAIT